
Jakarta, SatukanIndonesia.Com – Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menilai bahwa partai politik yang tergabung dalam koalisi untuk menghadapi pemilu presiden tahun 2019 yang terbentuk pada menit-menit terakhir rentan tidak solid. Hal tersebut, kata Airlangga, merupakan salah satu pelajaran penting dari pengalaman Golkar selama ini dalam proses pembentukan koalisi.
“Berdasarkan pengalaman Partai Golkar itu, kami sudah mengikuti dan pembentukan koalisi di menit-menit terakhir itu tidak diikuti dengan soliditas daripada koalisi itu sendiri,” kata Airlangga dalam acara Talks XYZ+ agency bertajuk “Airlangga Melalui KIB: Game Changer 2022” secara virtual, Senin, 10 Oktober 2022.
Efek koalisi pada menit terakhir, menurutnya, membuat kerja-kerja koalisi tidak akan optimal. Karena itu, para senior Partai Golkar meminta Golkar agar membentuk koalisi lebih awal sehingga Golkar bersama PAN dan PPP berhasil membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). “Berdasarkan pengalaman mulai dari Pemilu 2004, 2009, 2014, yang terakhir 2019, Golkar dalam pandangan dengan para tokoh senior Golkar itu meminta agar persiapan itu lebih awal,” ujarnya. Menurut Airlangga, persiapan lebih awal tersebut mencakup banyak hal mulai dari visi-misi hingga kerja sama antara partai dalam koalisi, bukan banyak di level DPP saja, tetapi juga di daerah baik itu tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Maka, dia menekankan, koalisi memerlukan sebuah mekanisme tersendiri dan membutuhkan kegiatan bersama, dan dengan kegiatan bersama itu nanti akan terlihat kerja sama yang baik antara partai politik, katanya.
Sejauh ini, sudah terbentuk dua koalisi Pilpres 2024, yakni KIB bentuk Golkar, PAN dan PPP serta koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) bentukan Gerinda dan PKB.
Sementara Nasdem sudah melakukan komunikasi intensif dengan Partai Demokrat dan PKS untuk membentuk koalisi Pilpres 2024. PDIP, berdasarkan aturan, sudah memiliki tiket tersendiri untuk mengusung capres-cawapres di Pilpres 2024 tanpa harus berkoalisi.
(VIVA.co.id)













