
Jakarta, satukanindonesia.com – Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, mendesak kepolisian untuk segera menangkap dan menindak pelaku dugaan penculikan, penyekapan, dan penyiksaan berinisial TH terhadap seorang perempuan di Bandung, Jawa Barat, secara tegas.
Adapun kasus tersebut menjadi perhatian publik setelah terungkap bahwa korban yang berinisial YTR diduga mengalami penyekapan disertai dengan berbagai bentuk kekerasan selama bertahun-tahun, dan saat ini korban masih menjalani perawatan intensif akibat luka berat yang dideritanya.
“TH harus dijerat dengan pasal berlapis mulai dari penyekapan, penganiayaan berat, hingga tindak pidana lain yang terbukti dalam proses penyidikan. Penegakan hukum harus dilakukan secara maksimal agar memberikan keadilan bagi korban dan efek jera bagi pelaku,” kata Abdullah, dalam keterangan persnya, Senin, 22 Juni 2026
Ia meminta aparat penegak hukum untuk mengusut kasus tersebut secara menyeluruh. Terlebih, setelah kasus itu mencuat ke publik, muncul sejumlah pengakuan dari perempuan lain yang mengaku pernah menjadi korban pelaku.
Sehingga penyidik perlu menelusuri kemungkinan adanya korban-korban lain serta bentuk tindak pidana yang mungkin dilakukan pelaku selama ini. Langkah itu dinilai penting untuk memastikan seluruh kejahatan yang terjadi dapat terungkap.
Selain itu, pihak juga menyoroti kemungkinan adanya praktik coercive control atau kontrol koersif yang menjadi awal dari rangkaian kekerasan terhadap korban. Pola ini umumnya dilakukan secara bertahap hingga korban kehilangan kemandirian dan kebebasannya.
“Pelaku biasanya memulai dengan mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya, mengawasi komunikasi secara berlebihan, melakukan intimidasi, ancaman, kekerasan fisik, hingga menciptakan ketergantungan ekonomi,” ungkapnya.
Terakhir, Abdullah memperingatkan para perempuan untuk lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat. Ia menilai keterlibatan keluarga menjadi faktor penting untuk mencegah korban terjebak lebih jauh dalam lingkaran kekerasan.
“Kasus ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak selalu diawali dengan pemukulan, tetapi sering kali dimulai dari kontrol yang berlebihan, isolasi sosial, dan manipulasi psikologis,” katanya.(***)













