
Sorong, SATUKANINDONESIA.Com – Sebagai upaya untuk mitigasi pengidap kanker rahim pada kaum hawa, Kementeria Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit melaksanakan Advokasi Perluasan Implementasi Deteksi Dini Kanker Leher Rahim di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya.
Dalam sambutan Kementerian Kesehatan yang dibacakan dr. Aneke Thresia Kapoh,M.Epid, dikatakan Kanker leher rahim masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.
Menurut data (GLOBOCAN tahun 2022, secara global diperkirakan 662.301 kasus baru kanker serviks terdiagnosis dan 348.874 kematian dicatat di seluruh dunia, tingginya kasus ini menegaskan bahwa kanker serviks masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar di tingkat global dan menuntut aksi preventif yang sistematis.
Lebih lanjut dipaparkan dr, Aneke Thresia Kapoh, M.Epid., alumni Universitas Indonesia itu, di Indonesia berdasarkan data GLOBOCAN 2022, memperlihatkan kanker leher rahim tetap menjadi salah satu penyebab kanker terbanyak pada Perempuan, diperkirakan terdapat 36.964 kasus baru kanker serviks pada tahun 2022, sehingga menjadikannya urutan kedua penyebab kasus kanker pada perempuan setelah kanker payudara dan termasuk penyebab utama kematian terkait kanker di kelompok Perempuan.
Hal ini, lanjut Aneke menunjukkan beban penyakit yang nyata di negeri kita dan mendesak perlunya perluasan cakupan skrining serta layanan tindak lanjut.
WHO sejak 2021 merekomendasikan deteksi HPV berbasis DNA sebagai metode skrining pilihan utama karena sensitivitasnya yang lebih tinggi dibandingkan sitologi (Pap smear).
Lebih jauh lagi, studi-studi klinis dan evaluasi program di berbagai negara mendukung keunggulan skrining berbasis HPV DNA.
Uji klinis acak berskala populasi HPV FOCAL Trial di Kanada menunjukkan bahwa skrining primer dengan HPV DNA mendeteksi lebih banyak lesi prakanker dibanding skrining sitologi, dan pada follow-up jangka menengah menghasilkan penurunan insiden lesi berat yang menunjukkan bahwa deteksi dini dengan HPV DNA benar-benar dapat mengurangi kejadian prakanker yang berisiko berkembang menjadi kanker invasif.
Evaluasi pelaksanaan di negara berpenduduk besar juga memperlihatkan bahwa penggunaan testing HPV memberikan deteksi lesi pra-kanker yang jauh lebih tinggi (dalam beberapa program dilaporkan 2–3 kali lipat) dibanding metode sitologi atau inspeksi visual, sehingga lebih efektif pada skala populasi.
Rekomendasi ini merupakan bagian dari strategi global menuju eliminasi kanker serviks yaitu vaksinasi, skrining, dan pengobatan lesi prakanker yang efektif. Pemerintah telah menetapkan target nasional untuk mempercepat eliminasi kanker leher rahim, selaras dengan strategi global WHO “90-70-90”. Oleh karena itu, pelaksanaan skrining HPV DNA secara luas di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi komponen sangat penting untuk mencapai target 70% perempuan usia 30–69 tahun mendapatkan skrining minimal satu kali dalam hidupnya.
Dalam paparan yang disampaikan Aneke itu, kanker leher rahim adalah jenis kanker yang dapat dicegah dan dapat dideteksi secara dini sebelum sel-sel kanker berkembang ke tahap lanjut.
“Sejatinya, kanker leher rahim adalah jenis kanker yang dapat dicegah dan dapat dideteksi secara dini. Deteksi dini menjadi kunci untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian, karena intervensi medis terbukti jauh lebih efektif bila dilakukan sebelum sel-sel kanker berkembang ke tahap lanjut,” tutur Aneke alumni FK USU itu.
Karena itu, lanjut Aneke, pemerintah terus mendorong transformasi layanan primer melalui pemanfaatan teknologi skrining yang lebih sensitif, yakni metode HPV DNA.
Metode ini mampu mendeteksi keberadaan Human Papilloma virus berisiko tinggi penyebab utama kanker leher Rahim dengan tingkat akurasi yang lebih baik.
Virus HPV ini jika menetap terlalu lama di leher Rahim dapat membuat sel-sel di leher rahim berubah secara perlahan. Perubahan ini tidak terasa dan tidak menimbulkan gejala apa pun, tetapi dalam waktu 10 hingga 15 tahun bisa berkembang menjadi kanker
Adapun tantangan yang dihadapi dalam melakukan deteksi dini kanker rahim pada alat vital kaum hawa itu, menurut Aneke berdarah Manado itu adalah tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah yaitu masih ada anggapan bahwa pemeriksaan serviks menakutkan, memalukan, atau hanya dilakukan saat ada keluhan.
Padahal, justru skrining harus dilakukan ketika perempuan sedang sehat. Selain itu masih adanya hambatan akses, terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan. Kegiatan CKG adalah solusi yang luar biasa, namun keberlanjutannya membutuhkan dukungan, tenaga, dan logistik yang konsisten.
Ia mengisahkan, tantangan lainnya ada pada sistem rujukan yaitu bahwa Perempuan yang hasilnya positif HPV risiko tinggi harus segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan, sementara di beberapa daerah fasilitas penunjang masih terbatas.
“Hal tersebut memerlukan koordinasi dan penguatan jejaring layanan sehingga edukasi sangat diperlukan untuk kita memastikan bahwa setiap perempuan memahami bahwa HPV adalah virus umum, tidak terkait stigma moral, dan infeksi ini bisa menimpa siapa saja. Penghapusan stigma ini penting agar perempuan tidak takut atau malu mengikuti skrining”, katanya.
Salah satu upaya dalam menghadapi tantangan tersebut saat ini adalah melakukan Integrasi layanan CKG yang merupakan langkah transformasional dalam upaya deteksi dini kanker leher Rahim.
Dalam konteks layanan CKG, pemeriksaan HPV DNA menjadi semakin relevan karena dapat dilaksanakan secara lebih dekat dengan masyarakat, dijangkau oleh perempuan yang selama ini memiliki keterbatasan akses, dan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
Model pelayanan ini terbukti meningkatkan cakupan skrining, mempercepat penemuan dini, dan memperkuat kesadaran perempuan tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi.
Diakhir sambutan yang disampaikan Aneke itu, sebagai bagian dari upaya pencegahan pengidap kanker rahim bagi kaum wanita, Kementerian Kesehatan menitik beratkan pada upaya vaksinasi generasi muda, skrining berkualitas, dan pengobatan tepat waktu adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan keluarga dan kekuatan bangsa
“Upaya pencegahan melalui vaksinasi generasi muda, skrining berkualitas, dan pengobatan tepat waktu adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan keluarga dan kekuatan bangsa”, tuturnya.
Sementara respon Pemerintah Kabupaten Sorong terhadap program Kementerian Kesehatan tersebut, Diilansir dari Diskominfo Kabupaten Sorong, dengan Ragline ”Langkah Nyata Lindungi Perempuan: Pemkab Sorong Hadiri Advokasi Deteksi Dini Kanker Leher Rahim”, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong menyambut baik dan bertekad untuk melanjutkan kampanye deteksi dini kamker rahim bagi seleuruh elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Sorong.
”Kesehatan perempuan menjadi prioritas dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Sorong (11/03). Dalam kegiatan ini, diperkenalkan metode terbaru yaitu Self-Sampling. Metode ini menjadi terobosan penting karena memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para perempuan untuk melakukan deteksi dini secara mandiri namun tetap akurat”, demikian unggahan dalam Instagram Dinas Kesehatan Kabuaten Sorong.
Kepala Dinas Kesehatan mewakili Bupati Sorong menegaskan dukungan penuh terhadap program ini. Dengan deteksi dini yang lebih mudah dijangkau, diharapkan angka risiko kanker leher rahim di Kabupaten Sorong dapat ditekan melalui penanganan yang lebih cepat dan tepat.
“Mari bersama-sama tingkatkan kesadaran akan kesehatan diri. Pencegahan sejak dini adalah kunci masa depan yang lebih sehat bagi perempuan Indonesia,” kata dr. Ronney Christiaan Nelson Kadis Kesehatan Kabupaten Sorong (***/Redaksi)













