Surabaya,

SatukanIndonesia.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur meningkatkan langkah antisipasi terhadap potensi bencana di berbagai kawasan wisata menjelang libur Lebaran Idul Fitri 2026. Upaya ini dilakukan untuk menjamin keselamatan wisatawan yang diperkirakan akan memadati destinasi wisata selama masa libur panjang.
Langkah pengamanan ini juga berkaitan dengan prediksi tingginya arus mudik ke Jawa Timur. Diperkirakan sekitar 24,9 juta orang akan datang ke provinsi ini selama periode mudik dan libur Lebaran.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengatakan langkah mitigasi tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam rapat lintas sektor yang dipimpin oleh Listyo Sigit Prabowo dan diikuti seluruh pemerintah provinsi serta kabupaten/kota secara virtual beberapa waktu lalu.
Menurut Emil, pengamanan perlu dipersiapkan sejak dini agar pengawasan dapat difokuskan pada kawasan wisata, baik wisata alam maupun wisata buatan. Kedua jenis destinasi ini dinilai memiliki karakteristik risiko yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan mitigasi yang spesifik dari pemerintah daerah maupun pengelola wisata.
Pada destinasi wisata alam, perhatian utama difokuskan pada potensi bencana yang dipicu oleh kondisi cuaca. Dengan situasi cuaca yang cenderung dinamis, pengelola wisata diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan longsor di kawasan perbukitan serta gelombang tinggi di destinasi pantai.
“Wisata alam memiliki risiko tersendiri. Dengan kondisi cuaca seperti sekarang, kita harus memitigasi kemungkinan longsor di lokasi tertentu, termasuk memastikan kondisi ombak di kawasan pantai benar-benar aman sebelum dibuka untuk wisatawan,” ujar Emil, Rabu (11/3/2026).
Selain itu, pengawasan juga diperketat pada destinasi wisata buatan, khususnya yang memiliki wahana permainan atau aktivitas di ketinggian. Hal ini menjadi perhatian setelah adanya kejadian angin kencang yang sempat menimbulkan korban ketika seorang pekerja berada di area dengan ketinggian.
Emil menegaskan, para pengelola wisata diminta aktif memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Jika terdapat peringatan potensi angin kencang, aktivitas pekerjaan maupun operasional wahana yang melibatkan ketinggian sebaiknya dihentikan sementara demi keselamatan.
“Apabila ada potensi angin kencang seperti yang diperkirakan terjadi beberapa hari ke depan, pekerjaan atau wahana di ketinggian sebaiknya dihentikan sementara. Karena angin bisa datang sangat cepat, dari kondisi tenang menjadi berbahaya,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan cuaca ekstrem sering kali terjadi dalam waktu singkat sehingga pengelola wisata memiliki waktu terbatas untuk melakukan penyesuaian jika kondisi berbahaya muncul secara tiba-tiba. Karena itu, langkah pencegahan dinilai jauh lebih penting dibandingkan penanganan setelah kejadian.
Selain faktor keselamatan di dalam kawasan wisata, Pemprov Jatim juga memberi perhatian terhadap akses menuju destinasi wisata. Hal ini berkaitan dengan potensi lonjakan kendaraan selama periode mudik dan libur Lebaran.
Pengaturan jalur transportasi, penyediaan rute alternatif, serta koordinasi lintas instansi menjadi bagian dari strategi pengamanan untuk memastikan kelancaran mobilitas wisatawan.
Dengan berbagai langkah mitigasi tersebut, Pemprov Jawa Timur berharap aktivitas pariwisata selama libur Lebaran dapat berjalan aman, tertib, dan memberikan pengalaman yang nyaman bagi masyarakat.
“Langkah antisipasi ini kita lakukan agar masyarakat bisa mudik dan berwisata bersama keluarga dengan rasa aman, nyaman, dan meninggalkan kesan yang baik,” pungkas Emil (Hiz)













