
Surabaya, satukanindonesia.com – Jelang pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) 29-30 Agustus 2025 mendatang Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas dr. Soetomo (LUKW Unitomo) menghadirkan diskusi bertajuk pers dan demokrasi. Acara yang dikemas dalam pertemuan Pra UKW secara daring (27/8) ini menghadirkan jurnalis senior Dhimam Abror Djuraid.
Dalam paparan pemantik diskusinya, salah satu Wakil Direktur LUKW Unitomo ini menyatakan bahwa media merupakan pilar keempat demokrasi. Dengan menyitir Trias Politica John Locke, selain legislatif, eksekutif dan yudikatif, pers atau media menjadi pilar keempat sebagai penyeimbang dalam demokrasi.
“Dalam negara demokrasi yang menganut Trias Politica seperti Indonesia, pers atau media dianggap sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Sebagaimana dinyatakan dalam UU Pers, Media memiliki peran sebagai media informasi, hiburan, edukasi dan kontrol sosial. Agar semua fungsi pemerintahan berjalan dengan baik, tentu pers memiliki perang signifikan untuk mengontrol ketiganya. Di manakah pers berpihak ? Pers harus berpihak kepada kepentingan masyarakat, “ Ungkapnya.
Pada bagian lain Dhimam juga menstimulasi calon peserta UKW dengan dinamika lapangan saat ini. Beberapa hal yang menjadi topik adalah kemandirian media di tengah himpitan ekonomi terutama ketergantungan kepada iklan pemerintah, pertarungan dengan media sosial, trend media saat ini dan beberapa hal lainnya.
Dalam diskusi, secara aktif setidaknya 10 peserta turut berpartisipasi memberikan tanggapan maupun pertanyaan seputar dinamika media dan demokrasi. Mereka merupakan peserta UKW Muda, Madya dan Utama. Peserta ini rata-rata berasal dari media daring yang ada di beberapa di Indonesia. Diantaranya Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, NTB dan yahg lainnya. Tampak hadir dalam Pra UKW ini Pemimpin Umum satukanindonesia.com Maruli Tua Silaban dan juga Kabiro Jawa Timur Immanuel Yosua.
Yang menarik, beberapa dinamika media dan demokrasi menjadi topik diskusi. Independensi media menjadi topik yang cukup hangat dibahas. Hubungan antara ketergantungan iklan dan sikap kritis dan kecenderungan copy paste rilis dalam pemuatan media. Hal yal yang juga cukup seru adalah keberadaan media sosial pemerintah dan juga penggunaan influenser oleh instansi pemerintah.
Di materi kedua yang dibagikan Dhimam mengingatkan pentingnya UKW. Melalui materi bertajuk Mengapa Harus Uji Kompetensi Wartawan, Ia menyatakan tujuan standar kompetensi. Diantaranya meningkatkan kualitas profesionalisme, menjaga harkat dan martabat wartaman dan acuan evaluasi kinerja wartawan. Selain itu, juga dapat memberikan nilai lebih kepada wartawan agar dapatnberkontribusi di tengah industri media dan konvergensinya.
Tak kalah pentingnya, dalam materi yang disampaikannya, Dhimam melihat standar kompetensi bertujuan menghindari penyalahgunaan profesi wartawan dan juga memberikan bekal kepada jurnalis untuk aktif menegakkan kebebasan pers untuk kepentingan public. Kedua hal ini menurut Dhimam menjadi dinamika lapangan saat ini.
Terkait dengan UKW yang dilaksanakan, dalam paparan materinya, Dhimam juga ditegaskan oleh Yuli selaku moderator, terdapat 3 kategori kompetensi dari UKW yang digelar oleh lembaga sertifikasi profesi wartawan milik Universitas dr. Soetomo Surabaya ini. Ketiga hal tersebut adalah awareness (kesadaran), pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill). (Yosua)













