
Jakarta, SatukanIndnesia.com – Melihat berbagai masalah yang terjadi di Tanah Air mulai dari kebebasan beragama hingga masalah kerusakan lingkungan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menguatkan kolaborasi dengan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) untuk bersama-sama mengatasi masalah bangsa yang terjadi.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sepakat menginisiasi kerja sama strategis untuk menjawab persoalan kebangsaan, termasuk diskriminasi pendirian rumah ibadah dan krisis lingkungan di Sumatera.
“Kami diskusi secara hangat tentang berbagai hal yang memerlukan kerja sama antara PBNU dan HKBP untuk mengupayakan jalan keluar dari masalah-masalah yang ada dan dalam waktu segera kami akan segera diskusikan satu upaya untuk membuat kesepakatan kerja sama antara Nahdlatul Ulama dengan HKBP,” kata Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (18/6).
Poin-Poin Kesepakatan:
1. Perjanjian Resmi: Kedua pihak segera membahas draf perjanjian kerja sama formal antara NU dan HKBP. “Insya Allah… kami akan segera diskusikan upaya membuat kesepakatan kerja sama,” tegas Gus Yahya.
2. Agama sebagai Solusi: Gus Yahya menekankan peran agama harus menjadi bagian dari solusi masalah bangsa, bukan sumber konflik. Ia menyoroti isu diskriminasi rumah ibadah dan konflik sosial berbasis agama yang masih kerap terjadi.
3. Fokus Isu Nasional: Kerja sama akan menjangkau masalah nasional seperti kesulitan pembangunan rumah ibadah, krisis lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
4. Isu Lingkungan Prioritas: Victor Tinambunan secara khusus mengangkat kerusakan lingkungan di Sumatera akibat operasi PT Toba Pulp Lestari (TPL) di Tapanuli. “HKBP menyerukan untuk menutup PT TPL,” tegasnya, menyebut perusahaan itu menyebabkan pencemaran berat Danau Toba (situs warisan dunia UNESCO) dan kerusakan ekosistem Tanah Batak yang lebih besar daripada manfaatnya.
5. Komitmen Bersama: HKBP menyatakan kesiapan penuh mendukung agenda kolaboratif dengan NU demi menjaga kerukunan umat beragama dan kelestarian lingkungan.
Pertemuan ini menandai langkah konkret dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia (NU mewakili masyarakat Muslim, HKBP mewakili masyarakat Kristen Protestan, khususnya Batak) untuk bersama-sama mengatasi tantangan kebangsaan melalui pendekatan dialog dan kolaborasi lintas iman. (***)













