
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP tiba-tiba menyerang Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dengan cara membandingkan kinerjanya dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Terkait serangan yang tiba-tiba itu, Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai, masih ada luka lama PDIP saat SBY berkuasa selama 10 tahun dulu. Itu masih membekas, kemudian muncul kembali. Baca Juga: La Nyalla Tegaskan DPD Bisa Ajukan Pasangan Capres dan Cawapres dari Unsur Non-parpol
“Ini soal luka lama, dulu mungkin PDIP pernah dikerjain oleh Demokrat yang pernah berkuasa 10 tahun. Membekas di dia, muncul kembali,” kata Ujang kepada wartawan, Kamis (28/10/2021).
Kemudian sambung Ujang, PDIP ingin membuktikan, kinerja pemerintahan hari ini baik, sekaligus untuk mendegradasi atau mendelegitimasi keberhasilan di zaman SBY. Kinerja pemerintahan hari ini bagus, karena PDIP menjadi partai pemenang dan berada dalam pucuk kekuasaan.
“Gitu, jadi ingin mengatakan hari ini pemerintahnya bagus dibandingkan dengan SBY, untuk mendegradasi dan mendelegitimasi,” ujarnya.
Namun menurut Ujang, apa yang disampaikan Sekjen PDIP ini subjektif, karena dia merupakan bagian dari kekuasaan. Semestinya rakyat yang menyampaikan kritiknya. Baca Juga: Rocky Gerung Kritik Yaqut: Baru Seumur Jagung, Potensi Di-reshuffle

“Jadi apa yang dilakukan Hasto menurut saya subjektif, kenapa? Mestinya dilakukan oleh rakyat, bukan dilakukan oleh dia, karena dia adalah bagian dari partai penguasa,” jelas Ujang.
Selain itu dia menambahkan, kinerja pemerintah juga selama ini sedang disorot, sehingga biasanya isu lain dilempar ke publik untuk mengalihkan isu-isu yang negatif yang berkaitan dengan kinerja pemerintah.
“Ada cara-cara pemerintah untuk meng-counter isu dengan cara-cara mengeluarkan isu yang lain, udah ada itu satu-dua siap dilempar, salah satunya itu,” pungkasnya.(Nal/SI)













