
SatukanIndonesia.com – Dalam upacara peringatan 100 tahun Perang Dunia I yang dilaksanakan di Paris, Minggu (11/11/18), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengajak seluruh tokoh yang hadir untuk membangun harapan.
Acara tahunan yang disebut Armistice Day ini diikuti sekitar 70 tokoh dari berbagai negara termasuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, PM Inggris Theresa May, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
“Mari kita bangun harapan dibandingkan bermain dengan rasa takut terhadap satu sama lain,” kata Macron dalam pidatonya yang berlangsung selama sekitar 20 menit di dekat sebuah kuburan prajurit tidak dikenal.
Tanggal 11 November ini diperingati sebagai momen ketika seluruh kawasan Eropa menjadi sunyi dari bunyi letusan senjata yang mewarnai PD I yang berlangsung sekitar tiga tahun.
Dipimpin Macron, para pemimpin global berjalan dari Istana Champs Elysses menuju Tugu Kemenangan atau Arc de Triomphe, yang menjadi lokasi acara. Trump dan Putin tiba agak belakangan dalam rombongan bermotor.
“Jejak dari perang ini tidak akan pernah terhapuskan. Baik itu di Prancis, atau di Eropa atau di Timur Tengah atau di seluruh dunia,” kata Macron melanjutkan.
Macron menambahkan,”Mari kita mengingat ini. Mari kita tidak melupakan. Karena memori akan pengorbanan mereka membuat kita layak untuk mengenang mereka yang bertempur dan tewas agar kita bisa menjadi bebas. Mari kita mengingat ini.”
Macron juga meminta semua yang hadir dan warga dunia untuk tidak meninggalkan prinsip, ide dan semangat patriotisme dari para pahlawan, yang telah tewas bertempur.
Acara ini juga diisi dengan pembacaan testimoni para tentara pada 11 November 1918 saat gencatan senjata disepakati. Isi pesan itu adalah peringatan kepada masyarakat mengenai bahaya dari semangat nasionalisme berlebihan.
PD I ini meletus pada 1914 ketika seorang remaja Serbia Bosnia Gravrilo Princip membunuh Archduke Franz Ferdinand merupakan pewaris tahta kerajaan Austria-Hungaria. Ini memantik terjadinya konflik yang kemudian digambarkan sebagai perang dari segala perang.
Fakta Menarik Seputar Perang Dunia I

Pemicu Perang
Perang Dunia I dipicu penembakan Archduke Franz Ferdinand dan istrinya Sophie oleh seorang pemuda nasionalis Gavrilo Princip, yang baru berusia 19 tahun. Franz yang merupakan pewaris tahta kerajaan Austria-Hungaria itu tewas bersama istrinya saat berparade di Kota Sarajevo.
Atas kejadian tersebut Kerajaan Austria-Hungaria menyalahkan pemerintah Serbia atas pembunuhan itu dan meminta dukungan dari Kaisar Jerman yaitu Kaiser Wilhelm II untuk bersiap perang. Sedangkan Serbia didukung oleh Rusia. Kedua pihak menyatakan resmi berperang pada 28 Juli 1914.

Keikutsertaan Amerika Serikat
Pada saat awal Perang Dunia I, Presiden Amerika Woodrow Wilson menyatakan diri bersikap netral, yang didukung mayoritas rakyatnya. Tapi setelah kapal selam Jerman menenggelamkan kapal dagang AS, Wilson menyatakan perang melawan Jerman pada 6 April 1917.
Penyerangan U-Boat (kapal selam) yang terkenal pada perang dunia pertama adalah aksi penyerangan terhadap kapal RMS Lusitania oleh kapal selam U-20 pada tahun 1915 yang menewaskan 1198 orang, 123 sampai 128 orang di antaranya merupakan warga negara Amerika, sehingga Amerika memutuskan untuk ikut berperang di pihak sekutu.

Korban Tewas Terbanyak Dalam Sehari dan Pertempuran Terlama
Korban tewas terbanyak dalam sehari terjadi dalam Pertempuran Somme pada 1 Juli 1916. Dalam pertempuran ini pasukan Inggris kehilangan 19.240 ribu jiwa dari total korban 57.470 ribu anggota pasukan yang diturunkan dalam pertempuran.
Pertempuran Somme adalah salah satu pertempuran terbesar dalam Perang Dunia I. Pertempuran yang berlangsung antara 1 Juli sampai 1 November 1916 ini terjadi di dekat Sungai Somme di Perancis. Pertempuran ini menjadi salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah.
Pertempuran terlama berlangsung selama sekitar 300 hari pada Pertempuran Verdun. Ini berlangsung dari Februari hingga Desember 1916. Mayoritas korban tewas dari 800 ribu orang akibat terkena artileri. 9 kota di Prancis hancur total dan tidak pernah dibangun lagi sampai sekarang meskipun lokasinya masih terlihat di peta.(*)













