
JAYAPURA, satukanindonesia.com – Menteri perdagangan Papua Nugini (PNG), Richard Maru mengklaim, ia telah memperingatkan perusahaan pertambangan India yang diserang di Panguna pada Minggu (13/09/2026), agar tidak berinvestasi di Bougainville.
Sekelompok pria bersenjata diduga memasuki lokasi tambang tembaga Panguna dan membakar mesin milik perusahaan India Lloyds Metals & Energy Ltd, yang stafnya juga dilaporkan diserang, sebagaimana dilansir dari laman RNZ Pasifik, Rabu (16/09/2026).
Setelah terjadi baku tembak yang menewaskan sedikitnya satu orang, menurut media PNG, polisi telah menangkap beberapa tersangka.
Kepala polisi Bougainville, Francis Tokura, mengatakan bahwa sekelompok orang dari Buin di selatan Bougainville menyerbu lokasi tambang dengan senjata berkekuatan tinggi.
Serangan itu menuai kecaman dari presiden Pemerintah Otonom Bougainville (ABG), Ishmael Toroama, yang menyebut serangan itu sebagai “terorisme”.
Ia mengatakan hal itu justru memperkuat tekad pemerintahannya dan rakyat Bougainville untuk mengembangkan kembali tambang tersebut.
Broadside di Bougainville, Lloyds
Menteri Perdagangan PNG, Richard Maru, dengan cepat mengalihkan blame dari pemerintah nasional.
“Saya berulang kali menyarankan manajemen Lloyds Metals & Energy untuk tidak berinvestasi di Panguna, karena saya tahu perusahaan itu sangat fluktuatif akibat banyaknya faksi dan lingkungannya tidak kondusif untuk investasi. Saya khawatir akan hasil yang kini telah terjadi,”kata Richard Maru.
“Meskipun saya sudah memberi nasihat, perusahaan tersebut tetap memutuskan untuk berinvestasi di Panguna dan sekarang harus bertanggung jawab penuh atas apa yang telah terjadi. Mereka mengabaikan nasihat Pemerintah Pusat.”
Kehadiran Lloyds Metals di Panguna telah menuai beberapa kritik di Bougainville, terutama karena peran Toroama dalam menandatangani perjanjian dengan mereka, sementara sejumlah isu kompleks terkait tambang dan komunitas pemilik lahan juga turut berperan.
Seorang pemilik lahan utama dari Panguna, Moses Pipiro mengatakan, ada berbagai pandangan mengenai apakah penambangan harus dilanjutkan dan juga mengenai dukungan untuk Lloyds.
“Ada yang bilang tidak, ada yang bilang ya,”katanya, seraya menambahkan bahwa selama proses hukum diikuti, maka kesepakatan yang dapat diterapkan bisa tercapai.
“Kita berdua bisa berkumpul dan mengambil keputusan, dan berdasarkan itu, kita bisa menemukan solusi yang lebih baik,”ucapnya.
Pipiro mengatakan, kekerasan itu merupakan kekhawatiran besar bagi warga setempat yang menginginkan perdamaian, seraya mencatat bahwa pihak luar terlibat dalam serangan tersebut, yang membutuhkan penyelidikan menyeluruh.
“Hari ini (Selasa) saya meminta mereka untuk menandatangani gencatan senjata, kami datang untuk membawa perdamaian dan persatuan, dan kemudian kami akan menyelidiki bagaimana masalah ini terjadi,”ujarnya.
Pipiro mengklaim ABG gagal berkonsultasi secara memadai dengan semua pemilik tanah terkait tentang Lloyds, sebuah klaim yang sebelumnya telah ditolak oleh perwakilan pemerintah daerah.
Perdana Menteri PNG, James Marape mengatakan, diskusinya dengan Toroama memberinya keyakinan bahwa pemerintah Bougainville sedang berkonsultasi dengan pemilik lahan dan masyarakat setempat mengenai upaya untuk mengembangkan kembali tambang besar tersebut.
“Saya telah diberi tahu bahwa pemerintahnya sedang mempertimbangkan menyusun Panguna dengan cara yang melibatkan pemilik tanah, masyarakat di daerah yang terkena dampak langsung pertambangan, dan komunitas Bougainville yang lebih luas,”katanya dalam sebuah pernyataan.
“Presiden memahami bahwa Panguna tidak bisa begitu saja diperlakukan sebagai proyek pertambangan biasa. Ada masalah sejarah dan warisan masa lalu. Ada masalah lingkungan. Ada masalah pemilik lahan. Semua ini harus ditangani dengan sangat hati-hati.”
Serangan ini merupakan kemunduran bagi Bougainville, bukan hanya karena menghambat upaya untuk menjadi mandiri secara ekonomi sementara parlemen PNG mempertimbangkan apakah akan meratifikasi suara mayoritas untuk kemerdekaan yang diberikan oleh rakyat Bougainville pada tahun 2019.
Namun, serangan itu juga menggarisbawahi keberadaan senjata berkekuatan tinggi di Bougainville menyoroti, pemusnahan senjata sebagaimana dipersyaratkan dalam Perjanjian Perdamaian Bougainville belum lengkap dan kemajuan dalam hal itu terhambat.
Meskipun ABG telah meyakinkan investor bahwa serangan itu merupakan insiden ‘terisolasi’ dan bahwa keselamatan perusahaan yang beroperasi di Bougainville tetap menjadi prioritas utama, posisi Lloyds di wilayah otonom PNG tersebut lebih genting daripada sebelumnya.
Sejak mulai beroperasi di Bougainville tahun lalu, pertanyaan tentang apakah prosedur yang semestinya telah diikuti dalam cara ABG melibatkan Lloyds untuk bekerja di Panguna semakin meningkat.
Kekhawatiran bahwa kemarahan atas keterlibatan perusahaan India tersebut dapat menjadi kekerasan dan telah menjadi kenyataan. [*/GRW]










