• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Inventarisasi Potensi Covid-19 & Minimalisasi Resiko Menjelang Pilkada 2020

Teologi-Ekologi Untuk Menyembuhkan Covid-19

Januari 8, 2021
BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah pada Sabtu

BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah pada Sabtu

April 18, 2026
Wakil Ketua DPR Tekankan Komitmen Indonesia Kembangkan Pasar Karbon Berintegritas

Wakil Ketua DPR Tekankan Komitmen Indonesia Kembangkan Pasar Karbon Berintegritas

April 18, 2026
ADVERTISEMENT
Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia Siap Kolaborasi dengan Pemda Manokwari

Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia Siap Kolaborasi dengan Pemda Manokwari

April 18, 2026
Gowes dari Rumah, Walikota Bekasi Hadiri Penyerahan SK Kepala Sekolah

Gowes dari Rumah, Walikota Bekasi Hadiri Penyerahan SK Kepala Sekolah

April 17, 2026
Musrenbang RKPD 2027, Tri Adhianto Sebut Perkuat Sinergi Pembangunan Lintas Sektor

Musrenbang RKPD 2027, Tri Adhianto Sebut Perkuat Sinergi Pembangunan Lintas Sektor

April 17, 2026
Diberi Waktu Sepekan,  Ini Penjelasan Bahlil  Soal Penataan Izin Tambang di Kawasan Hutan

Diberi Waktu Sepekan, Ini Penjelasan Bahlil  Soal Penataan Izin Tambang di Kawasan Hutan

April 17, 2026
Prabowo Terima Laporan Pembangunan 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Terdampak Bencana dari KSAD

Prabowo Terima Laporan Pembangunan 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Terdampak Bencana dari KSAD

April 17, 2026
Dari Kawasan Perbatasan , Li Claudia Chandra Raih KWP Award 2026

Dari Kawasan Perbatasan , Li Claudia Chandra Raih KWP Award 2026

April 17, 2026
Kepala DKP Papua Barat : Revitalisasi Cold Storage Terkendala Anggaran

Kepala DKP Papua Barat : Revitalisasi Cold Storage Terkendala Anggaran

April 17, 2026
Menteri PPPA Kecam Pelecehan oleh 16 Mahasiswa UI Fakultas Hukum

Menteri PPPA Kecam Pelecehan oleh 16 Mahasiswa UI Fakultas Hukum

April 17, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

Teologi-Ekologi Untuk Menyembuhkan Covid-19

[Opini]

Januari 8, 2021
in Fokus Berita
0
0
SHARES
76
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT

Teologi-Ekologi Untuk Menyembuhkan Covid-19

oleh:

Gurgur Manurung*

 

Gugur Manurung, Staff Ahli Komisi VI DPR RI.

Jakarta, SatukanIndonesia.com – Covid-19 itu sangat menakutkan karena 2 isu yaitu penyebarannya teramat cepat dan tidak ada obatnya. Karena 2 isu itulah maka muncul istilah Lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Isu Penyebaran yang sangat cepat dan tidak ada obatnya itu membuat manusia di kolong langit ini ketakutan. Indonesia meradang karena bahan baku obat dari luar negeri 95%.

Ketika mengamati kasus Covid-19 setelah sekitar 8 bulan, benarkan ketakutan yang kita miliki di awal bulan Maret 2020 seperti yang kita bayangkan? Lalu, dari pengamatan itu bagaimana langkah kita menghadapinya kedepan?

Isu 95% bahan baku obat kita berasal dari luar negeri sebetulnya isu lama. Niat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Lembaga Eijkman, Perguruan Tinggi (PT), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang Farmasi kita sudah lama menginginkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi.

Tetapi keinginan itu kandas karena kebijakan politik tidak berpihak kepada TKDN. Sulit memahami kekuatan apa yang menghalangi keinginan agar obat kita bahan bakunya dari dalam negeri.

Konsep Ekologi-Teologi

Dari sudut pandang Teologia mengatakan bahwa Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya sempurna. Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya sempurna tetapi kehadiran manusia tidak menjaga kesempurnaan itu.

Teologia juga mengajarkan bahwa ujian atau cobaan yang dialami manusia tidak melebihi kemampuannya. Teologi yang saya maksud adalah teologia umum.

Dengan kata lain hampir semua kita memahami bahwa memang bumi dan segala isinya diciptakan sempurna. Mengapa kesempurnaan itu terganggu dan siapa yang mengganggu? Apakah Covid19 diciptakan manusia untuk mengganggu?

Dari sudut pandang Ekologi bahwa di dalam bumi ini terjadi keseimbangan ekosistem. Bumi mengalami asimilasi untuk keseimbangan baru. Tetapi, ketika gangguan itu melebihi Daya Dukung (Carrying Capacity) maka bumi itu terluka.

Bumi yang terluka itulah yang dimaksud pemanasan global. Pertumbuhan penduduk dunia yang eksploitatif dan menurut maunya manusia, maka bumi mengalami pemanasan.

Pembangunan atau eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) di bumi selalu memenuhi keinginan bukan kebutuhan manusia. Spiritualis Mahatma Gandhi mengatakan, “bumi hanya cukup bagi orang baik, tetapi bumi tidak cukup bagi orang tamak/rakus”.

Jika kita gabungkan Ekologi dan Teologia maka hal yang bisa ditarik adalah jika kita terganggu seperti gangguan Virus Covid-19 maka sesungguhnya disekitar kita ada obatnya. Tidak perlu mencari ketempat yang jauh.

Jika prinsip konsep Ekologi-Teologi ini kita pakai menghadapi Covid-19 maka tidak ada informasi yang mengatakan tidak ada obatnya. Jika informasi yang mengatakan bahwa penyebarannya cepat dan memiliki resiko yang tinggi maka masyarakat waspada. Masyarakat panik karena informasi tidak ada obatnya.

Masyarakat sempat lega ketika Presiden Jokowi mengumumkan bahwa obat Covid-19 adalah Avigan dan Klorokuin. Tetapi tidak lama kemudian organisasi Kesehatan Dunia WHO melarang Avigan dan klorokuin.

Masyarakat makin panik ketika itu. Betapa suasana mencekam dan sangat menakutkan ketika itu. Pemimpin dunia dan para pemimpin spiritualitas pun bingung memilih kalimat untuk menenangkan yang dipimpinnya. Karena mungkin pemimpin negara atau pemimpin spiritualitas pun ketakutan juga. Dalam kondisi itu semua gamang bersikap.

Keponakanku Sembuh

Tadi malam bere saya (keponakan) yang tinggal di Cijantung menelpon saya, “tulang aku sudah sembuh”. Tadi malam dia sudah pulang dari Rumah Sakit (RS) setelah 11 hari dirawat. Hasil SWAB-nya sudah negatif. Bere saya itu makan enak katanya sama saya karena sudah sembuh.

Seminggu sebelumnya, bere saya yang di Bekasi dan anaknya juga sembuh. Awalnya, bere saya yang di Cijantung takut di SWAB. Apa yang kau takutkan? tanyaku. Saya takut hasilnya positif tulang, jawabnya. Apapun hasilnya, hadapi. Menghadapi dengan berani adalah sikap yang pertama. Kemudian, bere saya yang di Bekasi memberikan semangat bahwa jangan takut. Saya dan anakku sembuh, katanya.

Hampir semua cerita yang mengalami positif Covid-19 yang saya kenal sembuh. Di Legok Permai, Kabupaten Tangerang seorang sahabat yang sudah lama hipertensi, gula tinggi dan pernah dirawat karena jantun sembuh.

Sahabat saya ini memang pasrah dan berharap akan pertolongan Tuhan. Sahabat saya itu anaknya yang berumur 14 tahun sembuh dan anaknya yang berumur sekitar 2 tahun juga sembuh. Hanya istrinya dalam keluarga itu negatif.

Ketika informasi itu saya dengar, rasanya gelap bumi ini saya lihat. Teman-teman di Tarutung dulu di isolasi 59 orang, demikian juga di Pandan, Tapteng. Mereka hanya minum saja, semua sembuh.

Ketika saya melihat kejadian-demi kejadian yang sembuh, maka informasi yang mengatakan bahwa tidak ada obatnya, saya tidak setuju. Jika tidak ada obatnya, mengapa orang-orang yang saya kenal sembuh 100%?

Informasi-informasi dari saudara kita yang sembuh itu harus kita ceritakan agar hidup kita yang sempat kuatir yang berlebihan menjadi semangat. Semangat untuk menjaga diri untuk waspada dan disiplin mencegah. Karena, kalaupun sembuh kita tidak mau berobat sampai 10 hari atau lebih, bukan?

Pendekatan teologia umum atau disebut teologia awam dan ekologi umum sangat penting. Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya sempurna mengajarkan kita bahwa kita menjaga bumi dengan segala akal budi kita.

Social distancing atau jaga jarak adalah cara kita menghalau tantangan yang datang yaitu Covid-19. Jika ekosistem kita terganggu yang oleh ekologi maka kita mencari keseimbangan baru dengan cara menyiasati gangguan yang datang.

Jika kita melihat cara-cara kita menyikapi Covid-19 di awal yang dengan boros menyemprotkan disinfektan, maka sesungguhnya itu tidak ramah lingkungan. Sebab, disinfektan akan mengganggu ekosistem, terutama ekosistem tanah.

Sahabat saya, ahli kimia mengatakan ada disinfektan yang ramah lingkungan. Tetapi apakah kita memilih disinfektan yang ramah lingkungan? Penggunaan disinfektan, apalagi berlebihan sudah harus dihentikan.

Sebab, menurut berbagai sumber jika Covid-19 itu tidak memiliki media secara otomatis Virus Covid-19 mati. Artinya, jika kita disiplin jaga jarak maka Covid-19 mati sendiri. Kita harus menyadari disinfektan dan penggunaan sabun untuk cuci tangan, hand sanitizer di seluruh dunia akan berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan.

Penggunaan disinfektan, hand sanitizer dan sabun yang jika diakumulasikan di seluruh dunia akan mencemari tanah dan air. Kita harus menyadari bahwa penggunaan disinfektan, hand sanitizer dan cuci tangan pakai sabun hanya sesaat saja. Jika berkepanjangan, maka akan menjadi beban lingkungan yang beresiko juga bagi kehidupan.

Setelah beberapa bulan kita menggunakan bahan kimia itu maka sudah waktunya kita memikirkan alternatif. Semoga saja setelah vaksin Covid19 disosialisasikan, kita tak lagi mengunakan bahan kimia itu.

Ekologi dan Teologia awam yang kita pahami mengajak kita untuk menyadari komitmen kita agar menjaga kesempurnaan bumi dan segala isinya dengan baik. Manusia yang diberikan akal budi yang mampu mengintervensi semua aspek kehidupan di bumi sejatinya fokus menjaga kesempurnaan bukan merusak kesempurnaan itu.

Karena itu, mari kita bersikap atau membangun menurut keseimbangan alam, bukan keinginan kita sendiri.

Jika kita beraktivitas menurut keinginan kita dengan mengabaikan alam maka alam akan resisten dan kita tidak mampu lagi beradaptasi dengan bumi.

Jika itu yang terjadi, maka sempurnalah kerusakan itu. Jadi, mari kita ikuti alam dan kita sembuh dengan apa yang ada di sekitar kita.(GM/Aj)

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: Covid-19Gurgur ManurungGurmanOpiniOpini Gurmanpandemic covid-19
ShareTweetSend

Related Posts

Perlindungan Data Pribadi di Dunia Cyber Lemah, Paslon Gubernur Jakarta Nomor 2 Dharma Pongrekun Doakan Paslon Gubernur Nomor 3 Kelak Jadi Presiden

Perlindungan Data Pribadi di Dunia Cyber Lemah, Paslon Gubernur Jakarta Nomor 2 Dharma Pongrekun Doakan Paslon Gubernur Nomor 3 Kelak Jadi Presiden

Oktober 7, 2024
Abdul Makmur Saba, pengusaha ternak ayam petelur dan ayam di kabupaten. Manokwari, Papua Barat//GRW

Kadin Papua Barat Diminta Perjuangan Hak Peternak Ayam Petelur Lokal

Juli 5, 2024
AHY Apresiasi Kerja Semua Era Pemerintah Serta Puji Mega dan SBY

AHY Sebut Banyak yang tak Sadar Jasa Prabowo Selama Masa Pandemi Covid 19

Januari 19, 2024

Kasus Covid-19 Naik Lagi, Jokowi Perintahkan Menkes Amati Perkembangan

Desember 15, 2023

Dinkes Catat Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Bertambah 365

Desember 13, 2023
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?