
Langkat, SatukanIndonesia.Com – Peternakan babi dan bebek berada di kawasan padat penduduk tepatnya di Lingkungan VIII (8) Bangsal Wonosari, Kelurahan Perdamaian, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tidak jauh dari perumahan dikeluhkan warga.
Sejumlah warga mengeluhkan bau tak sedap, diduga ditimbulkan dari cairan kotoran peternakan tersebut.
Rini (35) salah seorang warga yang huniannya berdomisili di Lingkungan 8 mengeluhkan bau tak sedap yang sudah mencemari lingkungan tempat tinggal Kediamannya.
“Bau tak sedap ini cukup meresahkan, apalagi ini masuk pancaroba, dimana sering hujan panas dan itu sangat menguap kali. Dari pagi sampai malam, tidak tau mau gimana bernapasnya. Bahkan menghidupkan kipas pun masih tercium baunya,” keluh Rini, saat ditemui wartawan dikediamannya, Jumat (13/10/2023) siang.
Warga yang bersebelahan dengan peternakan babi dan bebek dengan hanya pembatas tembok berkisar tinggi 4 meter tersebut juga mengungkapkan, dua minggu sebelumnya suami nya menjumpai Kepling, terus dikeluhkan sama Kepling.
” Harapan kami ditengah lingkungan kaya gini janganlah ada ternak kaya gitu, itukan bikin sesak. Setiap hari kami di suguhkan dengan bau yang tidak sedap akibat bau yang dibawa angin dirumah kami,” keluhnya.
Untuk itu, lanjut Rini, kami meminta agar pemilik ternak bisa memindahkan lokasi perternakan jauh dari pemukiman warga. Sebab, dari segi kesehatan udara yang kami hirup sudah terkomtaminasi dengan bau kotoran, yang berdampak pada kesehatan anak-anak kami.
“Kalau setiap hari kami menghirup udara yang kotor, tentu dari segi kesehatan sudah tidak layak. Apalagi bagi anak-anak kami,” ungkap Rini.
Demikian dengan hal sama, Cinthya (23) yang memiliki usaha cafe dan makanan juga mengeluhkan bau tak sedap yang diduga ditimbulkan dari cairan kotoran peternakan tersebut.
“Janganlah didekat pemukiman ada peternakan seperti ini, baunya mengganggu apalagi pas masak didapur. Kita juga cari uang,” ketus Cinthya.
Ia manambahkan, setiap pagi hingga sore menguapnya luarbiasa baunya dan belakang ada juga ternak babi. Kita terganggu dengan baunya, karena kitakan jual makanan, jadi terkadang orang datang kalau terecium baunya gak enak.
Ditanya terkait ada tindaknya penyampaian keberatan ke pemilik ternak, Cinthya mengatakan, kita sampaikan kepada Kepling sini namun tidak ada penyelesaiannya.
“Sudah kita sampaikan ke Kepling, tapi tidak ada penyelesaiannya. Dan secara langsung dulu juga sudah pernah kita sampaikan kepada peternak,” kesal Cinthya.
Tidak sampai disitu, Satukan Indonesia Media ditemui, Mulyatin (55) salah satu kepala keluarga yang berdomisili di Lingkungan VIII, yang juga mengeluhkan adanya bau menyengat itu.
“Kami besebelahan tembok dengan ternak bebek dibelakang, bau itu sangat yengat dan menggangu kali. Disamping itu juga kebisingan, sampai dinihari pun masi “Bunyi bising, bagaimana kita mau istirahat,” kesal Mul saat itu.
Lanjutnya, Mulyatin mengungkapkan kepada awak media ini, sepertinya pemerintahan tidak mungkin tidak mengetahui hal ini, baunya buat sesak.
“Sepertinya gak mungkin nggak tau, kita berharap kepada pemerintah agar peternak disini bisa direlokasikan, kerena ini pemukiman warga padat penduduk. Baunya buat sesak, bahkan kita sampai malas dirumah,” ungkap pria parubaya yang saat itu bersama istrinya.
Diketahui sebelumnya pada 10 April 2023, sejumlah 31 warga sudah menandatangi surat pernyataan keberatan atas adanya peternakan disekitaran pemukiman warga.
Keterangan Kepala Lingkungan
Menanggapi keluhan sejumlah warga di Lingkungan VIII Bangsal Wonosari, Kelurahan Perdamaian, Kecamatan Stabat, tentang bau tak sedap yang diduga ditimbulkan dari kotoran ternak babi dan bebek.
Kepala Lingkungan VIII, Andri saat di konfirmasi wartawan berbanding terbalik dengan keluhan sejumlah warga. Ia mengatakan untuk peternak sudah pernah kita himbau dan kita jumpai.
“Sebelumnya untuk keluhan warga ke Kelurahan sudah pernah ada, uda di antisipasi pencemarannya, masalah bau gimana. Uda semua,” pungkas Andri, saat dihubungi dan mengajak bertemu wartawan. (AS/redaksi)













