
Jakarta, satukanindonesia.com – Gelaran akbar Festival Kutoarjo (Festiku) 2026 yang berlangsung di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, menyisakan catatan positif sekaligus haru. Acara yang mempertemukan ribuan diaspora asal Kutoarjo dan Purworejo ini dinilai sukses menjadi jembatan ekonomi dan pelepas rindu bagi para perantau.
Antusiasme Membludak di Luar Ekspektasi
Ketua Festiku, Teguh Maji, mengungkapkan bahwa antusiasme warga tahun ini benar-benar di luar dugaan. Ribuan orang memadati area gedung sejak pagi, membuat tim registrasi bekerja ekstra keras melayani peserta yang terus berdatangan.

“Peserta membludak hingga tim kewalahan. Bahkan, saking banyaknya yang hadir, kami sampai harus melakukan penyesuaian di lapangan agar semua tetap bisa menikmati suasana,” ujar Teguh.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Paguyuban Kutoarjo (Pakutho), Pratomo, menyebut ada berkah tersendiri di balik membludaknya jumlah pengunjung. Banyak warga yang tidak sempat kebagian tiket masuk tetap datang dan memadati area bazar UMKM.
“Banyak yang akhirnya memborong dagangan UMKM di luar. Ini menunjukkan bahwa spirit guyub ing paran benar-benar nyata dampaknya bagi ekonomi warga kita,” kata Pratomo.
Apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Purworejo
Hadir secara langsung, Bupati Purworejo Hj. Yuli Hastuti, S.H., memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia dan pengurus Pakutho. Ia menyatakan kekagumannya atas skala acara yang mampu menggerakkan potensi lokal di tanah rantau.

“Saya tidak menduga Festiku semeriah ini. Pakutho berhasil mewujudkan motto guyub ing paran dalam bentuk nyata, mempertemukan denyut ekonomi kampung halaman dengan para perantaunya,” ungkap Bupati Yuli di sela-sela acara.
Catatan dan Rasa Terima Kasih
Meski sukses besar, pihak panitia tetap rendah hati dalam menyikapi beberapa kekurangan teknis, seperti keterbatasan logistik makanan khas dan tempat duduk. Hal ini menjadi catatan penting bagi evaluasi penyelenggaraan di masa mendatang.
Melalui perwakilan panitia, Pakdhe Galtung, pihak penyelenggara menyampaikan permohonan maaf sekaligus rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen yang terlibat—mulai dari tim kesenian Jaran Bolong, para pelaku UMKM, hingga para peserta yang datang dari berbagai penjuru Jabodetabek maupun yang sengaja datang dari kampung halaman menggunakan bus.
“Kesempurnaan bukan milik manusia, namun semangat pertemuan rasa antara kenangan dan harapan inilah yang membuat Festiku bermakna. Terima kasih atas doa dan dukungannya,” pungkasnya.
Hajatan yang berawal dari sekadar ajang Halal Bihalal sejak 2008 ini kini telah bertransformasi menjadi ruang kolaborasi budaya dan ekonomi yang solid bagi warga Kutoarjo di perantauan.













