
Jakarta, satukanindonesia.com – Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Sekjen Kemkomdigi), Ismail, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi disrupsi industri digital yang kian masif dan kompleks.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Halalbihalal Keluarga Besar Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) 1447 H di Jakarta, sebagaimana dilansir dari info publik, Senin (27/4/2026), yang mengangkat tema penguatan kolaborasi dan inovasi digital di era disrupsi komunikasi global.
Ia menyebutkan, perubahan lanskap industri digital telah menggeser peran telekomunikasi dari sebelumnya sebagai penggerak utama menjadi fondasi infrastruktur yang menopang berbagai sektor ekonomi digital.
“Kita masuk pada era yang dimana masyarakat sekarang sudah terdisrupsi oleh industri digital. Kalau dulu telekomunikasi menjadi prime mover, sekarang lebih sebagai prasarana. Fondasi utama tetap telekomunikasi, tetapi permainan bisnis dan industrinya sudah berubah,” ujar Sekjen Kemkomdigi.
Menurut Ismail, kondisi tersebut menuntut adanya kerja sama yang kuat antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pihak pun yang mampu menghadapi transformasi digital secara mandiri.
“Tidak ada satupun lembaga, institusi apalagi perusahaan yang mampu mengerjakan perubahan industri digital di Indonesia ini, termasuk pemerintah. Kita harus mengembangkan bersama-sama,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kemkomdigi mendorong penguatan ekosistem digital melalui konsep tiga pilar utama, yakni keterhubungan (connected), pertumbuhan (growth), dan keterjagaan (safety).
Ia menjelaskan, keterhubungan menjadi dasar melalui penyediaan infrastruktur digital yang merata agar tidak ada masyarakat yang tertinggal. Sementara itu, pertumbuhan difokuskan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, kecerdasan, dan kesejahteraan masyarakat.
Adapun aspek keterjagaan menjadi perhatian penting, terutama dalam melindungi masyarakat dari dampak negatif teknologi digital, termasuk terhadap anak-anak.
“Banyak sekali kejadian yang membahayakan anak-anak kita, mulai dari adiksi hingga dampak psikologis. Karena itu, kita harus menjaga keselamatan ruang digital,” ujarnya.
Ismail juga mengingatkan bahwa tanpa kolaborasi yang kuat, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar dalam ekosistem digital global, bukan sebagai pelaku utama yang berdaulat.
Untuk itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi guna membangun industri digital nasional yang mandiri dan berdaya saing.
Melalui momentum tersebut, Kemkomdigi berharap kolaborasi yang terbangun dapat menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat kedaulatan digital nasional, sekaligus memastikan transformasi digital memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. (***)











