• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Ketegangan yang Makin Memanas dalam Sengketa West Papua

Ketegangan yang Makin Memanas dalam Sengketa West Papua

September 24, 2026
Pengamat Usulkan Calon Sekda Kota Bekasi Harus Miliki Rekam Jejak Clean & Clear

Pengamat Usulkan Calon Sekda Kota Bekasi Harus Miliki Rekam Jejak Clean & Clear

September 24, 2026
Realisasikan Pokir, Wakil Ketua I DPRD Kota Batam Serahkan 100 Mesin Ketinting untuk Nelayan se-Kecamatan Belakangpadang

Realisasikan Pokir, Wakil Ketua I DPRD Kota Batam Serahkan 100 Mesin Ketinting untuk Nelayan se-Kecamatan Belakangpadang

September 24, 2026
ADVERTISEMENT
Mayjen TNI Yudha Fitri Cek Kondisi Pembangunan Huntap di Humbahas

Mayjen TNI Yudha Fitri Cek Kondisi Pembangunan Huntap di Humbahas

September 24, 2026
Komisi I DPRD Kota Batam Gelar RDPU, Bahas Permasalahan Lahan di Kavling Tribuana Sukses Mandiri

Komisi I DPRD Kota Batam Gelar RDPU, Bahas Permasalahan Lahan di Kavling Tribuana Sukses Mandiri

September 24, 2026
Menlu Sugiono Pimpin Delegasi RI di Sidang Majelis Umum PBB ke-81

Menlu Sugiono Pimpin Delegasi RI di Sidang Majelis Umum PBB ke-81

September 24, 2026
Pemerintah Kaji Kuliah Gratis di Kampus Negeri

Pemerintah Kaji Kuliah Gratis di Kampus Negeri

September 24, 2026
Presiden Prabowo Subianto Perintahkan IEU-CEPA Segera Dituntaskan

Presiden Prabowo Subianto Perintahkan IEU-CEPA Segera Dituntaskan

September 24, 2026
Gagalkan Operasi Perdagangan Manusia, Polisi PNG selamatkan 39 warga Indonesia

Gagalkan Operasi Perdagangan Manusia, Polisi PNG selamatkan 39 warga Indonesia

September 23, 2026
Pansus Ranperda Kampung Tua Gelar Rapat Lanjutan, Perdalam Substansi Perda

Pansus Ranperda Kampung Tua Gelar Rapat Lanjutan, Perdalam Substansi Perda

September 23, 2026
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Batam Terima Kunjungan Kerja Komisi III DPRD Sijunjung

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Batam Terima Kunjungan Kerja Komisi III DPRD Sijunjung

September 23, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Kamis, September 24, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

Ketegangan yang Makin Memanas dalam Sengketa West Papua

(Fokus Berita)

September 24, 2026
in Fokus Berita
0
0
SHARES
23
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
FOTO : RSUD Hollandia, sekarang RSUD Dok II, Jayapura pada masa awal berdiri//ISTIMEWA

MANOKWARI, satukanindonesia.com – Tahun 1956, para pemuda Papua dari Fakfak melakukan pemberontakan dan berhasil membakar beberapa kantor polisi serta mencuri sejumlah senjata.

Sebagai tanggapan atas penangkapan para pimpinan PPI dan OPI di Sorong, OPI mulai dipimpin oleh Bastian Samori, Yulius Worabay, Lodewijk Wosiri, Bob Warinusi, dan Elias Paprindey.

Pada 3 November 1956, gerakan yang terdiri dari 300 orang ini merencanakan aksi sabotase untuk meledakkan tangki minyak di Sorong. Namun, rencana tersebut digagalkan oleh pihak berwenang Belanda dan mereka berhasil menangkap E. Paprindey, Elimelek Ayoni, dan Franky Kossa pada November 1959.

Berturut-turut terjadi pertempuran sengit di Enarotali antara tahun 1952 dan 1954, dimana wilayah sekitar Danau Wissel menjadi pusat gerakan mesianis yang disebut Wege.

Gerakan ini berpusat pada keyakinan bahwa Ratu Adil dari Jawa akan datang dan mendirikan kerajaan kebahagiaan, yang didasarkan pada dongeng lokal tentang Situgumina yang melakukan perjalanan ke barat, menuju Jawa, dan akan kembali lagi untuk membawa rahasia kehidupan, kematian, dan kekayaan.

Oleh karena itu, suku Ekari harus mempersiapkan kedatangannya. Masyarakat setempat memulai persiapan dengan mendirikan barak di tengah hutan dan mengikuti upacara selama berminggu-minggu.

Pemimpin gerakan ini adalah Zacheus Pakage, seorang mantan pendeta dari Bomou yang pernah menempuh pendidikan di Makassar. Ia ditangkap dan dipenjara pada pertengahan tahun 1954, dan baru dibebaskan pada tahun 1962.

FOTO : Kapal milik Belanda, HNLMS Piet Hein, yang pernah mengakibatkan sekitar 1.000 orang tewas di Agats pada tahun 1958-1959//ISTIMEWA

Insiden lain terjadi di Obano, 3 November 1956, ketika sebuah pesawat Cessna milik misionaris dibakar oleh suku Ekari, yang mengakibatkan tindakan balasan dari pihak Belanda.

Pada Agustus 1957, sepasang polisi Belanda tewas di sekitar kawasan Danau Wissel, dan insiden kedua terjadi pada tahun 1959. Peristiwa-peristiwa ini dikenal sebagai “Insiden Enarotali”.

Pada 6 Juli 1959, sejumlah senjata bekas milik Jepang disita dari penduduk setempat di Genyem, dekat Hollandia. Namun, hal ini memicu pemberontakan, dan unit polisi serta marinir Belanda dikirim untuk memadamkan pemberontakan tersebut.

Bersamaan dengan peristiwa ini, pemberontakan yang berakar pada gerakan mesianis juga meletus di dekat wilayah Asmat.

Gerakan ini dimulai pada tahun 1956, yang memicu tindakan balasan brutal dari otoritas kolonial Belanda, dan sekitar 700 orang tewas di Desa Ayan.

Pemberontakan lain terjadi pada tahun 1958–1959, ketika otoritas Belanda mengerahkan kapal HNLMS Piet Hein, yang mengakibatkan sekitar 1.000 orang tewas di Agats. Peristiwa-peristiwa ini kemudian dikenal sebagai “Insiden Agats”.

Pada tahun 1960, terjadi serangkaian pemberontakan, khususnya di Kokas, Fakfak, pada bulan Agustus dan Desember 1960 yang dipimpin oleh Lapadanga. Banyak pelaku ditangkap, dan diasingkan ke Digul.

Kemudian pada November 1960, sekitar 25 pemuda Papua di Merauke ditangkap oleh pihak Belanda karena menggelar aksi perlawanan terhadap pemerintah Belanda.

Di Hollandia (sekarang Jayapura) juga terjadi pemberontakan sengit pada tahun yang sama, yang lebih dikenal sebagai “Insiden Lembah Baliem.”

Dalam menindas berbagai pemberontakan ini, pihak berwenang Belanda bertindak dengan kejam, sehingga memicu protes dari masyarakat Belanda maupun penduduk setempat.

Di Biak, terjadi pula sejumlah penangkapan, termasuk seorang guru bernama Petrus Wettebessy yang ditangkap karena aktivitasnya menentang Belanda sebagai pemimpin Partai Irian Dalam Republik Indonesia Serikat (PIDRIS) bersama Corinus Krey dan wakil ketua partai tersebut, Marthen Indey, yang ditangkap terpisah di Ambon.

Kemudian pada bulan Desember terjadi pemberontakan antara anak-anak sekolah dan guru-guru akibat tindakan sewenang-wenang seorang pejabat Belanda terhadap pemuda Papua.

Di Sorong, terjadi insiden lain yang melibatkan anggota OPI di bawah kepemimpinan Bastian Samori. Ia akhirnya ditangkap, dan dipenjara oleh pihak berwenang Belanda.

Setelah kegagalan resolusi Afro-Asia ketiga pada November 1957, pemerintah Indonesia melancarkan kampanye nasional yang menargetkan kepentingan Belanda di Indonesia.

Hal ini berujung pada pencabutan hak pendaratan maskapai penerbangan Nasional Belanda KLM, demonstrasi massal dan pemogokan pekerja di perusahaan milik Belanda, serta penyitaan perusahaan pelayaran Belanda KPM, BPM, Borsumij, bank-bank milik Belanda, dan aset-aset lainnya. Sebanyak 700 perusahaan milik Belanda dengan nilai total sekitar $1,5 miliar dinasionalisasi.

Pada Januari 1958, sepuluh ribu warga Negara Belanda telah meninggalkan Indonesia, banyak di antaranya kembali ke Belanda. Nasionalisasi spontan ini menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia, mengganggu komunikasi, dan memengaruhi produksi ekspor.

Presiden Soekarno juga menghentikan upaya untuk mengangkat sengketa tersebut di Sidang Umum PBB 1958, dengan alasan bahwa pendekatan rasional dan persuasi telah gagal.

Pada Juni 1960, sekitar 13.000 warga negara Belanda kebanyakan orang Eurasia dari Papua berangkat ke Australia, sementara sekitar 1.000 orang pindah ke Belanda. Setelah periode panjang intimidasi terhadap perwakilan diplomatik Belanda di Jakarta, pemerintah Indonesia secara resmi memutuskan hubungan dengan Belanda pada Agustus 1960.

Menanggapi agresi Indonesia dan di tengah tekanan lokal, pemerintah Belanda meningkatkan upayanya untuk mempersiapkan rakyat Papua menuju penentuan nasib sendiri pada tahun 1959.

Upaya-upaya ini berujung pada pendirian sebuah rumah sakit baru di Hollandia (kini RSUD Jayapura), galangan kapal di Manokwari, lokasi-lokasi penelitian pertanian, perkebunan, serta pasukan militer yang dikenal sebagai Korps Sukarelawan Papua.

Pada akhir tahun 1960, sebuah badan legislatif bernama Dewan Nugini yang memiliki fungsi legislatif, penasihat, dan kebijakan telah dibentuk. Setengah dari anggotanya akan dipilih melalui pemilihan umum, dan pemilihan untuk dewan ini diselenggarakan pada tahun berikutnya.

Hal ini mencakup pembentukan partai-partai politik lokal. Partai-partai tersebut antara lain, yakni Partai Nasional (Partai Nasional, Parna) yang dipimpin oleh Herman Wayoi, Partai Rakyat Demokratik (Democratische Volks Partij, DVP) yang dipimpin oleh A. Runtuboy, Kena U Embay (KUD) yang dipimpin oleh Essau Itaar, Partai Nasional Papua (Nasional Partai Papua, Nappa), Partai Papua Merdeka (PPM) yang dipimpin oleh Mozes Rumainum, Komite Nasional Papua (CNP) yang dipimpin oleh Willem Inury, Front Nasional Papua (FNP) yang dipimpin oleh Lodewijk Ayamiseba, Partai Orang Nieuw Guinea (PONG) yang dipimpin oleh Johan Ariks, Partai Persatuan Nieuw Guinea (Eenheidspartij Nieuw Guinea, EPANG) yang dipimpin oleh Lodewijk Mandatjan, Partai Sama-Sama Manusia (SSM), Persatuan Kristen-Islam Raja Ampat (Perchisra) yang dipimpin oleh M.N. Majalibit, dan Persatuan Pemuda-Pemudi Papua (PERPEP) yang dipimpin oleh A.J.F. Marey.

Belanda juga berupaya menumbuhkan rasa identitas Nasional Papua Barat, dan upaya-upaya ini berujung pada pembuatan bendera nasional (bendera Bintang Kejora), lagu kebangsaan, dan lambang Negara.

Belanda telah merencanakan untuk menyerahkan kemerdekaan kepada Irian Barat pada tahun 1970. Yang tidak dilibatkan dalam Dewan Irian adalah partai-partai dan gerakan-gerakan yang secara terbuka mendukung integrasi Papua dengan Indonesia, seperti KIM, PKII, Persatuan Pejuang Kemerdekaan Irian Barat (PPKI) yang dipimpin oleh J. Dimara dan I. Kilikulat, Organisasi Pemuda Indonesia Irian (OPII) yang dipimpin oleh N.C. Krey, PPI yang dipimpin oleh S.K. Tumengkol, Organisasi Pemuda Irian (OPI) yang dipimpin oleh D. Wosiri, Partai Kemerdekaan Indonesia (PKI) yang dipimpin oleh Tan Tjung Ek, PIN, Partai Indonesia Islam, GMP, Gerakan Pemuda Indonesia (GPI) yang dipimpin oleh Rumbewas, dan Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB).

Pada tahun 1962, GRIB menggelar aksi protes yang secara terbuka menuntut agar Irian Barat dikembalikan ke Indonesia selama kunjungan Menteri Belanda Bost ke Selain pemberontakan orang Papua di New Guinea, sejumlah warga Papua berhasil menghindari penangkapan dan melarikan diri ke Indonesia, dengan beberapa di antaranya bergabung dengan Batalion Cendrawasih, seperti Corinus Krey, A. Koromath, A.B. Karubuy, A.L. Maranni, N.L. Suages, Letnan Henkie Antaribaba, Letnan Ramandey, H.L. Rumaseuw, Letnan Wanggai, Letnan Numberi, dan lainnya yang kelak menjadi pemimpin dalam infiltrasi militer selama Operasi Trikora.

Tokoh-tokoh lain yang menerima pelatihan militer antara lain AJ. Dimara, Benny Torey, Marinus Imbury, Zadrack Rumbobiar, Melkianus Torey, dan Metusalim Fimbay.

Sementara yang lain bergabung dengan delegasi diplomatik Indonesia, yang meliputi M. Indey, Frits Kiriheo, J.A. Dimara, bersama S. Papare yang telah tinggal di wilayah Indonesia. Meskipun jumlah pasti para pelarian dari tahun 1949 hingga 1961 tidak diketahui, Yayasan Badan Kontak Keluarga Besar Perintis Irian Barat (Yayasan untuk Veteran Irian Barat) mencantumkan 154 tokoh nasionalis Indonesia terkemuka dari seluruh Papua, dengan sebagian besar melarikan diri selama periode 1959–1961. [wikipedia/GRW]

Komentar Facebook

Tags: Sengketa West Papua'West Papua
ShareTweetSend

Related Posts

Serangan-serangan awal Indonesia Terkait Sengketa West Papua

Serangan-serangan awal Indonesia Terkait Sengketa West Papua

September 23, 2026
Diplomasi terkait ‘Sengketa West Papua’ Yang Dihidupkan Kembali

Diplomasi terkait ‘Sengketa West Papua’ Yang Dihidupkan Kembali

September 20, 2026
WPNCL Lakukan Pembenahan Struktur Organisasi

WPNCL Lakukan Pembenahan Struktur Organisasi

Agustus 10, 2026

Negara-negara Kepulauan Pasifik Terus Mendukung Isu West Papua

Maret 25, 2025
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?