
Surabaya, satukanindonesia.com – Barisan prajurit dengan pedang terhunus menyambut kedatangan Mayjen TNI Piek Budyakto bersama istrinya di Markas Kodam V/Brawijaya, Surabaya. Diiringi musik militer dan tradisi penghormatan satuan, keduanya berjalan melewati pasukan Pedang Pora. Suasana serupa juga menjadi bagian dari penghormatan bagi Mayjen TNI Rudy Saladin sebelum meninggalkan jabatannya sebagai Pangdam V/Brawijaya.
Pemandangan tersebut mewarnai pergantian kepemimpinan Kodam V/Brawijaya, Rabu 28/10/2026) lalu. Sebagaimana dilansir melalui website resmi Kodam V/Brawijaya, sekitar 1.000 prajurit dan pegawai negeri sipil mengikuti rangkaian penyambutan Pangdam baru sekaligus pelepasan pejabat lama di Makodam V/Brawijaya, Jalan Raden Wijaya, Surabaya.
Ada sejumlah tradisi yang menarik dalam penyambutan tersebut. Piek bersama Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah V/Brawijaya tiba menggunakan kendaraan terbuka dari Mess Pati menuju gerbang utama Makodam. Kedatangan mereka diiringi Drumband Yonzipur 5/ABW, kemudian disambut lantunan Mars Brawijaya.
Di pintu gerbang, Kasdam V/Brawijaya Brigjen TNI Zainul Bahar menyambut dengan pengalungan bunga dan penyerahan buket. Setelah menerima penghormatan prajurit, Piek melewati barisan Pedang Pora dan disambut Tarian Cucuk Lampah.
Tradisi tersebut belum berakhir. Pangdam baru kemudian mencium Pataka Kodam V/Brawijaya dan mengisi buku warga satuan. Prosesi ini menjadi tanda penerimaan Piek dalam keluarga besar Kodam V/Brawijaya, meskipun sebelumnya ia pernah bertugas di lingkungan satuan tersebut.
Bagi Piek, penugasan di Jawa Timur sebenarnya bukan pengalaman pertama. Perwira tinggi TNI Angkatan Darat lulusan Akademi Militer 1991 itu pernah menjabat Kepala Staf Kodam V/Brawijaya pada 2022–2023. Sebelum dipercaya menjadi Pangdam V/Brawijaya, ia menjabat Pangdam IX/Udayana yang membawahi wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Dengan demikian, kedatangannya kali ini sekaligus menjadi kesempatan kembali ke lingkungan Kodam yang pernah dikenalnya. Bedanya, kini ia memegang tanggung jawab sebagai pucuk pimpinan satuan.
Dalam apel bersama, Piek menyampaikan apresiasi atas penyambutan yang diberikan seluruh prajurit dan ASN. Ia mengingatkan bahwa pergantian pimpinan harus diikuti semangat menjaga disiplin, kekompakan, dan profesionalisme dalam menjalankan tugas.
“Seluruh prajurit dan ASN harus terus menjaga soliditas, mempererat kekompakan, menegakkan disiplin, serta senantiasa meningkatkan profesionalisme dalam setiap pelaksanaan tugas,” tegasnya.
Piek juga mengingatkan agar hubungan kekeluargaan dengan Rudy Saladin tetap terpelihara meskipun keduanya kini mendapat tanggung jawab berbeda.
Sementara itu, bagi Rudy Saladin, acara tersebut menjadi kesempatan berpamitan dengan prajurit yang selama lebih dari dua tahun berada di bawah kepemimpinannya.
Rudy memimpin Kodam V/Brawijaya sejak Juli 2024. Ia merupakan lulusan Akademi Militer 1997 dari kecabangan Infanteri dan peraih Adhi Makayasa. Dalam perjalanan kariernya, Rudy pernah menjadi ajudan Presiden Joko Widodo, Danrem 074/Warastratama, Danrem 061/Surya Kencana, serta Sekretaris Militer Presiden.
Setelah meninggalkan Kodam V/Brawijaya, Rudy mendapat penugasan baru sebagai Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (Wadansesko TNI).
Di hadapan prajurit dan ASN, Rudy menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diterimanya selama memimpin Kodam V/Brawijaya.
“Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kerja sama, dukungan, serta kebersamaan yang luar biasa dari seluruh prajurit dan ASN Kodam V/Brawijaya selama saya mengemban amanah sebagai Pangdam V/Brawijaya,” ungkap Rudy.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan selama bertugas dan memohon doa restu untuk melanjutkan pengabdian di tempat yang baru.
Sebelum berpisah, keduanya menjalani penyerahan Risalah Kodam V/Brawijaya dan Risalah Serah Terima Jabatan Dankogartap III/Surabaya. Dokumen tersebut menjadi bagian dari kesinambungan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan.
Pada siang harinya, giliran Rudy bersama istrinya, Vira Rudy Saladin, menjalani tradisi pelepasan. Rudy mencium Pataka Kodam V/Brawijaya, menuliskan pesan dan kesan, kemudian menerima cinderamata berupa patung Raden Wijaya dari Pangdam yang baru.
Pengalungan bunga dan penyerahan buket kepada Vira turut mengiringi prosesi tersebut. Rudy dan istrinya kemudian berjalan melewati barisan Pedang Pora sebelum meninggalkan Makodam V/Brawijaya.
Bagi keluarga besar Kodam V/Brawijaya, tradisi itu menandai pergantian dua pemimpin dengan perjalanan pengabdian yang berbeda. Piek kembali ke Jawa Timur dengan tanggung jawab baru, sedangkan Rudy melanjutkan tugasnya di lingkungan pendidikan dan pengembangan kepemimpinan TNI.
Di tengah barisan pedang, iringan musik militer, dan penghormatan prajurit, Kodam V/Brawijaya melepas seorang panglima sekaligus menyambut pemimpin berikutnya.(Yos/*)













