
SatukanIndonesia.com – Siapa bilang seorang komisaris besar polisi harus selalu tampil dengan pengawalan, makan di restoran mewah, atau menjaga jarak dengan orang yang baru dikenalnya? Kombes Pol. Debby Asri Nugroho justru mempunyai kebiasaan yang cukup berbeda. Direktur Samapta Polda Sulawesi Tenggara ini tidak canggung menikmati makanan di warung kaki lima, berbincang dengan siapa saja, bahkan menjalani aktivitas pribadi tanpa harus membawa pengawal.
Di tempat umum, Debby lebih senang menikmati suasana sebagaimana orang kebanyakan. Cara bicaranya santun, tidak berlebihan, dan terbuka ketika orang lain menyampaikan pendapat. Pangkat komisaris besar polisi tidak membuatnya merasa perlu mendapatkan perlakuan khusus.
Bukan berarti ia mengabaikan kewibawaan sebagai perwira Polri. Debby memahami bahwa ada saat ketika seorang polisi harus tegas menjalankan tugas, tetapi ada pula waktu untuk menjadi pribadi biasa yang bisa duduk bersama orang lain tanpa sekat jabatan. Baginya, keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Orang Jawa mempunyai ungkapan gak ngawak’i. Kira-kira menggambarkan rasa tidak menyangka bahwa seseorang yang terlihat begitu biasa ternyata memiliki kedudukan cukup tinggi. Ungkapan itu terasa dekat dengan keseharian Debby, terutama ketika ia sedang tidak mengenakan seragam dinas.
Warung Kaki Lima dan Cerita dari Banyuwangi
Kesibukan pekerjaan tidak membuat Debby kehilangan kesenangan pada hal-hal sederhana. Untuk melepas penat, ia lebih suka menikmati waktu bersama keluarga. Sesekali, ia pulang ke Banyuwangi, Jawa Timur, kota tempat ia tumbuh dan menghabiskan masa sekolah.
Selama berada di Banyuwangi, Debby tinggal di rumah orang tuanya. Untuk bepergian, ia biasa menggunakan Honda Karisma lama milik orang tuanya. Tidak ada keharusan mencari kendaraan yang lebih mewah hanya karena sekarang ia seorang pejabat kepolisian.
Urusan makanan juga begitu. Gado-gado dan rawon termasuk makanan kegemaran Debby. Salah satu favoritnya adalah rawon di Rumah Makan Bik Atik, rumah makan legendaris yang berada di salah satu jalan utama Kota Banyuwangi. Untuk minuman, ia menyukai teh panas yang tidak terlalu manis.
Bagi Debby, pulang ke kampung halaman juga berarti bertemu teman-teman lama. Ia masih menikmati kebersamaan dengan sahabat dari SD Kepatihan 2, SMP Negeri 1 Banyuwangi, dan SMA Negeri 1 Banyuwangi. Mereka berkumpul bukan untuk urusan kedinasan, melainkan menikmati persahabatan yang sudah terjalin sejak bangku sekolah.
Dalam pertemuan seperti itu, Debby tidak merasa perlu menonjolkan pangkatnya. Ia tetap menjadi teman lama yang bisa diajak berbincang, bercanda, dan mengenang pengalaman masa sekolah. Tidak ada alasan bagi orang-orang yang telah mengenalnya sejak kecil untuk tiba-tiba diperlakukan sebagai bawahan.
Kebiasaan tersebut juga terlihat ketika ia berada di tempat umum. Debby tidak sungkan berkomunikasi dengan orang lain dan jarang membawa pengawal dalam aktivitas pribadinya. Sikap ramah itu membuat pergaulan berlangsung lebih lepas, tanpa harus diawali dengan pertanyaan tentang jabatan atau kedudukan.
Tentu, makan di warung kaki lima atau menggunakan sepeda motor lama bukan ukuran tunggal kepribadian seseorang. Namun, kebiasaan tersebut memberikan gambaran tentang pilihan hidup Debby ketika tidak sedang menjalankan tugas. Ia tampaknya tidak memerlukan banyak atribut untuk merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
Pengalaman Panjang di Berbagai Daerah
Di balik kesehariannya yang bersahaja, Debby telah melewati perjalanan cukup panjang sebagai anggota Polri. Setelah lulus dari Akademi Kepolisian pada 1998, ia mengawali penugasan di Kalimantan Timur. Pada 2004–2005, ia melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), kemudian menjalani penugasan di Bengkulu.
Di Bengkulu, pengalamannya mencakup lingkungan kepolisian daerah, kewilayahan, serta pelayanan lalu lintas. Pekerjaan tersebut mempertemukannya dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari, mulai dari keselamatan pengguna jalan hingga urusan administrasi kendaraan. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum memperoleh tanggung jawab lain.
Setelah mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim), Debby bertugas di Bali sebagai Kasubdit I Direktorat Reserse Narkoba Polda Bali. Penugasan ini menuntut ketelitian dalam penanganan perkara dan ketegasan mengambil tindakan berdasarkan hukum.
Pada September 2019, ia dipercaya menjadi Kapolres Muna, Sulawesi Tenggara. Tanggung jawabnya semakin luas karena harus menangani persoalan keamanan, pelayanan, dan hubungan dengan masyarakat. Pengamanan Pilkada 2020 menjadi salah satu bagian dari masa penugasannya ketika kepolisian dituntut menjaga keamanan di tengah perbedaan pilihan politik.
Perjalanan berikutnya membawa Debby kembali ke bidang Reserse Narkoba. Januari 2022, ia mendapat amanah sebagai Wakil Direktur Reserse Narkoba Polda Sultra. Dalam konferensi pers September 2023, ia pernah menjelaskan pengungkapan jaringan peredaran sabu dari Aceh menuju Sulawesi Tenggara yang melibatkan tiga tersangka dengan barang bukti 13 paket sabu seberat 475 gram.
April 2025, Debby dipercaya menjabat Direktur Samapta Polda Sultra. Berbeda dengan pekerjaan reserse yang banyak menangani pengungkapan tindak pidana, tugas Samapta lebih menekankan patroli, penjagaan, pengamanan, dan pencegahan gangguan keamanan.
Pada Natal 2025, jajaran Ditsamapta Polda Sultra melaksanakan pengamanan di sejumlah gereja di Kendari dengan mengerahkan 34 personel. Juni 2026, patroli malam hingga dini hari juga dilakukan untuk mengantisipasi kriminalitas, balap liar, dan gangguan ketertiban lainnya.
Berbagai penugasan itu membawanya berhadapan dengan persoalan yang tidak selalu sama. Ada pekerjaan yang menuntut keputusan cepat dan tegas, ada pula yang lebih membutuhkan kesabaran serta kemampuan membangun komunikasi. Namun, menghadapi masyarakat dengan hormat tetap menjadi hal penting dalam keduanya.
Tegas Bertugas, Santun dalam Pergaulan
Debby menempatkan Hasta Brata dan Catur Prasetya sebagai pegangan dalam pengabdian. Hasta Brata, falsafah kepemimpinan Jawa, mengajarkan keteladanan, kebijaksanaan, dan kemampuan mengayomi. Sementara Catur Prasetya menjadi pedoman moral anggota Polri dalam menjalankan tanggung jawab profesinya.
Ada pula keyakinan religius yang menyertai cara Debby memandang pekerjaannya. Menurut pandangannya, tugas tidak semata dijalankan untuk memenuhi perintah
organisasi atau memperoleh jabatan. Apa yang dilakukan seseorang pada akhirnya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan sesama manusia.
Karena itu, ketulusan dan keikhlasan menjadi nilai yang ingin dijaganya dalam bekerja. Tidak semua pekerjaan polisi memperoleh perhatian publik. Ada patroli yang berlangsung tanpa kejadian, penjagaan hingga dini hari, dan pelayanan yang selesai tanpa pemberitaan. Semua tetap menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dijalankan.
Dalam pergaulan, prinsip itu tercermin melalui pembawaannya yang santun dan egaliter. Debby tidak merasa harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara hanya karena memegang jabatan. Ia juga terbuka menerima masukan, suatu sikap yang penting ketika seorang pemimpin harus memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.
Namun, keramahan seorang polisi tentu tidak boleh menghilangkan ketegasannya. Ketika menghadapi pelanggaran hukum, keputusan harus diambil berdasarkan aturan dan bukti yang tersedia. Bersikap humanis bukan berarti membiarkan kesalahan, melainkan tetap menghormati orang lain ketika kewenangan dijalankan.
Bagi masyarakat, pengalaman berhadapan dengan polisi sering dimulai dari hal kecil. Cara menyapa, menjelaskan persoalan, atau bersedia mendengarkan keluhan dapat meninggalkan kesan yang panjang. Semboyan Polisi Bersama Masyarakat pun menjadi lebih mudah dipahami ketika hubungan seperti itu benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Kesederhanaan Debby memang tidak dengan sendirinya membuktikan keberhasilan kepemimpinannya. Kinerja tetap harus dinilai dari pelayanan, keputusan, dan tanggung jawab yang dijalankan. Namun, kebiasaannya bergaul tanpa menonjolkan kedudukan memperlihatkan sisi lain seorang perwira yang tidak selalu hadir dalam berita kegiatan resmi.
Hampir tiga dasawarsa sejak lulus Akpol, Debby telah menjalani berbagai tugas di sejumlah daerah. Banyak tanggung jawab yang berubah mengikuti perjalanan kariernya. Tetapi ketika mempunyai kesempatan pulang ke Banyuwangi, ia masih bisa kembali menikmati kehidupan bersama keluarga dan sahabat-sahabat sekolahnya.
Barangkali suasana itu jauh lebih menyenangkan daripada terus-menerus berbicara tentang pekerjaan. Ada cerita masa sekolah yang kembali muncul, canda di antara teman lama, dan kesempatan menikmati makanan kegemaran tanpa banyak formalitas.
Di tempat seperti itu, orang tidak perlu memanggilnya dengan jabatan panjang. Cukup Debby, teman yang pernah sama-sama menjalani hari-hari sekolah di Banyuwangi.
Dan ketika berkumpul sambil menikmati gado-gado, rawon Bik Atik, atau segelas teh panas yang tidak terlalu manis, pangkat komisaris besar polisi sejenak tidak menjadi
pokok pembicaraan. Yang ada hanyalah kebersamaan seorang sahabat dengan orang-orang yang telah mengenalnya jauh sebelum seragam dan jabatan menjadi bagian dari hidupnya. (Yosua/Berbagai Sumber)










