
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyelenggarakan Youth Talkshow bertajuk “Strategi Pemuda Menghadapi Pasar Tenaga Kerja di Masa Depan” di Jakarta, Rabu, (28/03/2018). Acara ini diselenggarakan dalam rangka Voyage to Indonesia, sebuah rangkaian kegiatan yang diadakan menyambut Pertemuan Tahunan IMF-Kelompok Bank Dunia 2018 di Bali, Oktober mendatang.
Youth Talkshow ini menghadirkan Lead Economist Bank Dunia Vivi Alatas. Vivi yang menangani program pengentasan kemiskinan ini menegaskan betapa pentingnya kesiapan sumber daya manusia dan pendidikan sebagai ruang pembentukan.
Vivi juga menegaskan agar anak muda tidak pesimis dengan masa depan namun menghadapinya dengan kesiapan. Ia mencontohkan sejarah disrupsi teknologi terjadi berkali-kali. Dahulu, di masa Socrates ketika cara menulis mulai ditemukan, ia ditakuti karena akan menggantikan peran memori otak kita. Ratu Elizabeth I juga pernah mengatakan, mesin akan mengubah para pekerja menjadi pengemis. Di awal abad 20, pernah juga dikatakan bahwa 100 tahun ke depan manusia tidak perlu bekerja 40 jam seminggu karena akan ada yang menggantikan peran tersebut.
“Artinya ternyata semua hal itu tidak terbukti. Pesimisme yang berlebihan ternyata tidak terjadi, harapan yang utopia juga tidak terjadi. Untuk ke depannya juga seperti itu,” tandasnya.
Ia bahkan melihat banyaknya harapan baru di masa mendatang, di era yang disebut revolusi industri ke-4 ini, berbagai macam platform ekonomi yang berkembang, inovasi teknologi yang melahirkan 3D printing misalnya, internet optik, dan sebagainya, justru akan membuka pasar yang sebelumnya tidak ada.
“Marketnya akan jadi lebih besar, bukan hanya di kecamatan kita, atau di kabupaten kita, atau bahkan bukan hanya di benua kita,” tuturnya.
Selain itu, perkembangan ke depan akan menciptakan inovasi dan efisiensi yang jauh lebih baik. Namun di saat yang sama, ia juga akan tetap bisa melahirkan apa yang disebut dengan “winner takes all“. Situasi ini yang juga terjadi di masa-masa sebelumnya di mana ada pihak yang dikalahkan hingga melahirkan ketimpangan. Di titik ini, kesiapan sumber daya manusia dan pendidikan sebagai ruang pembentukannya menjadi penting dan urgen. (Aj/SatukanIndonesia.com)













