
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Skandal kebocoran data Facebook yang diduga disalahgunakan oleh lembaga riset Cambridge Analytica (CA) untuk kepentingan Pemilihan Presiden AS Donald Trump pada tahun 2016 silam berdampak juga ke Indonesia. Akun pengguna Facebook di Indonesia yang diduga ikut disalahgunakan CA adalah sekitar 1.096.666 akun, walaupun sejatinya kasus ini hanya terjadi di Amerika Serikat (AS) saja.
Dilansir dari laman The Washington Post, kemenangan Trump dalam pilpres AS 2016 lalu diduga tak lepas dari pengaruh lembaga riset Cambridge Analytica (CA). CA memiliki aplikasi pihak ketiga yang terhubung dengan Facebook dan data di dalamnya.
CA melalui Global Science Research membuat aplikasi kuis ThisIsYourDigitalLife yang terafiliasi Facebook. Setelah didapat, data tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memengaruhi tingkah laku pengguna Facebook. Tujuannya tak lain untuk alat kampanye kemenangan Trump saat itu.
Pendiri Facebook Mark Zuckerberg dalam keterangannya didepan Kongres AS mengatakan bahwa data yang diambil bukanlah data-data bersifat pribadi, melainkan informasi yang memang dipampang untuk umum oleh pemilik akun. Informasi dimaksud seperti hari ulang tahun, halaman yang disukai, jaringan pertemanan, dan informasi lain yang di-setting terlihat publik yang mengakibatkan banyak informasi yang diambil oleh CA.
Ketika memberikan testimoni di depan Kongres, Zuckerberg dicecar berbagai pertanyaan oleh Senator Kanapa Harris karena dituding menyembunyikan kasus ini yang sebetulnya terjadi pada 2015. Zuckerberg pun berkilah pihak Facebook mengira Cambridge Analytica telah menghapus data yang mereka panen sehingga kasus dianggap sudah selesai.
Menanggapi skandal kebocoran data akun jejaring sosial milik Mark Zuckerberg ini, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyebut istilah bocor tidak pas untuk mendeskripsikan skandal Cambridge Analytica.
“Itu data Facebook bukan bocor. Kalau bocor kan istilahnya kayak pipa ada air tidak tahu di mana bocornya, ini datanya dikompromikan,” ujar Rudiantara di Jakarta, Kamis (12/04/2018).
Rudiantara pun sudah dua kali melayangkan Surat Peringatan (SP) ke Facebook, namun belum ada tanda-tanda jejaring sosial itu bakal diblokir di Indonesia. Rudiantara juga membantah isu bahwa Indonesia “lunak” terhadap Facebook. Rudiantara justru mengklaim bahwa Indonesia satu-satunya negara di Asia Tenggara paling tegas mengenai hal-hal beginian.
“Indonesia dianggap berani tegas. Negara ASEAN mana lagi yang berani tutup Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) internasional? Hanya Indonesia,” kata dia, Rabu (12/4/2018).













