
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Setahun sudah pandemi Covid-19 di Indonesia, dan sudah setahun pula pembelajaran di tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dilakukan secara daring.
Banyak kendala dialami dalam penerapan pembelajaran daring di Indonesia yang disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya penyebaran jaringan internet di Indonesia yang tidak merata.
Dalam Study Meeting yang diselenggarakan oleh Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), Rabu (24/3/2021), Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa masih banyak kesulitan dalam penerapan pembelajaran secara daring di wilayah Indonesia.
“Dalam situasi normal saja pendidikan kita masih sulit, apalagi dalam keadaan seperti ini (pandemi covid-19)”, ucap Prof. Kambuaya.
“Kondisi yang kita alami berbeda sesuai dengan wilayah kita masing – masing, bahkan di beberapa wilayah ada murid yang harus berjalan jauh untuk mendapatkan sinyal internetnya”, tegasnya.
Bahkan kendala tidak hanya dialami oleh siswa, para pendidik juga kesulitan untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring karena harus menata ulang materi pembelajaran yang sudah ada agar susai dengan metode pembelajaran daring.
Prof. Kambuaya menutup dengan memberi masukan kepada pemerintah agar melakukan Redesign Kurikulum yang ada agar sesuai dengan keadaan dan situasi lingkungan.
Hal senada juga datang dari Harris Iskandar, selaku perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Harris mengatakan bahwa pandemi Covid ini berdampak sangat besar bagi dunia pendidikan, bahkan sejak Maret 2020 sebanyak 176 negara di dunia menutup sekolah akibat pandemi Covid-19.
“Hingga Maret ini (2021) tinggal 20 negara yang masih menutup sekolah akibat pandemi, sedangkan Indonesia sendiri masih beberapa ada yang buka dan setengahnya masih tutup akibat pandemi ini.”, katanya.
Menurutnya, pertimbangan dari Pemerintah Daerah juga menjadi faktor pemberian izin untuk sekolah dapat melakukan pembelajaran tatap muka dengan berbagai pertimbangan dari Pemerintah Daerah.
Harris menegaskan bahwa proses vaksinasi yang saat ini sedang dilaksanakan menjadi senjata utama untuk dapat mewujudkan pembelajaran tatap muka khususnya sesuai dengan target pemerintah dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dibulan Juli mendatang.
“Mei dijadwalkan selesai vaksinasi untuk tenaga pendidik di Indonesia, sehingga diharapkan Juli sudah bisa dilakukan pembelajaran tatap muka”. Ucapnya.
Harris juga menyadari bahwa semakin lamanya program pembelajaran daring ini dilanjutkan semakin besar dampak negatif yang terjadi pada anak, seperti adanya ancaman putus sekolah, kendala terhadap tumbuh kembang anak, hingga tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga.
Di akhir pemaparannya, Harris memberikan catatan untuk setiap sendi masyarakat agar bersatu melawan Covid-19 dengan menerapkan 3M, 3T dan menyukseskan vaksinasi sehingga penerapan pembelajaran tatap muka dapat terlaksana bulan Juli 2021. (FA/SI)













