
SatukanIndonesia.com – Berikut ini 10 peralatan militer paling mahal yang bernilai total lebih dari USD212 juta (Rp3 triliun), menurut laporan Juli 2021 dari Inspektur Jenderal Khusus pemerintah AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR).
Dalam dua dekade terakhir, AS telah menghabiskan miliaran dolar untuk melatih dan mempersenjatai pasukan militer Afghanistan dalam upaya membawa stabilitas ke negara itu.
Dengan penarikan AS dari Afghanistan, banyak peralatan telah ditinggalkan, dengan beberapa sudah jatuh ke tangan Taliban setelah kelompok itu merebut kekuasaan.
Laporan SIGAR menguraikan 10 peralatan militer termahal yang dikirimkan pada kuartal kedua tahun ini selama April dan Juni 2021:
Baca juga: Eks Pasukan Khusus AS Ajari Presiden Atasi Krisis Afghanistan

Pertama
Enam pesawat serang ringan A-29 senilai USD133.512.720 (Rp1,9 triliun).
Kedua
Hampir 200 kendaraan M1151 HMMWV senilai USD41.499.000 (Rp598 miliar).
Ketiga
Hampir 100.000 roket 2,75 inci (amunisi) senilai USD18.480.479 (Rp266 miliar).
Keempat
Lebih dari 60.000 a, munisi berdaya ledak tinggi 40mm senilai USD4.563.000.
Kelima
Total 88.709 kemeja seragam dalam berbagai ukuran senilai USD3.597.150.
Keenam
Amunisi termasuk 884.880 peluru kaliber 50 senilai USD2.703.616.
Ketujuh
Lebih dari 300 transmisi kendaraan hidrolik senilai USD2.339.584.
Kedelapan
Delapan puluh satu mesin diesel senilai USD3.145.233.
Baca juga: Cegah Pengungsi, Erdogan Telepon Tujuh Pemimpin Dunia Bahas Afghanistan
Kesembilan
Lebih dari dua juta kartrid amunisi 7,62 mm senilai USD1.511.700.
Kesepuluh
Hampir lima juta 5,56 kartrid pelatihan amunisi kosong senilai USD1.039.115.
“Dalam proses penarikan pasukan 16 bulan terakhir, Pentagon memindahkan sejumlah besar peralatannya sendiri dari Afghanistan, dan menyerahkan sebagian kepada tentara Afghanistan,” ungkap laporan AFP.
Selama beberapa pekan terakhir Taliban telah menguasai setiap senjata dan peralatan yang ditinggalkan pasukan Afghanistan yang melarikan diri.
“Segala sesuatu yang belum dihancurkan adalah milik Taliban sekarang,” ungkap seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, kepada Reuters.
Namun, masih belum jelas berapa banyak peralatan yang dipasok AS jatuh ke tangan Taliban yang mengambil alih Afghanistan jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan kekuatan Barat.
“Pejabat AS saat ini dan para mantan pejabat mengatakan ada kekhawatiran senjata itu dapat digunakan untuk membunuh warga sipil, disita kelompok ekstremis lain seperti ISIS untuk menyerang kepentingan AS di kawasan itu, atau bahkan berpotensi diserahkan kepada musuh termasuk China dan Rusia,” papar laporan Reuters.
Para ahli mengatakan situasi di Afghanistan telah menunjukkan kebutuhan AS untuk memantau lebih baik peralatan yang diberikan kepada sekutunya.
Baca juga: Putin: Kami Tak Ingin Militan Afghanistan di Rusia
Peneliti Persenjataan Konflik yang berbasis di Inggris Justine Fleischner mengatakan AS bisa berbuat lebih banyak untuk memastikan peralatan yang dikirim ke pasukan Afghanistan dipantau dan diinventarisasi dengan cermat.
Taliban juga berhasil menyita peralatan biometrik militer AS, yang memicu kekhawatiran peralatan itu dapat digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang yang membantu pasukan asing.
(nal/SI)













