Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
MALANG, satukanindonesia.com – Untuk menjaga ketahanan energi Nasional di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia bergerak mencari sumber pasokan minyak mentah alternatif hingga ke Afrika.
Langkah diversifikasi pasokan ini dilakukan agar kebutuhan energi dalam Negeri, tetap terpenuhi tanpa membebani masyarakat.
Hal ini dikatakan Bahlil dalam acara Rakernas III HIPPI Tahun 2026 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, pada tanggal 12 Oktober 2026 lalu yang dikutip, Sabtu (17/10/2026).
Bahlil mengatakan, konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz telah mengganggu jalur utama pengiriman minyak dunia.
“Dulu kita punya, 23 persen crude dari Selat Hormuz. Sekarang dengan Arab Saudi lagi kena begini, nambah lagi. Makanya Menteri ESDM nggak bisa tidur terlalu panjang, karena harus lobi mencari minyak di mana-mana,”katanya.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, pemerintah memperluas penjajakan kerja sama dengan negara-negara produsen minyak, termasuk di Afrika. Bahlil mengaku, turun langsung melakukan pendekatan kepada para pejabat energi negara mitra untuk membuka peluang pasokan bagi Indonesia.
Dalam proses lobi, Bahlil mengemukakan, sempat melontarkan candaan kepada para menteri dan pejabat energi dari negara-negara Afrika untuk mencairkan suasana.
“Jadi, pada saat saya lobi dengan mereka, saya bilang kita ini saudara,”imbuh Bahlil.
Pemerintah, kata Bahlil, terbuka menjalin kerja sama perdagangan minyak mentah dengan negara mana pun selama harga yang ditawarkan kompetitif dan kepastian pasokannya terjamin. Strategi ini ditempuh agar kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi, di tengah ketidakpastian pasar global.
Di tengah upaya mengamankan pasokan, Ketua Umum Partai Golkar itu juga memastikan, harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026.
“Bagaimana caranya, kita jagain untuk tidak naik, dan saya janji BBM untuk subsidi tidak akan naik sampai Desember,”tegasnya.
Tak hanya menjajaki pasokan dari Afrika, kata dia, Indonesia telah mengimpor minyak mentah dari Rusia melalui skema kerja sama antar-pemerintah atau government-to-government (G2G). Diversifikasi sumber impor ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi risiko ketergantungan pada jalur pasokan tertentu.
Bahlil menyebut ,kebutuhan bensin nasional mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Sementara produksi dalam negeri, baru berkisar 18-19 juta kiloliter. Sehingga, sebagian kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, sebut Bahlil, pemerintah merencanakan penerapan mandatori etanol secara bertahap hingga E50. Persiapan menuju 2028 tengah dimatangkan dengan mempertimbangkan kesiapan industri dan ketersediaan bahan baku, di dalam negeri.
“Jangan sampai kita melakukan mandatori, tapi etanolnya kita impor. Nggak boleh,”pesan Bahlil.
Menurutnya, bahan baku etanol telah dipetakan di sejumlah wilayah. Di antaranya Jawa, Sumatera, dan Papua. Untuk penerapan E20, kebutuhan etanol diperkirakan mencapai sekitar 8 juta kiloliter. Bahan bakunya berupa singkong, tebu, dan jagung. Pemenuhan kebutuhan tersebut memerlukan dukungan lahan yang luas.
Katanya, pemerintah berencana memanfaatkan lahan area penggunaan lain (APL) dan hak guna usaha (HGU) telantar, dengan pengelolaan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pemerintah juga mengembangkan, sumber bahan baku alternatif. Proyek percontohan sorgum manis telah berjalan di Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan pengolahan aren di Kamojang memiliki kapasitas produksi 1.000 liter per hari.
Kementerian ESDM juga menerapkan metode hunting, yakni mencari dan menjajaki pasokan secara langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan minyak. [ONE/GRW]