
Jombang, satukanindonesia.com – Anggota Komisi VII DPR RI Banyu Biru Djarot meminta Stasiun RRI yang berada di Jawa Timur serius jalankan peran sebagai lembaga penyiaran publik lokal. Menurutnya keseriusan RRI sebagai bentuk kehadiran negara dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sekaligus membuka kanal partisipasi warga negara. Hal ini sebagaimana keterangan tertulis yang disampaikannya dalam rangka Ulang Tahun RRI Ke-80 (12/9).
“Stasiun RRI yang ada di Jawa Timur harus serius menjalankan peran sebagai lembaga penyiaran publik. Di satu sisi RRI menjadi sarana diseminasi informasi kebijakan dan program pemerintah, di sisi lain RRI harus menjadi salah satu kanal partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara. Ini salah satu hal yang menjadi evaluasi saya sebagai anggota Komisi VII DPR RI.
Pada bagian lain putra politikus dan budayawan senior Eros Djarot ini mengajak untuk mengingat Kembali bagaimana peran radio khususnya RRI dalam sejarah perjuangan hingga paska kemerdekaan. Menurutnya peran signifikan ini harus terus dijaga hingga saat ini. Gelombang disrupsi yang dibarengi merebaknya hoaks menuntut RRI hadir di berbagai platform media.
Apa yang disampaikan Banyu Biru ini, tentu beralasan. Dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur merupakan barometer sosial politik. Pergolakan Jawa Timur tentu akan mempengaruhi stabilitas nasional. Menurut Guntur Cahyana dari Perkumpulan MPI (Mitra Publik Indonesia) diseminasi informasi dan ketersediaan kanal aspirasi masyarakat mutlak diperlukan di Jawa Timur.
Dengan mengambil contoh kerusuhan akhir Agustus lalu, Guntur mengatakan, “Kalau kita berkaca dari peristiwa demonstrasi yang berujung kerusuhan di beberapa tempat akhir Agustus lalu, informasi bercampur hoaks di media sosial menjadi pemicu. Pengrusakan, pembakaran dan penjarahan yang terjadi di Surabaya, Blitar, Kediri dan Madiun salah satunya melalui media khususnya media sosial.”
“Ini kan urusan informasi. Selain itu juga akumulasi kemarahan masyarakat terhadap kondisi yang ada. Disitulah peran media milik pemerintah khususnya RRI dan TVRI sangat dibutuhkan perannya. Sebagai agen diseminasi informasi sekaligus saluran aspirasi masyarakat,” ungkap Guntur yang juga dikenal sebagai aktivis sosial ini.
Pada bagian lain, Guntur menyatakan RRI I harus serius mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Komunitas pendengar dan pemerhati RRI jangan hanya sekedar kumpulan pendengar atau pemirsa saja, tapi juga menjadi sarana partisipasi masyarakat.
“Komunitas pendengar dan pemirsa harus benar-benar difungsikan. Jangan hanya sekedar formalitas belaka. Orangnya itu-itu saja. Buka ruang partisipasi masyarakat untuk bergabung dan pemberi saran aktif,” ungkap Guntur.
Menanggapi hal tersebut, Banyu Biru menyatakan persetujuannya, “Benar, RRI sebagai lembaga penyiaran publik harus benar-benar membuka ruang kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi. Jangan batasi peran dan partisipasi masyarakat termasuk di komunitas pendengar dan pemerhati. Libatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat. RRI hadir untuk seluruh lapisan masyarakat.”
Sebagai lembaga berbasis masyarakat yang bergerak di bidang keterbukaan informasi publik, diseminasi informasi dan monitoring media, Guntur menyatakan MPI siap mendukung apa yang disampaikan oleh Banyu Biru. Menurutnya, ketika RRI melakukan peran sebagaimana disampaikan Banyu Biru, RRI akan dapat mengoptimalkan peran dan tanggung jawabnya.
“Kami sangat mendukung apa yang disampaikan Mas Banyu Biru. Kami akan turut berperan aktif mengawal kinerja RRI di Jawa Timur. Jika diperlukan masukan kami akan berikan masukan baik secara langsung ke Mas Banyu Biru dan pihak terkait lainnya. Termasuk RRI baik manajemen pusat maupun stasiun RRI di Jawa Timur. Tentunya dengan cara yang elegan dan orientasi pada perbaikan kinerja semata, ungkap Guntur.
Menanggapi hal ini, salah satu pemerhati penyiaran khususnya RRI dan TVRI, Immanuel Yosua melihat sinergi dan kolaborasi yang akan dibangun para pihak merupakan cara yang cukup signifikan bagi optimalisasi peran RRI sebagai lembaga penyiaran publik.
“Kolaborasi dan sinergi yang dibangun baik antara RRI dengan anggota legislatif seperti Mas Banyu Biru dan lembaga berbasis masyarakat seperti MPI akan menghadirkan nuansa luar biasa. RRI akan menjadi bagian integral masyarakat sebagaimana tujuan didirikannya RRI,” ungkap Yosua yang juga anggota KPID Jatim 2016-2025.
Pada bagian lain mantan Komisioner Komisi Pelayanan Publik (KPP) Jatim Periode 2012-2016 ini juga mengapresiasi komitmen Banyu Biru dalam mengawal penyiaran. Dalam kesempatan tersebut ia berkisah bagaimana Banyu Biru turut memperjuangkan nasib pegawai RRi beberapa bulan yang lalu
Hingga saat ini, di Jawa Timur terdapat 5 Stasiun RRI dengan beberapa perwakilan, Stasiun RRI terletak di Surabaya, Malang, Madiu, Jember dan Sumenep. Dengan jumlah tersebut, RRI memiliki coverage area lebih dari 30 Kabupaten/Kota Di Jawa Timur. (Yosua)













