
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Seperti situasi saat ini, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia tidak menyurutkan semangat para elite politik untuk terus mencari popularitas, serta memoles citra dirinya untuk kepentingannya sendiri, bagaimana tanggapan kita sebagai rakyat menanggapi manuver elite politik dalam berburu popularitas di tengah situasi pandemi saat ini yang melanda Indonesia? mari kita renungkan didalam hati.
Sejumlah politikus menggunakan berbagai cara berbeda untuk meraih simpati masyarakat. Salah satunya seperti pemasangan iklan politik berupa baliho hingga billboard yang belakangan ini gencar dilakukan oleh Ketua DPR sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Baliho tersebut kini sudah banyak tersebar di daerah-daerah. Peletakannya baliho tersebut bervariasi. Mulai dari yang dipajang secara legal di tempat yang sudah disediakan hingga dipasang pada tiang-tiang listrik.
Baca juga: Sumbangan Rp2 T Dari Keluarga Akidi Tio Hanya Fiktif, PPATK Akan Lapor ke Kapolri

Tak hanya baliho Puan dan Airlangga, kemenangan atlet-atlet Indonesia pada berbagai cabang olahraga di Olimpiade Tokyo 2020 juga dijadikan objek bagi para politikus.
Pengamat Politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin mengatakan upaya pemasangan baliho hingga mengucapkan selamat bagi atlet yang berprestasi di Olimpiade merupakan fenomena para politikus di Indonesia sedang berburu popularitas di tengah pandemi.
“Arahnya ke sana, berburu popularitas. Mereka para politikus memanfaatkan momentum. Atau mereka menunggangi momentum untuk mencari popularitas. Caranya dengan menunggangi kesuksesan atlet yang raih prestasi di Tokyo, mau pun buat spanduk-spanduk di jalanan yang ingatkan protokol kesehatan seperti Puan,” kata Ujang Senin (3/7) malam.
Ujang mengatakan menyampaikan selamat kepada atlet menjadi strategi politikus untuk ikut mengkapitalisasi popularitas dari masyarakat. Sebab, perhatian utama masyarakat saat itu tengah tertuju ke ke arah para atlet yang berprestasi. Baca juga: Survei Indostrategic: Demokrat dan PKS Mengekor di Bawah PDIP dan Gerindra!

Hal senada juga dilakukan para politikus yang memasang banyak baliho. Mereka tengah berupaya melakukan sosialisasi diri sejak jauh-jauh hari untuk persiapan pilpres 2024 mendatang.
“Meski pakai cara-cara lama. Tapi masih efektif. Baliho misalnya, karena masih banyak penduduk di pedesaan, maka strategi itu masih efektif di daerah pedesaan. Makanya calon-calon presiden masang di situ,” kata Ujang.
Ujang menambahkan, tidak ada larangan bagi politikus untuk memberikan ucapan selamat kepada para pemenang olimpiade baik maupun memasang banyak baliho di tengah pandemi.
Meski demikian, etika politik para politikus tersebut dinilai kurang baik. Sebab, tindakan tersebut bersinggungan dengan kondisi pandemi di Indonesia.
Sementara Menurut Advokat Maruli Tua Silaban di kantor MTS Assosiates Law Firm, Maruli mengatakan, ”Paling tidak, para politisi tetap menjaga dan mengedepankan etika politik yang santun, tetap menjaga suasana kedamaian dan kerukunan hidup, harmoni hidup bersama, tidak mengadu domba dan tidak membenturkan antar pemeluk agama yg berbeda. Politisi tidak mempolitisasi agama.”
Baca juga: Arief Poyuono Kritik Pengecatan Ulang Pesawat Presiden, “Engga Ada Manfaatnya Bagi Masyarakat”

Meski demikian, idealnya para politikus lebih menunjukkan aksi nyata di tengah masyarakat saat kondisi serba kesusahan saat ini. Ketimbang terus memoles citra dan beretorika yang pada ujungnya demi kepentingan pribadi.
(nal/SI)













