
Satukanindonesia.com – Menelusuri jejak ekspedisi Belanda dan Amerika yang mengangkat budaya Papua ke pentas dunia sekaligus mempertanyakan siapa sesungguhnya yang berhak atas narasi itu.
Budaya Papua dikenal sebagai salah satu warisan budaya tertua dan paling unik di dunia. Klaim bahwa kekayaan budaya Papua “mulai dikenal dunia” sejak dekade 1920-an bukan sekadar legenda lisan, melainkan dapat ditelusuri pada rangkaian ekspedisi ilmiah, militer, dan kolonial Belanda yang kemudian disambung oleh ekspedisi gabungan Amerika-Belanda yang secara sistematis mendokumentasikan suku, ritus, benda budaya, dan kehidupan masyarakat Papua untuk dibawa, dipamerkan, dan dipelajari di Eropa dan Amerika Serikat.
Artikel ini menelusuri jejak tersebut berdasarkan sumber-sumber Belanda dan internasional, sekaligus mengajukan pertanyaan yang lebih tajam. ‘Apakah proses “pengenalan dunia” terhadap Papua itu merupakan bentuk penghormatan ilmiah, atau justru babak awal dari perampasan budaya yang hasilnya ribuan benda dan ratusan ribu foto hingga kini masih tersimpan di museum-museum Eropa, jauh dari tanah asalnya?
Akar Ekspedisi. Dari Eksplorasi Militer ke Penelitian Ilmiah (1907–1915)
Sebelum dekade 1920-an, pemerintah kolonial Hindia Belanda telah melakukan eksplorasi militer di Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea) sejak 1907 hingga 1915, atas dorongan tokoh seperti Hendrikus Colijn kepada Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz.
Eksplorasi delapan tahun ini menelan korban hingga 140 prajurit, namun menghasilkan pemetaan topografi yang sangat rinci serta penemuan suku-suku Papua yang sebelumnya tidak tercatat dalam arsip Eropa.
Dari rangkaian ekspedisi tersebut, hampir 8.850 benda etnografis berhasil dikumpulkan dan dikirim ke museum-museum di Belanda.
Tujuan eksplorasi ini sebagian bersifat politis menegaskan klaim kedaulatan Belanda atas wilayah tersebut, namun secara tidak langsung ia juga menjadi fondasi dokumentasi budaya Papua yang pertama dalam skala besar.
Ekspedisi Nugini Utara dan Tengah. Awal Kajian Antropologi Papua, salah satu ekspedisi paling penting dalam sejarah pendokumentasian budaya Papua adalah ekspedisi yang dipimpin oleh ahli geologi Arthur Wichmann pada awal abad ke-20, yang melibatkan tokoh-tokoh seperti H.A. Lorentz dan dokter sekaligus antropolog fisik G.A.J. van der Sande. Van der Sande tercatat menyusun kajian mendalam mengenai budaya dan ciri fisik orang Papua, sekaligus mendokumentasikan secara fotografis kehidupan masyarakat yang ia temui termasuk mengumpulkan benda-benda etnografis di sepanjang perjalanan.
Pendekatan ini menjadi pola baku ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Penjelajahan ilmiah yang sekaligus berfungsi sebagai operasi pengumpulan koleksi etnografis bagi museum-museum di Belanda.
Memasuki tahun 1920-an, fondasi tersebut diperluas melalui Centraal Nieuw-Guinea Expeditie (1920–1922), Ekspedisi Nugini Tengah yang diselenggarakan dan dibiayai oleh Indisch Comité voor Wetenschappelijke Onderzoekingen (Komite Hindia untuk Penelitian Ilmiah).
Ekspedisi ini berupaya menembus dari pantai utara menuju puncak Wilhelmina (kini Puncak Trikora) yang diselimuti salju abadi di pegunungan tengah Papua.
Tim ilmiah yang terlibat mencakup ahli geologi P.F. Hubrecht, ahli zoologi W.C. van Heurn, ahli botani H.J. Lam, serta tenaga yang secara khusus ditugaskan menangani penelitian etnografis (Jongejans) dan antropologi fisik (Bijlmer) apabila ekspedisi bertemu kelompok masyarakat yang belum tercatat sebelumnya.
Ekspedisi ini meneruskan rangkaian tiga Ekspedisi Nugini Selatan sebelumnya (1907–1913), yang juga menjadikan puncak Wilhelmina sebagai tujuan akhir penjelajahan dari sisi selatan.
Ekspedisi Stirling 1926–1927. Ketika Amerika Bergabung dengan Belanda. Tonggak penting lain yang sering disebut dalam literatur internasional adalah Stirling Expedition (1926–1927), ekspedisi gabungan Belanda-Amerika ke pedalaman Pegunungan Carstensz (Pegunungan Salju) di Nugini Belanda Tengah. Dipimpin oleh antropolog Amerika Matthew W. Stirling yang sebelumnya bekerja di Smithsonian Institution ekspedisi ini melibatkan sekitar 400 peserta, termasuk 75 tentara Ambon, 130 pendayung suku Dayak, dan 250 tahanan asal India yang bertugas sebagai pengangkut barang. Tokoh Belanda penting dalam ekspedisi ini adalah topograf dan etnograf Charles Constant le Roux, serta ahli biologi dan botani Willem Docters van Leeuwen.
Ekspedisi ini berlangsung dari April hingga Desember 1926 di bawah naungan Smithsonian Institution (Washington, D.C.) bersama Indisch Comité voor Wetenschappelijke Onderzoekingen (Batavia, Hindia Belanda).
Hasilnya sangat besar. Lebih dari 500 benda etnografis termasuk benda-benda dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang pada masa itu digambarkan dalam istilah kolonial sebagai masyarakat “zaman batu” kini tersimpan di tiga museum etnografi utama Belanda, yaitu di Leiden, Amsterdam, dan Rotterdam.
Selain koleksi benda, ekspedisi ini juga menghasilkan lebih dari 700 foto dan sekitar dua jam rekaman film, yang kini didigitalkan dan dapat diakses melalui publikasi daring Smithsonian Institution, “By Aeroplane to Pygmyland: Revisiting the 1926 Dutch and American Expedition to New Guinea.”
Museum-Museum Belanda sebagai “Gerbang” Pengenalan Dunia
Hasil dari rangkaian ekspedisi tersebut tidak berhenti di lapangan. Ribuan benda dan ratusan ribu foto dikirim ke institusi-institusi Belanda yang kemudian menjadi pintu masuk dunia internasional untuk “mengenal” Papua : Koninklijk Instituut voor de Tropen / Tropenmuseum (kini bagian dari Wereldmuseum, hasil penggabungan dengan Museum Volkenkunde Leiden dan Afrika Museum sejak 2014), menyimpan koleksi yang pada masanya mencapai hampir 175.000 benda dan sekitar 485.000 foto, termasuk koleksi besar dari Papua dan Nugini.
KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), yang sejak sekitar 1890 secara sistematis mengumpulkan foto-foto untuk mendokumentasikan Hindia Belanda termasuk Papua dan kini tersimpan di Universitas Leiden.
Museum-museum ini secara rutin menggelar pameran kolonial dan pameran dunia (Koloniale Wereldtentoonstellingen) antara 1870–1940 yang menampilkan benda dan gambar dari Papua kepada publik Eropa, menjadikan budaya Papua sebagai objek tontonan sekaligus objek kajian ilmiah bagi masyarakat Barat.
Melalui jalur inilah ekspedisi, koleksi, pameran, dan publikasi ilmiah seperti jurnal Nova Guinea budaya Papua, mulai dari ukiran, rumah adat, ritus adat, hingga kerajinan seperti noken, mulai dikenal di kalangan akademisi dan publik Eropa serta Amerika pada dekade 1920-an.
Pertanyaan yang Tidak Boleh Dihindari
Di sinilah letak sisi kontroversial dari narasi “Budaya Papua dikenal dunia sejak 1920-an” yang sering diceritakan secara romantis. Setidaknya tiga hal patut dipertanyakan secara jujur. Siapa yang sebenarnya “menemukan” budaya Papua? Masyarakat Papua telah hidup dengan adat, bahasa, dan sistem nilai mereka sendiri ribuan tahun sebelum kapal-kapal Eropa tiba. Frasa “dikenal dunia” pada dasarnya berarti “dikenal oleh Eropa dan Amerika” sebuah sudut pandang yang menempatkan pengakuan Barat sebagai standar keberadaan sebuah budaya.
Atas dasar apa benda-benda budaya itu dikumpulkan? Sebagian ekspedisi berlangsung dalam konteks eksplorasi militer yang bertujuan menegaskan klaim teritorial kolonial, bukan semata kepentingan ilmiah netral. Pengumpulan ribuan artefak terjadi dalam relasi kuasa yang sangat tidak setara antara penjelajah bersenjata dan masyarakat lokal.
Di mana seharusnya benda-benda dan dokumentasi itu berada hari ini? Ratusan ribu foto dan ribuan benda etnografis Papua kini tersimpan di museum-museum Belanda, jauh dari komunitas asalnya memunculkan perdebatan repatriasi koleksi kolonial yang terus berlangsung hingga kini di Belanda, termasuk di lingkungan Wereldmuseum sendiri.
Warisan yang Harus Dijaga, Narasi yang Harus Diluruskan. Terlepas dari konteks kolonial yang melingkupi sejarah pendokumentasiannya, fakta bahwa budaya Papua telah menjadi bagian dari kajian ilmiah dan koleksi dunia sejak awal abad ke-20 menunjukkan betapa kayanya warisan budaya ini.
Keberagaman suku, bahasa, tarian adat, ukiran, noken, rumah adat, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Papua tetap menjadi kekayaan yang hidup hingga kini, diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun demikian, mengenang sejarah ini secara jujur berarti tidak menutup mata pada konteks kolonial di baliknya. Budaya Papua bukan “ditemukan” oleh ekspedisi Belanda dan Amerika pada 1920-an budaya itu telah lama ada. Yang sebenarnya terjadi pada masa itu adalah dunia Barat mulai “menyadari” keberadaannya, seringkali melalui cara yang tidak melibatkan persetujuan penuh dari masyarakat Papua sendiri.
Tanggung jawab generasi sekarang bukan hanya melestarikan adat istiadat sebagai identitas, tetapi juga meluruskan narasi sejarah agar masyarakat Papua menjadi subjek, bukan sekadar objek, dari kisah budayanya sendiri. [***/GRW]
Oleh
Dr. Timed Magayang, S. IP., M. Si













