
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan akan tetap mempertahankan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level rendah pada 2021. Pasalnya, tingkat inflasi selama pandemi Covid-19 masih tergolong rendah, di mana inflasi 2020 hanya sebesar 1,68%.
“BI akan mempertahankan Suku bunga BI7DRR tetap rendah sampai ada tanda-tanda inflasi meningkat,” kata Perry Warjiyo dalam Focus Group Discussion (FGD) Gubernur BI, dengan Pimpinan Redaksi Media Massa secara virtual, Senin (25/1/2021).
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar 20-21 Januari 2021 lalu, BI7DRR tetap dipertahankan sebesar 3,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,50%.
Perry menyampaikan, likuiditas longgar juga akan dipertahankan sampai ada tanda tekanan inflasi meningkat. Pada 2020, Bank Indonesia telah menambah likuiditas (quantitative easing/QE) di perbankan sekitar Rp 726,6 triliun (4,69% PDB).
QE selama 2020 tersebut dilakukan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder Rp 166,2 triliun, term repo dan FX swap perbankan Rp 389,6 triliun, penurunan GWM rupiah 300 bps sekitar Rp 155 triliun, dan tidak mengenakan tambahan giro untuk RIM (rasio intermediasi makroprudensial) Rp 15,8 triliun.
Sementara itu, untuk posisi kepemilikan SBN oleh BI hingga 20 Januari 2021 tercatat Rp 898,5 triliun. Jumlah tersebut termasuk realisasi pembelian SBN dari pasar perdana berdasar Keputusan Bersama Gubernur BI-Menteri Keuangan pertama sebesar Rp 75,9 triliun serta Keputusan Bersama kedua sebanyak Rp 397,6 triliun pada tahun 2020. (*)













