
BAGHDAD, SatukanIndonesia.com – Pasukan Amerika Serikat di Irak dan Suriah diserang beberapa kali setelah kunjungan delegasi Iran yang dipimpin kepala intelijen Garda Revolusi Hossein Taeb.
Seorang komandan senior Garda Revolusi Iran mendesak milisi Syiah Irak meningkatkan serangan terhadap target-target Amerika Serikat (AS) selama pertemuan di Baghdad pekan lalu.
Baca juga: Kerusuhan di Afrika Selatan 72 Orang Tewas, Banyak ATM Dibobol
Informasi itu berdasarkan keterangan tiga sumber milisi dan dua sumber keamanan Irak yang mengetahui pertemuan itu pada Reuters. Serangan milisi terjadi setelah serangan udara mematikan oleh AS terhadap milisi yang didukung Iran di perbatasan Suriah-Irak pada 27 Juni.
“Selain mendorong pembalasan, Iran menyarankan Irak tidak pergi terlalu jauh untuk menghindari eskalasi besar,” papar tiga sumber milisi menjelaskan pertemuan itu.
Baca juga: Kelompok Neo-Nazi Bangkit, Inggris Kalang Kabut!
“Namun, Iran menyarankan para milisi memperluas serangan mereka dengan membalas terhadap pasukan AS di Suriah,” ungkap salah satu dari tiga sumber milisi, seorang komandan senior milisi lokal dalam pertemuan tersebut.
Gejolak itu muncul ketika perbedaan signifikan mengaburkan upaya diplomatik menghidupkan kembali perjanjian nuklir Iran 2015, yang ditinggalkan mantan Presiden AS Donald Trump tetapi Iran ingin dipulihkan untuk memungkinkannya melanjutkan ekspor minyak.
Baca juga: Sebut Seluruh Dunia Berlutut pada Yahudi, Presiden Belarusia di Kecam Israel
Seorang pejabat senior di wilayah tersebut, yang diberi pengarahan oleh otoritas Iran tentang kunjungan Taeb, mengatakan Taeb bertemu beberapa pemimpin milisi Irak selama perjalanan dan menyampaikan “pesan pemimpin tertinggi kepada mereka tentang menjaga tekanan pada pasukan AS di Irak sampai mereka meninggalkan wilayah itu.”
Sejak serangan udara AS, serangan terhadap pasukan dan personel AS atau pangkalan di mana mereka beroperasi telah meningkat di Irak dan meluas ke Suriah timur.
Kementerian Luar Negeri Iran tidak segera menanggapi pertanyaan dari Reuters untuk artikel ini, dan pejabat di kantor hubungan masyarakat Garda Revolusi tidak segera tersedia untuk dimintai komentar.
Utusan Iran untuk PBB bulan ini membantah tuduhan AS bahwa Teheran mendukung serangan terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah. Baca juga: Peneliti Korut Sebut Bantuan Kemanusiaan AS Sebagai ‘Rencana Politik Jahat
Dia mengutuk serangan udara AS terhadap gerilyawan yang didukung Iran di sana. Tidak ada tanggapan segera dari pemerintah Irak atau kantor perdana menteri Irak untuk pertanyaan tentang pertemuan itu.
Sumber yang berbicara dengan Reuters melakukannya dengan syarat anonim karena sensitivitas subjek.
(nal/SI)













