
JAKARTA, satukanindonesia.com – Falahi Mubarok, wartawan Mongabay Indonesia, bertemu langsung dengan Goenawan Mohamad menjadi salah satu pengalaman yang sulit dilupakan.
Kesempatan itu hadir pada acara penyerahan Penghargaan Oktovianus Pogau yang diberikan Yayasan Pantau kepada jurnalis muda Papua, Christ Belseran, di Teater Salihara, Jakarta, pada tanggal 4 Juni 2026.
Bagi Falahi, yang selama ini mengenal Goenawan Mohamad hanya melalui buku dan karya-karyanya, pertemuan tersebut terasa istimewa. Salah satu buku yang membentuk pandangannya tentang dunia jurnalistik adalah Seandainya Saya Wartawan Tempo, karya pendiri Majalah Tempo tersebut.
Undangan menghadiri acara itu datang dari Andreas Harsono, jurnalis senior dan pegiat kebebasan pers yang juga dikenal melalui bukunya “Agama” Saya Adalah Jurnalisme.
Dalam acara tersebut, Andreas Harsono menjelaskan alasan Yayasan Pantau memberikan Penghargaan Oktovianus Pogau kepada Christ Belseran.
Menurut Andreas, Christ dinilai berani memperjuangkan hak-hak masyarakat adat melalui karya-karya jurnalistiknya. Ia tidak hanya menulis dari kejauhan, tetapi hidup bersama masyarakat adat, masuk ke hutan, mendengar langsung cerita mereka, dan mengikuti kehidupan sehari-hari mereka.
“Keberanian seperti itu bukan perkara sederhana bagi seorang jurnalis,”katanya dalam siaran pers Penghargaan Oktovianus Pogau yang diterbitkan Yayasan Pantau, Rabu (10/06/2026).
Setelah penyerahan penghargaan, Goenawan Mohamad yang akrab disapa GM diminta menyampaikan sambutan.
Meski usianya tidak lagi muda dan baru menjalani operasi, GM tetap tampil tenang.
Dengan bantuan tongkat, ia berbicara runtut tentang masa kecilnya, keluarganya, perjalanan mendirikan Tempo, hingga berbagai pengalaman yang membentuk pandangannya mengenai kehidupan dan jurnalisme.
Diantara banyak cerita yang disampaikan, ada satu kalimat yang membekas kuat bagi para peserta.
“Keberanian memang penting. Tapi jangan lupa integritas.”
Kalimat singkat itu menjadi inti dari seluruh perbincangan sore itu.
Bagi GM, keberanian tanpa integritas hanya akan berubah menjadi pertunjukan. Sebaliknya, integritas adalah fondasi yang menjaga jurnalisme tetap berpihak pada kebenaran.
Goenawan Mohamad sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh pers paling berpengaruh di Indonesia. Berbagai penghargaan internasional pernah diterimanya, antara lain SEA Write Award, A Teeuw Award, Louis M. Lyons Award dari Universitas Harvard, penghargaan dari Committee to Protect Journalists, World Press Review Editor of the Year, The Japan Foundation Award, hingga penghargaan seni dan budaya dari Pemerintah Prancis serta Kerajaan Spanyol.
Sesi berikutnya diisi dengan diskusi terbuka. Sejumlah peserta dari berbagai daerah mengajukan pertanyaan tentang jurnalisme, kebudayaan, demokrasi, hingga pengalaman hidup GM.
Salah satu pertanyaan datang dari Bagus Hartanto yang menanyakan bagaimana GM menjalani masa kecil sebagai anak yatim.
GM bercerita bahwa ayahnya, Zaid Mohamad, pernah dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Boven Digoel pada 1926 selama empat tahun.
Setelah kembali ke Jawa, sang ayah kembali menjadi korban kekerasan kolonial dan ditembak mati pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1947 ketika GM baru berusia enam tahun.
Meski tumbuh tanpa ayah, GM mengaku, menemukan kekuatan melalui kebiasaan membaca.
“Mungkin saya menjadi haus pengetahuan, karena sejak kecil dibiasakan mencintai buku,”ujarnya.
Ia bahkan masih mengingat satu penyesalan masa mudanya: kehilangan kamus Webster milik ayahnya.
Ketika ditanya mengenai kondisi demokrasi Indonesia dan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, GM memilih menjawab dengan nada reflektif.
Menurutnya, orang yang semakin tua cenderung menjadi lebih pesimis karena merasa telah melihat terlalu banyak pengalaman. Sebaliknya, anak muda selalu membawa optimisme dan keyakinan akan perubahan. Karena itulah ia senang berdiskusi dengan generasi muda.
Diskusi berlangsung hangat selama sekitar satu jam lima belas menit. Tidak ada pertanyaan yang dianggap sepele. Semua mendapat perhatian dan jawaban yang penuh pertimbangan.
Bagi Falahi, pelajaran terbesar dari pertemuan itu bukan hanya tentang jurnalisme.
Ia melihat bahwa yang membuat seseorang menjadi besar bukan semata-mata karya atau reputasinya, melainkan kesediaannya untuk terus belajar, mendengar, dan tetap rendah hati.
Ketika acara berakhir, GM berjalan perlahan menuju lift dengan bantuan tongkat. “Maaf, saya baru selesai operasi,”katanya singkat.
Namun di balik langkah yang pelan itu, tersimpan keteguhan seorang tokoh yang selama puluhan tahun ikut membentuk sejarah pers Indonesia.
Falahi pulang bukan hanya membawa foto atau kenangan. Ia membawa sebuah pengingat penting.
Bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar soal keberanian mengungkap fakta, melainkan juga menjaga integritas ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan di tengah dunia yang semakin gaduh oleh opini, kemampuan untuk mendengar dengan sungguh-sungguh mungkin menjadi bentuk kebijaksanaan yang semakin langka. [GRW]










