• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Kekerasan Aparat di Aksi Buruh 2025, Amnesty : Pemerintah Indonesia Semakin Otoriter

Kekerasan Aparat di Aksi Buruh 2025, Amnesty : Pemerintah Indonesia Semakin Otoriter

Mei 5, 2025
Puluhan Selongsong Peluru Ditemukan di Lokasi Penembakan Warga Sipil di Maybrat

Puluhan Selongsong Peluru Ditemukan di Lokasi Penembakan Warga Sipil di Maybrat

September 2, 2026
Freeport Indonesia Salurkan Bantuan Rp2,5 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Freeport Indonesia Salurkan Bantuan Rp2,5 Miliar untuk Korban Gempa NTT

September 2, 2026
ADVERTISEMENT
Bentuk Generasi Muda Bervisi Maritim, Tangguh, dan Siap Hadapi Era Disrupsi  TNI AL Gelar Apel Saka Bahari 2026

Bentuk Generasi Muda Bervisi Maritim, Tangguh, dan Siap Hadapi Era Disrupsi  TNI AL Gelar Apel Saka Bahari 2026

September 2, 2026
GKI di Tanah Papua Harus Tetap Berdiri Diatas Sejarah

GKI di Tanah Papua Harus Tetap Berdiri Diatas Sejarah

September 2, 2026
Dorong Pertumbuhan Ekonomi, BP Batam dan Pemko Batam Genjot Penataan Infrastruktur dan Ruang Kota

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, BP Batam dan Pemko Batam Genjot Penataan Infrastruktur dan Ruang Kota

September 2, 2026
Eri Palgunadi Raih Penghargaan Best Chief Marketing Officer (CMO) Award 2026

Eri Palgunadi Raih Penghargaan Best Chief Marketing Officer (CMO) Award 2026

September 2, 2026
Menuju 2029, PROJO Didorong Bertransformasi Jadi Partai : DPD Kepri Bicara Soal Masa Depan

Menuju 2029, PROJO Didorong Bertransformasi Jadi Partai : DPD Kepri Bicara Soal Masa Depan

September 2, 2026
Wali Kota Bekasi Apresiasi Penampilan Wayang Ajen, Turut Meriahkan Malam Pembuka PNBK Jilid III di Plaza Patriot

Wali Kota Bekasi Apresiasi Penampilan Wayang Ajen, Turut Meriahkan Malam Pembuka PNBK Jilid III di Plaza Patriot

September 1, 2026
Anggaran Bakom Rp1,9 Triliun, Wakil Ketua Komisi III DPR RI : Jangan Sampai Approval Rating Rendah

Anggaran Bakom Rp1,9 Triliun, Wakil Ketua Komisi III DPR RI : Jangan Sampai Approval Rating Rendah

September 1, 2026
Eksplorasi SDA Papua Harus Sejalan dengan Manfaat Ekonomi dan Investasi SDM Lokal

Eksplorasi SDA Papua Harus Sejalan dengan Manfaat Ekonomi dan Investasi SDM Lokal

September 1, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Rabu, September 2, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Daerah

Kekerasan Aparat di Aksi Buruh 2025, Amnesty : Pemerintah Indonesia Semakin Otoriter

[Daerah]

Mei 5, 2025
in Daerah, News
0
0
SHARES
216
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
FOTO : Tindakan represif aparat kepolisian terhadap peserta aksi damai peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2025 di salah satu kota di Indonesia//ISTIMEWA

JAKARTA, SatukanIndonesia.com – Amnesty International Indonesia mengecam keras tindakan represif aparat kepolisian terhadap peserta aksi damai peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2025 di berbagai kota di Indonesia.

 

Demikian diungkapkan Deputi Direktur Amnesty International Indonesia, Wirya Adiwena melalui siaran pers, yang dikutip media ini, Selasa (05/05/2025).

Ia menilai, tindakan brutal polisi merupakan cerminan praktik otoritarianisme yang terus berlangsung di Indonesia.

“Sekali lagi aparat memperlihatkan taktik yang brutal, kejam dan tidak manusiawi terhadap peserta aksi damai Hari Buruh Internasional. Ini bukti pemerintah Indonesia terus membungkam kebebasan berekspresi dan berkumpul,”ujar Wirya.

Amnesty menyoroti, pelanggaran serius HAM oleh kepolisian, seperti penggunaan kekuatan berlebihan, penyiksaan, penangkapan semena-mena, hingga serangan terhadap jurnalis dan petugas medis. Insiden tercatat di berbagai wilayah, termasuk Jakarta dan Semarang.

Di Jakarta, aparat dilaporkan membubarkan paksa aksi damai mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR Senayan. Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyebut aparat melakukan penggeledahan barang pribadi secara tidak sah dan menuduh sejumlah mahasiswa sebagai kelompok “anarko” tanpa dasar jelas.

Sekira pukul 17.00 WIB, aparat membubarkan massa dengan kekerasan, menggunakan gas air mata dan meriam air. Setidaknya 14 orang ditangkap, termasuk empat tenaga medis yang tengah bertugas. Mereka dilaporkan mendapat kekerasan fisik, termasuk pukulan di kepala dan leher.

TAUD mencatat 13 dari 14 orang mengalami luka serius, termasuk tiga korban dengan luka bocor di kepala. Seorang perempuan mengaku mengalami pelecehan seksual oleh aparat.

Kekerasan juga dialami jurnalis media progreSIP berinisial Y yang sedang merekam aksi. Ia dianiaya oleh sekitar sepuluh orang tak berseragam yang diduga polisi. Meski sudah menunjukkan identitas pers, Y dipukuli dan dipaksa menghapus rekaman.

Sementara di Semarang, LBH Semarang melaporkan penggunaan gas air mata yang bahkan menyasar ke posko medis. Sedikitnya 14 peserta aksi ditahan secara sewenang-wenang.

Jurnalis Tempo berinisial JAN mengalami dua kali serangan dari aparat saat meliput, termasuk percobaan pembantingan di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, dan pemukulan saat peliputan di kampus Undip Pleburan.

Tak hanya itu, DS, pimpinan redaksi pers mahasiswa, mengalami luka robek di wajah akibat pemukulan saat merekam kekerasan. Empat anggota Lembaga Pers Mahasiswa di Semarang juga menjadi korban kekerasan aparat.

Amnesty menyebut, tindakan kekerasan ini terus terjadi karena tidak adanya akuntabilitas dalam tubuh Polri.

“Lingkaran impunitas terus mengakar kuat, karena tidak ada penghukuman terhadap pelaku maupun atasan mereka,”kata Wirya.

Untuk itu, Amnesty mendesak Polri untuk segera menghentikan taktik represif, mengusut tuntas kekerasan yang terjadi, serta membebaskan seluruh peserta aksi damai yang ditahan.

Amnesty juga menyerukan DPR, Kompolnas, dan lembaga pengawas lainnya, untuk mengevaluasi kepemimpinan Polri.

Ditambahkannya, berulangnya kekerasan polisi harus menjadi alarm bagi Komisi III DPR untuk menggunakan hak angket atau interpelasi.

“Praktik yang dibiarkan tanpa perbaikan selama bertahun-tahun, harus disikapi kritis sebagai kebijakan negara,”tandasnya. [**/GRW]

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: 1 Mei 2025Aksi Buruh 2025Amnesty International IndonesiaPolisi
ShareTweetSend

Related Posts

Menteri HAM Larang Begal Ditembak, Polisi: Keselamatan Warga yang Utama!

Menteri HAM Larang Begal Ditembak, Polisi: Keselamatan Warga yang Utama!

Mei 24, 2026
Keroyok Aktivis, Sejumlah Anggota Polisi di Papua Barat Resmi Dipolisikan

Keroyok Aktivis, Sejumlah Anggota Polisi di Papua Barat Resmi Dipolisikan

Oktober 2, 2025
Perkuat Sinergitas, Polisi Bertemu Wartawan Papua Barat

Perkuat Sinergitas, Polisi Bertemu Wartawan Papua Barat

Juni 5, 2025

Dukung Pernyataan DPR RI, Polisi Didesak Tindak Penambang Emas Ilegal di Pegaf

Juni 1, 2025

Polisi Musnahkan Barang Bukti Ganja seberat 6 Kilogram di Sorong

Maret 25, 2025
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?