
Konsekuensi Pemimpin Jahat dan Nakal
oleh:
Gurgur Manurung*

Jakarta, SatukanIndonesia.com – Dalam kehidupan sehari-hari sejak kuliah, saya senang bergaul. Senang pula mengamati perilaku manusia di gereja, tempat kerja dan berbagai organisasi. Organisasi kerohanian, sosial, komunitas dan profesi. Beragam organisasi saya ikuti dan melihat perilaku.
Jika saya amati, berbagai macam perilaku manusia. Manusia itu ada yang sangat baik, baik, biasa saja. Ada pula yang jahat sekali, nakal sekali dan kompromistis.
Dalam merebut pucuk pimpinan organisasi berbagai intrik dilakukan manusia untuk duduk menguasai organisasi. Biasanya, orang seperti itu licik dan selalu mencari celah kelemahan aturan organisasi.
Karena perilaku itulah, jangan heran jika jabatan organisasinya tinggi tetapi pemikirannya dangkal. Bahkan cenderung jabatan organisasi disalahgunakan. Tidak sedikit orang yang kelihatan “sukses” masuk penjara. Hampir saya pastikan, orang yang korup dan salah gunakan jabatan itu proses mendapatkannya nakal dan jahat.
Cobalah misalnya ada Bupati yang latar belakanya pernah menyuntik gas subsidi. Kegiatan itu sangat jahat sekali. Bayangkan, orang yang pernah kuliah melakukan suntik gas dengan resiko tinggi dan ambil hak orang miskin. Negara melakukan subsidi gas karena ketidakberdayaan rakyat membeli, lalu diakali untuk memperkaya diri? Itu kategori jahat. Jahat sekali perbuatan itu. Hak orang miskin loh.
Memang hukum kita memperbolehkan orang yang pernah jahat untuk pemimpin, dengan syarat mengumumkan ke publik lewat media. Dalam konteks diperbolehkan itulah, maka kelihatan sekali apakah ada niat untuk mengakui dan ingin berubah.
Tanda-tanda niat itu adalah mengumumkan ke sebanyak-banyaknya pembaca atau terjangkau publik. Tidak terkesan asal memenuhi syarat aturan saja dengan cara mencari media yang paling sedikit pembacanya atau direkayasa dengan cara membeli media itu dengan tujuan agar tidak banyak pembacanya. Cara-cara ini menunjukkan, ketidakseriusan untuk tidak mengulangi kejahatan yang pernah dilakukan.
Kalau serius mau bertobat, hal yang dilakukan adalah mengumumkan dengan memilih media paling banyak pembacanya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Pengakuan secara terbuka akan membuat publik percaya akan ada perubahan. Kalau masih berusaha menutupi, dipastikan tidak akan ada perubahan. Kalau ini yang terjadi, maka kelak peluang kejahatan itu akan terulang.
Selain kejahatan, ada lagi istilah nakal. Perilaku nakal berbagai macam tipe. Misalnya, selingkuh itu kategori nakal. Dalam politik, sebetulnya nakal itu masih bisa dikompromikan, karena urusan pribadi. Tetapi, bagus juga diakui soal perilaku nakal ini. Perbuatan nakal yang merugikan diri sendiri tidak begitu dipersoalkan dalam politik. Kecuali, jabatan disalah gunakan untuk urusan kenakalan. Betul, pasti mempengaruhi tetapi publik tidak dirugikan. Dalam konteks inilah saya sebut nakal yang potensi melakukan kejahatan.
Potensi kejahatan dari nakal adalah konflik dengan pasangan selingkuh dan bisa saja tidak mengakui anak hasil hubungan mereka. Dalam konteks inilah cinta bersemi bisa berubah menjadi konflik dahsyat. Karena potensi itu, maka jangan nakal.
Jika seseorang pernah melakukan kejahatan dan kenakalan maka jabatan politik menjadi taruhan. Kegiatan penting untuk jabatan, bisa ditinggalkan untuk memenuhi kebutuhan kenakalan. Bisa saja program jabatan disusun supaya kebutuhan nakal terpenuhi.
Contoh. Pejabat nakal menyusun jadwal ke kota A setiap minggu agar kebutuhan kenakalan terpenuhi. Padahal, jadwal hanya dibuat-buat saja. Tujuan utama memenuhi kebutuhan kenakalan.
Kejahatan dan kenakalan membuat semua merana. Tidak akan pernah daerah kita maju jika pemimpinnya masih bertahan dengan kejahatan dan kenakalannya. Dan, masyarakat pun sibuk dengan kontraversi. Karena sejahat apapun dan senakal apapun selalu ada pendukungnya.
Orang jahat dan nakal pasti mencari anak buah yang menyetujui kejahatan dan mendukung kenakalannya.
Karena itu, Pilkada 2020 adalah momentum kita untuk memilih orang yang memiliki hati yang baik, pikirannya adil, dan tidak pernah lelah bekerja untuk rakyat.
Betapa indahnya dunia ini jika kita memiliki pemimpin yang baik, sederhana, rendah hati dan selalu bersikap adil untuk semua













