
JAYAPURA, SATUKANINDONESIA.Com – Komite Pimpinan Pusat Forum Independen Mahasiswa West Papua (KPPFIM-WP) melakukan aksi menuntut PT. Freeport Indonesia (FI) ditutup.
Masa yang terdiri dari mahasiswa itu melakukan aksi di beberapa titik yaitu Uncen Bawa, Uncen Atas, USTJ dan Expo Waena Kota Jayapura, Papua. Aksi yang dilakukan pada tiga titik itu, dimulai dari jam 09:00 sampai selesai, Senin (07/04/2025).
Aksi itu dijaga pihak kemanan sekitar 30 personil yang tersebar di beberapa titik. Dengan jumlah masa aksi di Uncen Bawa sekitar 16 orang.
Penanggung Jawab aksi di Uncen Bawa Ula Farion mengatakan aksi ini untuk meminta supaya PTFI ditutup karena PTFI hadir hanya membawa dampak buruk bagi orang asli papua. Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Independen West Papua menuntut area penambangan tembaga dan emas di Timika Papua segera ditutup karena tidak memberikan manfaat bagi masyarakat pemilik hak ulayat.
“PT Freeport harus ditutup karena itu penyebab dari semua kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua,”katanya.
Ia juga mengatakan, kegiatan eksploitasi yang dilakukan PTFI hanya memberikan dampak buruk bagi lingkungan hidup masyarakat adat di Timika. Salah satu contoh kongkrit dari hal itu seperti yang dilaporkan Walhi dan beberapa LSM bahwa PTFI membuang limbah B3 ke tanah ulayat suku Kamoro di daratan rendah Mimika dan terdapat unsur logam berbahaya di dalam makanan lokal Masyarakat Kamoro.
“Maka dari itu jika tidak dihentikan hal ini merupakan bentuk pembunuhan secara perlahan bagi orang asli papua terutama suku Kamoro dan perampasan hak atas lingkungan yang sehat bagi masyarakat setempat,”kata Farion.
“Selain itu temuan jaringan advokasi Tambang menunjukkan limbah tailing PTFI hingga saat ini mencapai sekitar 1.187 miliar ton yang dibuang ke beberapa sungai di sana. Permasalahan tersebut merupakan sebagian kecil saja dari penderitaan yang dialami masyarakat papua secara umum akibat eksploitasi yang terus dilakukan PTFI,”katanya.
Ia juga menyampaikan, selama PTFI dibiarkan menguasai sumber daya alam di Papua, maka selama itu juga masyarakat Papua tidak pernah sejahtera dan akan semakin tertindas. Apalagi ini menempatkan banyak aparat TNI dan Polri untuk menjaga area penambangan yang menjadi milik masyarakat.
Kami menuntut agar para pelaku pelanggaran HAM yang selama PTFI beroperasi segara ditangkap dan dihukum.
“Tadi kami mau melanjutkan aksi ke Kantor DPRP cuman kami dibatasi dan dihadang oleh pihak kemanan sehingga kami dibubarkan. Aksi ini dilakukan serentak dibeberapa kota seperti di Jayapura, Nabire dan Sorong,”katanya.
Frengky Edowai salah satu masa aksi, dalam orasinya ia mengatakan PTFI hadir untuk merusak dan merampas sumber daya alam yang masyarakat sudah jaga sejak lama dan tidak memberikan manfaat bagi orang asli papua. Kami menuntut agar PTFI ditutup karena PTFI hanya mendatangkan kejahatan kemanusiaan sejak eksplorasi pertambangan dimulai.
“Kami meminta dan mendesak PTFI di Timika segara ditutup, kami mau supaya konflik kemanusiaan yang terjadi di tanah papua yang sudah lama ini segera diselesaikan maka harus tutup dan kembalikan hak masyarakat,”katanya.
Ia mengatakan, bukan saja PTFI yang ditutup, tapi juga blok wabu yang mau direncanakan untuk dikelola, Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, dan operasi militer di Tanah Papua segera dihentikan. Karena hal-hal tersebut menambah konflik yang berkepanjangan di tanah papua dan merugikan masyarakat.
“Sehingga kami minta kepada penguasa di negara ini segara menghentikan proses penambangan yang dilakukan PTFI, karena itu tidak membawa manfaat dan keuntungan bagi masyarakat. Masyarakat hanya dapat kerugian dan penderitaan,”tandasnya. [**/GRW]













