• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Menagih Janji Kedaulatan Pertanahan: Membaca Simalungun Melalui Kaca Mata Yogyakarta

Menagih Janji Kedaulatan Pertanahan: Membaca Simalungun Melalui Kaca Mata Yogyakarta

Maret 31, 2026
Anggota Komisi V DPR Dorong Penguatan Mitigasi Bencana Melalui Enam Langkah Utama

Anggota Komisi V DPR Dorong Penguatan Mitigasi Bencana Melalui Enam Langkah Utama

September 11, 2026
ATR/BPN Gandeng Perguruan Tinggi Percepat Penyusunan RDTR, Target 1.703 RDTR hingga 2028

ATR/BPN Gandeng Perguruan Tinggi Percepat Penyusunan RDTR, Target 1.703 RDTR hingga 2028

September 11, 2026
ADVERTISEMENT
Tinjau Kampung Nelayan Mariadei, Yan Mandenas Tekankan Kesejahteraan Masyarakat

Tinjau Kampung Nelayan Mariadei, Yan Mandenas Tekankan Kesejahteraan Masyarakat

September 11, 2026
Cegah kerugian Daerah Penghasil, Alfons Manibui : DBH Harus Tepat Waktu

Cegah kerugian Daerah Penghasil, Alfons Manibui : DBH Harus Tepat Waktu

September 11, 2026
Sebelum Jabatan di Dewan HAM berakhir, Indonesia Mesti Penuhi Desakan MSG

Sebelum Jabatan di Dewan HAM berakhir, Indonesia Mesti Penuhi Desakan MSG

September 10, 2026
Presiden Prabowo Bersama Menpora Erick Thohir Lepas Atlet ke Asian Games 2026

Presiden Prabowo Bersama Menpora Erick Thohir Lepas Atlet ke Asian Games 2026

September 10, 2026
Dubes Inggris Dukung Sektor Kakao Berkelanjutan Papua

Dubes Inggris Dukung Sektor Kakao Berkelanjutan Papua

September 10, 2026
DPR Dorong Pencarian Optimal Hilangnya 5 Jurnalis saat Liputan Erupsi Anak Krakatau

DPR Dorong Pencarian Optimal Hilangnya 5 Jurnalis saat Liputan Erupsi Anak Krakatau

September 10, 2026
Mendagri Tito Dorong IMT-GT Jadi Platform Konkret Perkuat Ekonomi Kawasan

Mendagri Tito Dorong IMT-GT Jadi Platform Konkret Perkuat Ekonomi Kawasan

September 10, 2026
Pelaku ‘Bom Molotov’ Kantor Komnas HAM Papua Ingin Hancurkan Negara

Pelaku ‘Bom Molotov’ Kantor Komnas HAM Papua Ingin Hancurkan Negara

September 10, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Jumat, September 11, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Ragam Opini

Menagih Janji Kedaulatan Pertanahan: Membaca Simalungun Melalui Kaca Mata Yogyakarta

Maret 31, 2026
in Nasional, News, Ragam Opini
0
0
SHARES
38
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

​Oleh:

Shohibul Anshor Siregar

​Republik Indonesia dibangun di atas puing-puing kontrak politik antara kekuasaan kolonial dan ribuan entitas berdaulat di Nusantara. Namun, dalam perjalanan tujuh dekade kemerdekaan, wajah keadilan agraria kita tampak asimetris.

Di satu sisi, kita merayakan “Keistimewaan” Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas sejarah. Di sisi lain, kita menyaksikan masyarakat adat di Simalungun, Sumatera Utara, terasing di tanah sendiri, terjerat dalam labirin birokrasi yang mengabaikan dokumen kedaulatan masa lalu mereka.

​Titik Nol: Korte Verklaring

​Persoalan agraria di Simalungun, seperti yang mengemuka dalam konflik di Sihaporas dan sekitarnya, sering kali disederhanakan sebagai masalah administratif pendaftaran tanah. Para pemegang konsesi dan otoritas agraria kerap berlindung di balik UU Pokok Agraria (UUPA) 1960, sembari menuding klaim masyarakat adat sebagai narasi anakronis yang tak lagi berlaku. Namun, sejarah hukum mencatat fakta berbeda. Kerajaan-kerajaan Simalungun (Zelfbesturende Landschappen) diawal abad ke-20 mengikat diri dengan Belanda melalui Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).

Shoibul Ansor Siregar

Berbeda dengan wilayah yang diperintah langsung oleh Gubernur Jenderal, raja-raja Simalungun secara eksplisit mengecualikan penyerahan hak atas tanah dan hukum adat.

Artinya, secara yuridis, tanah Simalungun tidak pernah menjadi Vrij Landsdomein (tanah negara bebas).
Jika kolonial saja tidak memiliki hak milik mutlak, bagaimana mungkin negara merdeka mengklaim mewarisi hak yang tidak pernah dimiliki oleh penjajahnya?

​Cermin Retak Yogyakarta

​Ketidakadilan ini menjadi kontras saat kita menengok Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui UU No. 13 Tahun 2012, negara mengakui bahwa sejarah adalah sumber hukum yang hidup. Sultan tidak hanya bertahta secara politik sebagai Gubernur tanpa pemilihan, tetapi juga diakui sebagai subjek hukum pemilik tanah (Sultanaat Grond).

​Pertanyaan mendasar bagi nurani hukum kita adalah: Mengapa sejarah diakui sebagai “Keistimewaan” di Jogja, namun dianggap sebagai “Fosil” di Simalungun? Jika perangkapan jabatan dan hak asal-usul tanah di Jogja bisa berdiri di atas prosedur umum pemilu dan administrasi UUPA, mengapa klaim masyarakat adat Simalungun yang bersandar pada dokumen Korte Verklaring justru dikriminalisasi?
​
Sabotase Birokrasi

​Rezim agraria kita saat ini cenderung terjebak dalam “sabotase birokrasi“. Pendaftaran tanah yang seharusnya bersifat deklaratif—mencatat hak yang sudah ada—malah berubah menjadi konstitutif, seolah-olah negara adalah pemberi hak tunggal. Akibatnya, hutan adat dan tanah ulayat yang telah dikelola berabad-abad dianggap “Tanah Negara” hanya karena tidak memiliki sertifikat versi 1960.
​Inilah “kekerasan administratif” yang mematikan hak rakyat.

Dokumen abad ke-19 dan awal ke-20 yang dibawa masyarakat bukanlah upaya menghidupkan hukum kolonial, melainkan bukti otentik penguasaan fisik yang tidak pernah terputus. Menolak bukti tersebut dengan alasan “aturannya sudah dicabut” adalah bentuk pengabaian terhadap kebenaran materiil demi kepastian hukum formal yang hanya menguntungkan segelintir elite pemegang Hak Guna Usaha (HGU).
​
Restitusi Historis

​Negara tidak boleh mempraktikkan “pilih kasih” terhadap sejarah. Pasal 18B Ayat 2 UUD 1945 adalah janji suci konstitusi untuk menghormati kesatuan masyarakat hukum adat. Jika Yogyakarta bisa menjadi model sukses rekonsiliasi antara tradisi dan modernitas negara hukum, maka Simalungun seharusnya mendapatkan ruang yang sama.

​Sudah saatnya Kementerian ATR/BPN melakukan audit historis-agraria yang jujur. Pengakuan terhadap hak ulayat di Simalungun bukan sekadar urusan teknis sertifikasi, melainkan upaya restitusi historis untuk mengembalikan marwah rakyat yang terenggut oleh syahwat ekspansi korporasi.

Kita tidak ingin Republik ini dikenang sebagai negara yang hanya mencintai sejarah ketika ia mengukuhkan kekuasaan, namun membuangnya saat ia membela hak-hak jelata.

Komentar Facebook

Tags: atr/bpn​Cermin Retak YogyakartaDaerah Istimewa YogyakartaHak Guna UsahaHGUkeadilan agrariaKeistimewaan YogyakartaPertanahanRestitusi HistorisShohibul Anshor SiregarShoibul Ansor Siregartanah negara bebasVrij Landsdomein
ShareTweetSend

Related Posts

ATR/BPN Gandeng Perguruan Tinggi Percepat Penyusunan RDTR, Target 1.703 RDTR hingga 2028

ATR/BPN Gandeng Perguruan Tinggi Percepat Penyusunan RDTR, Target 1.703 RDTR hingga 2028

September 11, 2026
Dorong Percepatan Pengakuan, Anggota DPD RI : Tanah Adat Papua Itu Warisan Leluhur

Dorong Percepatan Pengakuan, Anggota DPD RI : Tanah Adat Papua Itu Warisan Leluhur

Desember 9, 2025

Ade Armando Minta Maaf Usai Sebut Dinasti Politik di Jogya

Desember 5, 2023

Ade Armando Singgung Politik Dinasti di Yogyakarta, PSI DIY: Bukan Atas Nama Partai

Desember 4, 2023

KPK Tetapkan Eks Kakanwil BPN Riau Tersangka TPPU

Februari 21, 2023
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?