
JAYAPURA, satukanindonesia.com – Kedutaan Besar dan Konsulat Amerika Serikat (AS) di Indonesia bekerja sama dengan berbagai lembaga, di antaranya Badan Akuntabilitas Tahanan Perang/Orang Hilang Pertahanan atau Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA), dan militer Indonesia melakukan misi kemanusiaan untuk menemukan dan mengidentifikasi anggota militer AS yang hilang dalam Perang Dunia II di Pulau Biak, provinsi Papua.
Komando Daerah TNI Angkatan Udara III (Kodau III) pun menerima penghargaan dari Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA), Departemen Pertahanan AS, sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dalam memfasilitasi misi kemanusiaan pencarian, evakuasi, dan identifikasi prajurit AS yang dinyatakan hilang pada Perang Dunia II di wilayah kabupaten Biak Numfor.
Penghargaan tersebut diserahkan kepada Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara III (Pangkodau III), Marsda TNI Azhar Aditama di Biak, Kamis (23/07/2026), berdasarkan surat resmi DPAA tertanggal 16 Juli 2026 yang ditandatangani Direktur DPAA, Kelly McKeague.
Penghargaan itu disertai plakat sebagai simbol apresiasi atas dukungan Kodau III dalam memfasilitasi perizinan, koordinasi transportasi, dan pengamanan selama pelaksanaan misi kemanusiaan tersebut, sebagaimana dikutip dari laman internet,www.portal-komando.com, Selasa (28/07/2026).
Dukungan Kodau III memungkinkan pelaksanaan Joint Forensic Review (JFR) berjalan lancar sebelum seluruh temuan dibawa ke laboratorium forensik DPAA, untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian kepada keluarga prajurit Amerika Serikat, yang telah lama dinyatakan hilang sejak Perang Dunia II.
Penghargaan dari DPAA mencerminkan eratnya kerja sama antara TNI Angkatan Udara dan Pemerintah AS dalam pelaksanaan misi kemanusiaan, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal.
Apresiasi tersebut sekaligus menunjukkan komitmen Kodau III dalam mendukung kerja sama internasional sesuai ketentuan hukum, dengan tetap menghormati kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dari catatan media online di tanah Papua, Pasukan Amerika mendarat di dekat Bosnik, Kabupaten Biak Numfor pada 27 Mei 1944. Awalnya, perlawanan Jepang tampak ringan. Banyak perwira Amerika menduga bahwa pasukan Jepang telah meninggalkan pulau.
Namun kenyataannya, Jepang sengaja menahan tembakan, menyusun kembali posisi, dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan.
“Secara strategis, Biak harus direbut. Jepang telah membangun tiga lapangan udara di pulau itu—Mokmer, Sorido, dan Borokoe. Menguasai lapangan udara ini bukan hanya akan mencegah musuh menggunakannya, juga memungkinkan pesawat pengebom Amerika menyerang Filipina, hanya 800 mil jauhnya,”tulis David Alan Johnson dalam artikelnya The Battle of Biak: A Terrifying Glimpse into the Soul of Mankind (warfarehistorynetwork.com).
Namun, perencana militer Amerika meremehkan kekuatan Jepang di Biak. Mereka memperkirakan hanya ada 4.400 tentara Jepang di pulau itu. Padahal jumlah sebenarnya lebih dari 11.400. Mereka juga mengira operasi ini hanya memerlukan waktu seminggu, namun itu adalah perkiraan keliru.
Menggutip wvhistoryonview.org melaporkan dalam pertempuran Biak adalah pertempuran yang terjadi selama Perang Dunia II di Biak, Papua Nugini, dari 27 Mei 1944 hingga 17 Agustus 1944.
Pertempuran ini terkenal karena merupakan kali pertama Jepang mengizinkan pendaratan pasukan AS tanpa perlawanan sehingga mereka akan terjebak dalam perangkap yang telah disiapkan Jepang di pedalaman.
Perebutan pulau itu menelan korban 474 jiwa dan 2.428 luka-luka di pihak AS. Jepang bertempur hingga akhir, kehilangan 6.100 orang tewas.
Tentara Jepang menggunakan gua-gua ini sebagai benteng dan menyimpannya dengan amunisi, makanan, dan air yang cukup untuk bertahan selama berbulan-bulan. [GRW]









