• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Pemeriksaan HIV Bayi di Papua Barat Terhambat, Komite III DPD RI Desak Kemenkes Bertindak

Pemeriksaan HIV Bayi di Papua Barat Terhambat, Komite III DPD RI Desak Kemenkes Bertindak

Juli 12, 2026
Mendagri Tito Minta Pemda dan Dekranasda Aktif Gali Potensi Kerajinan Lokal

Mendagri Tito Minta Pemda dan Dekranasda Aktif Gali Potensi Kerajinan Lokal

Juli 12, 2026
Menkop Temui Keluarga Bung Hatta, Komitmen Lanjutkan Perjuangan Kembangkan Koperasi Nasional

Menkop Temui Keluarga Bung Hatta, Komitmen Lanjutkan Perjuangan Kembangkan Koperasi Nasional

Juli 12, 2026
ADVERTISEMENT
Kawasan Pasifik berada di Tengah Ketegangan Geopolitik

Kawasan Pasifik berada di Tengah Ketegangan Geopolitik

Juli 12, 2026
Bantah Isu Gesekan, Menko Polkam: Polri dan Kejagung Kompak Kejar Koruptor

Bantah Isu Gesekan, Menko Polkam: Polri dan Kejagung Kompak Kejar Koruptor

Juli 12, 2026
Indonesia Tegaskan Komitmen Perkuat Hubungan Bilateral dengan Iran

Indonesia Tegaskan Komitmen Perkuat Hubungan Bilateral dengan Iran

Juli 12, 2026
Wamenkomdigi Tegaskan Keberhasilan Satu Data Indonesia Dimulai dari Penguatan Data Desa

Wamenkomdigi Tegaskan Keberhasilan Satu Data Indonesia Dimulai dari Penguatan Data Desa

Juli 12, 2026
Kelompok KKN 47 Universitas Bengkulu Bersama Binmas Polres Seluma Gelar Sosialisasi Pencegahan Kejahatan Siber, UU ITE, Judi Online, dan Pinjaman Online

Kelompok KKN 47 Universitas Bengkulu Bersama Binmas Polres Seluma Gelar Sosialisasi Pencegahan Kejahatan Siber, UU ITE, Judi Online, dan Pinjaman Online

Juli 12, 2026
Polri Resmi Tetapkan Febrie Adriansyah Tersangka Korupsi dan TPPU

Polri Resmi Tetapkan Febrie Adriansyah Tersangka Korupsi dan TPPU

Juli 11, 2026
Anggota Komisi III DPR Minta Kasus Dugaan Pembakaran Santri di Ponpes Lombok Diusut Tuntas

Anggota Komisi III DPR Minta Kasus Dugaan Pembakaran Santri di Ponpes Lombok Diusut Tuntas

Juli 11, 2026
Menkomdigi Tegaskan Teknologi Digital Harus Jadi Ruang Tumbuh Bahasa Daerah dan Budaya Lokal

Menkomdigi Tegaskan Teknologi Digital Harus Jadi Ruang Tumbuh Bahasa Daerah dan Budaya Lokal

Juli 11, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Minggu, Juli 12, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

Pemeriksaan HIV Bayi di Papua Barat Terhambat, Komite III DPD RI Desak Kemenkes Bertindak

(Fokus Berita)

Juli 12, 2026
in Fokus Berita
0
0
SHARES
71
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
foto ilustrasi

MANOKWARI, satukanindonesia.com – Keterlambatan pengadaan reagen pemeriksaan HIV oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia berdampak pada terhambatnya layanan deteksi dini HIV pada bayi di wilayah Provinsi Papua Barat.

Pemeriksaan menggunakan metode Early Infant Diagnosis (EID) tidak dapat dilakukan selama berbulan-bulan, karena reagen yang pengadaannya dilakukan secara terpusat hingga kini belum tersedia. Akibatnya, sampel darah bayi yang lahir dari ibu dengan HIV yang telah dikumpulkan sejak akhir November belum dapat diperiksa.

Padahal, pemeriksaan HIV sedini mungkin merupakan langkah penting untuk memastikan bayi yang terinfeksi segera mendapatkan terapi antiretroviral sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan menekan risiko kematian.

Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, S.H., M.H., mengatakan, keterlambatan tersebut menjadi persoalan serius yang perlu segera mendapat perhatian Kementerian Kesehatan mengingat dampaknya langsung menyangkut keselamatan bayi yang lahir dari ibu dengan HIV.

“Tanpa pengobatan, bayi yang terinfeksi HIV berisiko berkembang menjadi AIDS dalam waktu singkat. Bahkan sekitar 50 persen bayi yang tidak mendapatkan terapi dapat meninggal sebelum mencapai usia dua tahun. Karena itu diagnosis dini dan pengobatan sedini mungkin sangat menentukan kualitas hidup dan harapan hidup anak,”ujar Filep berdasarkan informasi dan laporan yang diterimanya.

Berdasarkan laporan tersebut, pemeriksaan EID diperuntukkan bagi bayi berusia 1 hingga 18 bulan yang lahir dari ibu dengan HIV. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode Dried Blood Spot (DBS), yakni darah yang diambil dari tumit bayi kemudian diteteskan pada kertas khusus dan dikeringkan sebelum dikirim ke laboratorium pemeriksaan.

Secara teknis, sampel DBS masih dapat disimpan hingga sekitar enam bulan apabila ditangani dengan baik. Namun, semakin lama pemeriksaan tertunda, semakin besar risiko kualitas sampel menurun sehingga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.

“Sesuai informasi, sampel sudah tersimpan sejak akhir November sampai sekarang. Kalau terlalu lama tentu menjadi persoalan. Ini sangat disayangkan,”katanya.

Selama ini, seluruh sampel dari Papua Barat dikirim ke laboratorium rujukan di Jakarta. Padahal, fasilitas pemeriksaan sebenarnya telah tersedia di wilayah timur Indonesia, seperti di Sorong dan Jayapura. Namun laboratorium tersebut belum dapat dimanfaatkan karena reagen pemeriksaan yang pengadaannya berada di bawah kewenangan Kementerian Kesehatan belum tersedia.

Filep menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterimanya, keterlambatan tersebut terjadi karena proses pengadaan reagen dilakukan secara terpusat oleh Kementerian Kesehatan dan proses lelang belum rampung. Dampaknya, pelayanan EID tidak hanya terhambat di Papua Barat, tetapi juga dialami hampir seluruh provinsi di Indonesia.

“Pengadaannya terpusat di pusat, sementara proses lelangnya belum selesai sampai sekarang. Jadi seluruh Indonesia mengalami kendala yang sama,”ujarnya.

Akibat keterlambatan tersebut, pelayanan EID secara nasional ikut terganggu. Di sejumlah daerah, keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi bahkan memilih membiayai sendiri pemeriksaan dengan mengirim sampel ke laboratorium swasta di Jakarta agar hasil dapat diperoleh lebih cepat.

“Seluruh Indonesia mengalami penundaan pemeriksaan. Di beberapa daerah, kalau keluarga mampu, mereka memilih membayar sendiri dan mengirim sampelnya ke laboratorium swasta di Jakarta,”ungkapnya.

Ia menilai, kondisi ini menjadi evaluasi penting bagi Kementerian Kesehatan agar pengadaan reagen tidak kembali menghambat pelayanan kesehatan dasar, khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi yang lahir dari ibu dengan HIV.

Menurutnya, pemerintah daerah juga perlu diberikan ruang dan kewenangan yang lebih besar untuk menjamin keberlangsungan layanan ketika terjadi kendala dalam pengadaan secara nasional.

“Kalau daerah bisa menganggarkan sendiri atau bekerja sama dengan laboratorium yang sudah memiliki alat, pelayanan bisa tetap berjalan. Persoalannya sekarang daerah tidak memiliki kewenangan karena seluruh pengadaan dilakukan secara terpusat,”katanya.

Selain persoalan laboratorium, Filep juga mengingatkan pentingnya dukungan kebijakan daerah melalui penyusunan regulasi turunan, sosialisasi, serta pengalokasian anggaran yang memadai agar program pencegahan dan pengendalian HIV dapat berjalan optimal di seluruh kabupaten di Papua Barat.

Menurutnya, setiap kebijakan yang telah ditetapkan perlu diikuti implementasi yang didukung anggaran sehingga pelayanan bagi ibu hamil dengan HIV maupun bayi yang dilahirkan dapat berlangsung tanpa hambatan.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat melalui Program Papua Barat Sehat diharapkan dapat menjadi solusi untuk membantu mengatasi hambatan pemeriksaan EID, khususnya melalui dukungan pembiayaan pengiriman dan pemeriksaan sampel ke laboratorium rujukan di Jakarta. Biaya pemeriksaan diperkirakan berkisar antara Rp750 ribu hingga Rp1 juta per sampel, sementara sebagian besar bayi yang menjalani pemeriksaan merupakan orang Papua.

“Dukungan pembiayaan tersebut diharapkan dapat memastikan bayi-bayi berisiko tetap memperoleh akses pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin sambil menunggu persoalan pengadaan reagen oleh Kementerian Kesehatan dapat diselesaikan,”pesannya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Papua Barat, dr. Alwan Rimosan mengapresiasi atas perhatian berbagai pihak, termasuk Komite III DPD RI, terhadap keberlangsungan pelayanan deteksi dini HIV pada bayi melalui pemeriksaan Early Infant Diagnosis (EID).

“Memang benar, saat ini terjadi keterlambatan pelayanan pemeriksaan EID yang disebabkan oleh belum tersedianya reagen pemeriksaan, di mana pengadaan reagen tersebut merupakan pengadaan terpusat oleh Kementerian Kesehatan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Papua Barat, tetapi juga berdampak pada berbagai provinsi di Indonesia,”ungkap Alwan.

Meskipun demikian, kata Alwan, Dinkes Provinsi Papua Barat bersama seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota dan fasilitas pelayanan kesehatan tetap menjalankan seluruh rangkaian pelayanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PMTCT).

“Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV tetap mendapatkan tata laksana sesuai pedoman, termasuk profilaksis dan pemantauan klinis, sementara sampel Dried Blood Spot (DBS) yang telah diambil disimpan sesuai standar untuk menunggu pemeriksaan laboratorium ketika reagen kembali tersedia,”ucap Alwan.

Pihaknya lanjut Alwan, terus berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Kesehatan agar distribusi reagen dapat segera dilakukan sehingga pemeriksaan EID dapat kembali berjalan dan seluruh sampel yang tertunda dapat segera diproses.

“Kami juga berkomitmen untuk memastikan tidak ada bayi yang kehilangan kesempatan memperoleh diagnosis dan pengobatan sedini mungkin. Keselamatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama dalam pelayanan kesehatan di Papua Barat,”bebernya.

Terkait pembiayaan sampel melalui Program Papua Barat, Alwan menyebut hal itu sejalan dengan semangat Program Papua Barat Sehat, Pemerintah Provinsi Papua Barat berkomitmen memperkuat upaya eliminasi ATM-Kusta (AIDS, Tuberkulosis, Malaria, dan Kusta), khususnya pada program HIV yang menjadi tanggung jawab Seksi Penyakit Menular Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

Alwan menjelaskan, Program Papua Barat Sehat diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendukung percepatan eliminasi penularan HIV dari ibu ke anak, antara lain melalui dukungan pembiayaan operasional pemeriksaan EID, pengiriman sampel ke laboratorium rujukan, penguatan jejaring layanan HIV, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta memastikan bayi yang lahir dari ibu dengan HIV memperoleh akses diagnosis dan pengobatan secara tepat waktu.

Dukungan tersebut ungkap dia, merupakan bentuk keberpihakan Pemerintah Provinsi Papua Barat terhadap kelompok rentan, khususnya bayi dan Orang Asli Papua (OAP), sehingga target eliminasi penularan HIV dari ibu ke anak dapat dicapai sesuai target nasional dan global.

“Kami berharap sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, DPRD, DPD RI, pemerintah kabupaten dan kota, fasilitas pelayanan kesehatan, serta seluruh mitra pembangunan dapat terus diperkuat agar pelayanan HIV, termasuk pemeriksaan EID, dapat berjalan optimal dan berkesinambungan,”harap Alwan. [GRW]

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: Dr. Filep WamafmaHIV BayiKetua Komite III DPD RI
ShareTweetSend

Related Posts

DPD RI Perjuangkan Usulan SMK Negeri Pariwisata di Kaimana Papua Barat

DPD RI Perjuangkan Usulan SMK Negeri Pariwisata di Kaimana Papua Barat

Juni 18, 2026
Pesparawi Nasional XIV di Papua Barat, Masyarakat Diminta Jaga Ketertiban Umum

Pesparawi Nasional XIV di Papua Barat, Masyarakat Diminta Jaga Ketertiban Umum

Juni 17, 2026
Filep Wamafma Desak Prabowo Bentuk Satgas Antipungli di Kantor Imigrasi

Filep Wamafma Desak Prabowo Bentuk Satgas Antipungli di Kantor Imigrasi

Juni 11, 2026

Cegah Pungli di Kantor Imigrasi, Presiden Prabowo Didesak Bentuk Satgas

Juni 10, 2026

Komite III DPD RI Dukung Program Revitalisasi Sekolah Termasuk di Tanah Papua

Mei 28, 2026
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?