
Jombang, satukanindonesia.com – Delapan puluh satu tahun setelah Resolusi Jihad lahir, semangat perjuangan para ulama dan santri kembali digaungkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ribuan santri berkumpul sejak Kamis (22/10/2026) pagi untuk mengikuti apel peringatan Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Di tempat yang memiliki hubungan erat dengan perjuangan KH Hasyim Asy’ari itu, peringatan Hari Santri bukan sekadar menghadirkan barisan peserta, melainkan juga mengajak generasi sekarang mengingat kembali sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Apel yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB tersebut diikuti ribuan santri, pengurus pesantren, sivitas akademika, jajaran PBNU, dan para ulama. Para peserta mengenakan busana khas santri dengan dominasi warna putih dan hitam, memenuhi lapangan pesantren sejak pagi. Suasana peringatan berlangsung khidmat, sekaligus memperlihatkan kuatnya hubungan antara tradisi pesantren dan ingatan sejarah kebangsaan.
Rangkaian apel diawali dengan penataan barisan peserta, menyanyikan Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathan, dan Mars Hari Santri. Para peserta kemudian mengheningkan cipta untuk mengenang jasa pahlawan dan ulama yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah pembacaan teks Resolusi Jihad oleh KH Irfan Yusuf yang mewakili keluarga keturunan KH Hasyim Asy’ari.
*Gus Kikin Ingatkan Santri Menjaga Tradisi dan Menghadapi Perubahan*
Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin bertindak sebagai inspektur apel. Dalam amanatnya, ia mengingatkan bahwa perubahan zaman harus dihadapi dengan tetap menjaga akar tradisi dan semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu. Menurutnya, NU memiliki tanggung jawab untuk menjembatani nilai-nilai perjuangan masa lalu dengan kebutuhan kehidupan masyarakat sekarang.
“Kita telah menghadapi banyak perubahan hingga hari ini, dan NU sebagai akar yang kuat harusnya mampu menjadi jembatan antara tradisi serta semangat perjuangan santri dulu dengan berbagai perubahan ini,” ujar Gus Kikin, sebagaimana dikutip dari NU Online, Kamis (22/10/2026).
Pesan tersebut menjadi penting karena tantangan yang dihadapi generasi santri sekarang tentu tidak lagi sama dengan keadaan tahun 1945. Jika dahulu para ulama dan santri menghadapi ancaman kembalinya penjajahan, generasi sekarang hidup di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung cepat. Semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu diharapkan tetap memperoleh tempat dalam kehidupan santri, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
*Pembacaan Resolusi Jihad dan Teater Perjuangan*
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam apel tersebut adalah pembacaan teks Resolusi Jihad oleh KH Irfan Yusuf. Pembacaan itu membawa ingatan peserta kembali pada keputusan para ulama NU di Surabaya, 22 Oktober 1945, ketika Republik Indonesia yang baru merdeka menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Peristiwa tersebut kemudian menjadi dasar historis penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Peringatan sejarah itu juga dihadirkan melalui pertunjukan teater santri yang menggambarkan perjuangan heroik berkaitan dengan Resolusi Jihad. Pertunjukan tersebut menjadi bagian penutup rangkaian apel sebelum para tokoh dan tamu undangan melanjutkan kegiatan ramah tamah. Dengan menghadirkan kembali kisah perjuangan melalui seni pertunjukan, penyelenggara memberikan ruang bagi generasi santri untuk mengenal sejarah melalui cara yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar turut memimpin doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan bangsa Indonesia. Doa tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang menghubungkan penghormatan kepada para pendahulu dengan harapan bagi kehidupan bangsa pada masa mendatang.
*Kirab Resolusi Jihad Menuju Surabaya Dikawal 99 Motor Banser*
Peringatan Hari Santri di Tebuireng tidak berhenti setelah apel selesai. PBNU juga mengagendakan kirab naskah Resolusi Jihad dari Jombang menuju Surabaya dengan pengawalan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Perjalanan tersebut menghubungkan dua tempat yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Resolusi Jihad.
Kepala Satuan Koordinasi Nasional Banser, H Syafiq Syauqi, mengatakan bahwa pihaknya menyiapkan 99 sepeda motor untuk mengawal rombongan PBNU menuju Surabaya. Menurutnya, jumlah tersebut memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan Asmaul Husna dan simpul tali pada lambang Nahdlatul Ulama. Pengawalan dimaksudkan untuk membantu menjaga keamanan rombongan selama perjalanan.
Kirab tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari rangkaian peringatan Hari Santri tahun ini. Perjalanan dari Tebuireng menuju Surabaya tidak hanya membawa naskah yang berkaitan dengan peristiwa sejarah, tetapi juga menghadirkan kembali hubungan antara pesantren, ulama, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Melalui kegiatan itu, ingatan tentang Resolusi Jihad dibawa dari lingkungan pesantren menuju kota tempat keputusan bersejarah tersebut lahir.
Tebuireng dan Ingatan Perjuangan Santri
Pemilihan Pesantren Tebuireng sebagai pusat apel Hari Santri 2026 memiliki hubungan dengan sejarah perjuangan ulama dan santri. Pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari itu merupakan salah satu lingkungan penting dalam perkembangan pendidikan pesantren dan Nahdlatul Ulama. Karena itu, penyelenggaraan apel di Tebuireng memiliki kedekatan sejarah dengan peristiwa yang menjadi dasar peringatan Hari Santri.
Sebelumnya, pada 19 Oktober 2026, jajaran Pengurus Wilayah NU Jawa Timur bersama Pengurus Cabang NU Jombang juga melaksanakan ziarah ke makam para pendiri NU, termasuk makam KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri yang diselenggarakan di Jawa Timur. Melalui ziarah, apel, pembacaan Resolusi Jihad, hingga kirab menuju Surabaya, peringatan tahun ini mempertemukan tradisi penghormatan terhadap para ulama dengan kegiatan yang melibatkan generasi santri sekarang.
Hari Santri memang diperingati setiap tahun, tetapi sejarah yang melatarbelakanginya tidak selalu hadir dengan sendirinya dalam ingatan generasi baru. Ada peristiwa, keputusan, dan pengorbanan yang perlu terus diperkenalkan agar peringatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Dari Tebuireng pada 22 Oktober 2026, pesan yang kembali mengemuka adalah bahwa menghormati perjuangan ulama dan santri juga berarti menjaga nilai pengabdian mereka dalam kehidupan bangsa yang terus berubah (Yos)













