
JAKARTA, SATUKANINDONESIA.Com -Presiden Amerika Serikat (AS Donald Trump merilis kebijakan tarif impor baru yang dinamakan ‘Reciprocal Tariffs’ disingkat tarif Trump, pada 2 April 2025.
Kebijakan ini akan memberlakukan tarif tambahan terhadap produk impor dari berbagai negara, tak terkecuali pada beberapa negara Asia, termasuk Indonesia.
Dalam pengumuman kebijakan perdagangan baru di Rose Garden Gedung Putih pada Rabu (02/04/2025) sore waktu setempat, Presiden Trump menyatakan, AS akan menerapkan tarif impor minimum 10 persen untuk semua produk impor.
Selain itu, beberapa negara tertentu akan dikenakan tarif resiprokal atau tiimbal balik yang lebih tinggi sebagai bagian dari kebijakan baru ini.
Kamboja menjadi negara Asia yang mendapatkan tarif paling tinggi, berikut rincian tarifnya Kamboja 49 persen, Vietnam 46 persen, Cina 36 persen, Korea Selatan 25 persen, Jepang 24 persen, Taiwan 32 persen, India 26 persen, Thailand 36 persen, Malaysia 24 persen, Bangladesh 37 persen, Pakistan 29 persen, Sri Lanka 44 persen, Filipina 17 persen, Singapura 10 persen, dan Indonesia 32 persen.
Kebijakan tarif Trump ini diumumkan akan berjalan efektif tiga hari setelah pengumuman resminya oleh presiden dari Partai Republik tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Gedung Putih menjelaskan bahwa kebijakan tarif ini diterapkan untuk memperkuat posisi ekonomi internasional Amerika Serikat sekaligus melindungi tenaga kerja dalam negeri.
Dokumen resmi yang dipublikasikan di situs whitehouse.gov tanggal 2 April 2025 menyatakan, praktik perdagangan dan ekonomi internasional saat ini telah menciptakan keadaan darurat nasional bagi Amerika Serikat.
Kebijakan tarif Trump akan diterapkan secara bertahap. Tahap pertama berupa tarif umum 10% untuk semua negara akan efektif mulai Sabtu, 5 April 2025 pukul 00.01 EDT (11.01 WIB). Kemudian, tarif khusus untuk beberapa negara termasuk Indonesia akan diberlakukan mulai Rabu, 9 April 2025 pukul 00.01 EDT (11.01 WIB).
Kebijakan tambahan ini diterapkan AS sebagai respons atas defisit perdagangan yang terjadi dengan negara-negara tersebut, termasuk dengan Indonesia.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyataka, pemerintah Indonesia akan mengirim delegasi tinggi ke Washington DC untuk melakukan pembicaraan langsung dengan pemerintah AS menanggapi kebijakan tarif Trump.
Dijelaskannya, Indonesia telah menyiapkan berbagai strategi antisipasi melalui koordinasi intensif antar kementerian dan lembaga di bawah Kabinet Prabowo Subianto guna menghadapi kebijakan tarif timbal balik Amerika Serikat tersebut.
“Pemerintah akan terus melakukan komunikasi dengan Pemerintah AS dalam berbagai tingkatan, termasuk mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC,” ucap Airlangga lewat pernyataan resmi, Kamis, 3 April 2025.
Airlangga menyatakan, kebijakan tarif timbal balik AS akan mempengaruhi secara signifikan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar Amerika.
Ia menjelaskan, komoditas utama Indonesia yang selama ini masuk ke pasar AS meliputi berbagai produk seperti peralatan elektronik, garmen dan tekstil, sepatu, minyak sawit, produk karet, mebel, serta komoditas perikanan termasuk udang dan hasil laut lainnya. [**/GRW]













