Urgensi Perubahan Pertanian di Kabupaten Samosir
oleh
Vandiko Timotius Gultom* & DR. Yohannes Samosir, PDipAgrSt.**

Samosir, SatukanIndonesia.com – Tidak dapat dipungkiri bahwa pertanian di Kabupaten Samosir sangat vital bagi kehidupan dan perekonomian. Sekitar 80 persen tenaga kerja diserap oleh sektor pertanian yang mencakup juga perikanan, peternakan, kehutanan. Akan tetapi perkembangan sektor ini sangat lambat dan jauh tertinggal dibandingkan dengan kebanyakan kabupaten lain di Sumut, apalagi terhadap daerah di Jawa. Apa akar permasalahannya?
Sejatinya masyarakat di Samosir sudah mempunyai visi yang hebat dalam pertanian sejak dahulu kala, ini tertuang dalam lagu yang sangat populer berjudul ‘Pulo Samosir’, ciptaan Nahum Situmorang.
“Gok disi hansang, nang eme nang bawang, rarat dohot pinahan di dolok i,… Molo masihol ho, di natinombur masihol ho, manang niura dohot na margota …”
Kata kunci ‘Gok‘ dan ‘rarat’ seharusnya sudah sangat visioner, sudah mencakup jargon-jargon modern seperti swasembada, surplus, dll.
Sedangkan kata kunci ‘natinombur, na margota’ juga memvisikan pengolahan (industri hilir) pertanian. Jadi saya tidak perlu mempersoalkan visi. Yang sangat penting adalah sejauh apa visi tersebut sudah dijabarkan dalam strategi dan program yang baik.
Sudah banyak pula pembahasan tentang mengapa pertanian di Samosir tertinggal dan program-program percepatan pembangunan pertanian. Pembahasan itu sudah lama, sudah melibatkan pakar-pakar yang peduli baik di bonapasogit (kampung halaman -red) maupun perantauan. Kita sangat bersyukur karena banyak pakar yang peduli dan memberikan sumbangan pemikiran.
Nah, kita sudah punya visi, dan banyak masukan dalam hal program, dan juga waktu sudah banyak berlalu sejak Samosir menjadi Kabupaten yang dimekarkan. Jadi akar permasalahan bukan di visi dan misi yang kurang baik.

Lalu apa yang kurang sehingga pembangunan pertanian masih tertinggal?
Menurut saya ada beberapa faktor yang perlu segera dicermati dan ditindak lanjuti supaya tidak tertinggal yaitu Perubahan konsep dan strategi, Identifikasi pilar, Urgensi dan Konsistensi.
Konsep dan strategi pembangunan pertanian di Samosir harus dirubah dengan melihat faktor-faktor penting (key factors) yaitu: Pertama, Kondisi alam (tanah dan iklim) di Samosir itu unik, sangat berbeda dengan daerah lain karena pengaruh jenis tanah beragam (termasuk tanah marginal/berbatu), curah hujan, pengaruh air Danau Toba, altituda, dan topografi. Ini membuat banyak keterbatasan/tantangan yang harus dihadapi seperti keterbatasan air, luas lahan yang sesuai (feasible) terbatas.
Kedua, Keindahan alam Samosir yang ditopang dengan kekayaan budaya membuat pertanian juga berpotesni erat terkait dengan pariwisata. Ketiga, Dengan jumlah penduduk yang relative rendah, maka pasar yang menyerap produk pertanian di Samosir itu terbatas. Jadi harus kompetitif menembus pasar di luar termasuk kota-kota di Sumut, bahkan ke Jawa dan ekspor.
Selanjutnya, Keempat, Jarak Samosir ke pasar-pasar dimaksud pada poin 2 cukup jauh yang menyebabkan biaya transport dan handling menjadi mahal dan resiko kerusakan fresh product menjadi tinggi (memar, busuk, dll).
Lalu, Kelima, isu atau tantangan non teknis dalam industri pertanian semakin kompleks/rumit, termasuk kebersihan dan kesehatan, issu lingkungan (sustainability, diversity, polusi), dan isu sosial (fair trade, petani yang miskin, buruh tani, petani perempuan, dll).

Konsep Pembangunan Pertanian yang sesuai
Konsep Pembangunan Pertanian yang sesuai yaitu dengan mengembangkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat lokal (utamanya padi), dengan demikian terjamin swasembada. Pembangunan infrastruktur irigasi dan juga bantuan sarana produksi adalah hal penting.
Selanjutnya pengembangan jenis produk pertanian unggulan yang bernilai tinggi dan bernilai tambah tinggi (olahan) untuk dijual ke pasar dalam negeri dan ekspor. Dalam hal ini, selain kita berupaya mengembangkan komoditi lokal seperti kopi, kemiri, coklat, mangga, bawang, kacang tanah, dan aren misalnya, kita harus terbuka dan jeli melihat komoditi unggulan lain yang berpotensi besar.
Ini tugas penelitian untuk meneliti, misalnya anggur, zaitun, kelor, dll. Mereka harus berani berfikir di luar kotak Samosir, dan kita juga jangan ego/fanatik komoditi. Hepeng i di onan do, ndang di porlak.
Pengembangan tersebut juga harus sinergi, terintegrasi, dan berkelanjutan (sustainable/ramah lingkungan). Sinergi dan terintegrasi dimaksud dalam sektor pertanian dalam arti luas (termasuk juga peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan) dan lintas sektor termasuk pariwisata, pendidikan, perindustrian, dll.
Selanjutnya, pengembangan sistem atau model usaha korporasi dimana petani juga terlibat langsung atau tidak langsung sehingga mereka mendapat manfaat lebih, selain dari hasil penjualan produk pertanian mereka.
Sebagai contoh, kita mencermati sinergi dan integrasi sapi, kambing atau kerbau dengan pertanian padi, jagung, dan hortikultura. Dalam hal ini sistem produksi dapat terkait dengan berbagai usaha seperti makanan ternak, kompos, pengolahan susu, pengolahan daging, dll. Dan tentunya bisa disinergikan dengan pariwisata menjadi tujuan wisata (Agrowisata) baru di tempat yang selama ini belum menjadi destinasi.
Contoh lain adalah Agrowisata berbasis perkebunan kopi, teh dan coklat, dimana view Danau Toba disinkronkan dengan lahan perkebunan dan pengolahannya.
Agrowisata berbasis komunitas pertanian juga bisa dikembangkan seperti touring/trekking di sawah, bekerja di sawah (tradisi marsiadap ari untuk mangombak balik, marsuan, maggotil, dll). Peluang atau potensi itu menjadi tidak terbatas jika kita visioner, hati dan pikiran kita terbuka.

Bagaimana untuk merealisasi keempat konsep pembangunan pertanian di atas?
Kunci realisasi itu ada pada identifikasi pilar, urgensi dan konsistensi. Menyadari kompleksitas isu dalam pertanian yang melibatkan kondisi tanah, iklim, keterbatasan air, jenis tanaman unggulan dan pengolahannya, dan juga sinerginya dengan sub-sektor dan sektor lain, maka pilar yang sangat diperlukan adalah lembaga riset.
Jika saya terpilih sebagai Bupati, maka tentu saya tidak bisa dan tidak ahli untuk tugas-tugas penelitian pertanian. Maka sebagai pimpinan, saya akan mendirikan SARI (Samosir Agriculture Research Institute). Ini urgen dan supaya cepat memberi manfaat, SARI segera menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian lain dan universitas di dalam dan luar negeri.
Urgensi yang saya maksud adalah berani mendorong dan memulai program yang strategis. Saya teringat dengan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) pada kelapa sawit. Pemerintah berani memulai program strategis tersebut di awal tahun 1980an, dan dampaknya luar biasa.
Sebelum tahun 1980, pelaku industri kelapa sawit hanya PTPN dan segelintir perusahaan swasta dan hampir tidak ada perkebunan rakyat. Sekarang sudah sekitar 50% pelaku perkebunan sawit adalah rakyat.
Pelajaran penting ini harusnya mendorong kita berani berinovasi di Samosir. Misalnya mendorong swasta atau mendirikan BUMD membuka lahan untuk Agrowisata bermitra dengan petani. Hal yang serupa juga bisa didorong untuk industri pengolahan hasil pertanian dan tataniaganya dalam bentuk Agropark.

Konsistensi
Dukungan pada pembangunan pertanian harus terus menerus dan konsisten. Tidak bisa seperti membalikkan tangan. Sepertinya hal konsistensi ini sangat gamblang, tetapi kita sudah tahu bahwa ini yang sering dilupakan. Cukup banyak bantuan pertanian misalnya alat yang jadi mangkrak atau besi tua karena tidak ada follow up atau konsistensi.
Ada dua bonus gagasan untuk tambahan pada bagaimana merealisasi ke-empat konsep pembangunan pertanian tersebut, yaitu saya akan mendorong kaum milenial untuk menyenangi pertanian. Masa depan Samosir bertumpu pada sektor ini.
Bonus kedua adalah meningkatkan apresiasi kepada petani perempuan. Saya sudah perhatikan di lapangan bahwa kontribusi dan pengorbanan mereka secara langsung sangat besar pada pertanian.(*)
Info Penulis:
* Vandiko Timotius Gultom, Alumnus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Calon Bupati Samosir.
** DR. Yohannes Samosir, PDipAgrSt., Peneliti perkebunan pada BUMN, Pensiun sebagai Ahli Peneliti Utama (1989-2011), Dosen dan Peneliti Pertanian di University of Queensland – Australia (2002-2006), dan saat ini Kepala Lembaga Riset milik Swasta (2011-sekarang).













