
MANOKWARI, SATUKANINDONESIA.Com – Kelompok separatis bersenjata ternamakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menyerang guru dan tenaga kesehatan, yang bertugas di distrik Anggruk, kabupaten Yahukimo, provinisi Papua Pegunungan, pada Jumat dan Sabtu (22/03/2025) pekan lalu.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2025, Brigjen Faizal Ramadhani mengatakan, kekerasan yang dilakukan TPNPB di distrik Anggruk itu menyebabkan guru bernama Rosalia Rerek Sogen meninggal dunia.
Selain itu, kurang lebih sebanyak enam guru dan tenaga kesehatan terluka konflik Yahukimo Maret 2025, yaitu Doinisia Taroci More (guru), Vantiana Kambu (guru), Paskalia Peni Tere Liman (guru), Fidelis De Lena (guru), Kosmas Paga (guru), dan Irawati Nebobohan (tenaga kesehatan).
“Itu adalah tindakan sangat keji. Para guru dan tenaga medis itu bukan militer. Mereka adalah pendidik yang mengabdikan diri untuk anak-anak Papua,”kata Faizal Ramadhani dalam keterangan pers tertulisnya uang diterima media ini, Senin (24/03/2025).
Dikatakannya, seluruh korban baik yang meninggal dunia maupun yang terluka telah dievakuasi ke Kota Jayapura, Provinsi Papua, pada Minggu. Mereka yang terluka menjalani perawatan, di RSAD Marthen Indey.
Lanjut, ia mengemukakan, serangan yang dilakukan TPNPB merupakan upaya menciptakan ketakutan dan menghambat pembangunan dan pelayanan pendidikan.
“Tindakan kekerasan itu, tidak akan menyurutkan komitmen negara dalam memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan kepada masyarakat Papua. Kekerasan itu justru menjadi bukti bahwa kekejaman yang dilakukan KKB semakin nyata,”tegasnya.
Sementara Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Candra Kurniawan mengatakan, puluhan tenaga kesehatan dan guru diungsikan pasca serangan TPNPB ke distrik Anggruk.
Candra mengatakan, mereka yang diungsikan adalah para guru dan tenaga kesehatan dari Distrik Hereapini, Distrik Kosarek, Distrik Ubalihi, Distrik Nisikni, Distrik Walma dan Distrik Kabianggama.
“Diungsikan para guru dan tenaga kesehatan menggunakan Pesawat Adventist Aviation berjumlah 58 orang, anak-anak dan seorang warga sipil melalui bandara Wamena,”pungkasnya Candra. [GRW]











