• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Menerapkan Makna Eksak, Non Eksak, Seni Budaya dan Olahraga kepada Anak

Menerapkan Makna Eksak, Non Eksak, Seni Budaya dan Olahraga kepada Anak

Januari 8, 2021
Perkara Haji Rusok Lawan PT Menteng Griya Lestari Masuk Tahap Pembuktian di PN Batam

Perkara Haji Rusok Lawan PT Menteng Griya Lestari Masuk Tahap Pembuktian di PN Batam

Agustus 13, 2026
IHTP Papua Raih Penghargaan, Dr. Filep : Inovasi Bukan Sekadar Mengikuti Perkembangan Teknologi

IHTP Papua Raih Penghargaan, Dr. Filep : Inovasi Bukan Sekadar Mengikuti Perkembangan Teknologi

Agustus 13, 2026
ADVERTISEMENT
Erick Thohir Apresiasi Kepercayaan Presiden Prabowo untuk Transformasi Kemenpora

Erick Thohir Apresiasi Kepercayaan Presiden Prabowo untuk Transformasi Kemenpora

Agustus 13, 2026
KPK dan MA Perkuat Integritas Aparatur Peradilan Lewat PRISMA

KPK dan MA Perkuat Integritas Aparatur Peradilan Lewat PRISMA

Agustus 13, 2026
PWI Papua Barat : Wartawan Tidak Boleh Menjadi Alat Kepentingan Kekuasaan

PWI Papua Barat : Wartawan Tidak Boleh Menjadi Alat Kepentingan Kekuasaan

Agustus 13, 2026
Tantan Sulthon Terpilih Pimpin PWI Jawa Barat 2026–2031, PWI Bekasi Raya Ucapkan Selamat

Tantan Sulthon Terpilih Pimpin PWI Jawa Barat 2026–2031, PWI Bekasi Raya Ucapkan Selamat

Agustus 13, 2026
Pencabutan Moratorium Pemekaran Dipertimbangkan melalui Capaian empat DOB Tanah Papua

Pencabutan Moratorium Pemekaran Dipertimbangkan melalui Capaian empat DOB Tanah Papua

Agustus 13, 2026
Anggota Komisi II DPR RI Minta TKD 2027 Perkuat Kemampuan Fiskal Pemerintah Daerah

Anggota Komisi II DPR RI Minta TKD 2027 Perkuat Kemampuan Fiskal Pemerintah Daerah

Agustus 13, 2026
Ahli Hukum dari UGM Dihadirkan dalam Sidang Gugatan SK Bupati Merauke

Ahli Hukum dari UGM Dihadirkan dalam Sidang Gugatan SK Bupati Merauke

Agustus 13, 2026
Dubes RI Disambut Baik Gubernur Jenderal Kepulauan Solomon

Dubes RI Disambut Baik Gubernur Jenderal Kepulauan Solomon

Agustus 13, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Jumat, Agustus 14, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

Menerapkan Makna Eksak, Non Eksak, Seni Budaya dan Olahraga kepada Anak

[Opini]

Januari 8, 2021
in Fokus Berita
0
0
SHARES
3.8k
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
Ilustrasi – Pendidikan Anak.

Menerapkan Makna Eksak, Non Eksak, Seni Budaya dan Olahraga kepada Anak

oleh:

Gurgur Manurung*

 

Gurgur Manurung (Staf Ahli Komisi VI DPR RI)

Jakarta, SatukanIndonesia.com – Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang tua mengeluh tentang banyaknya mata pelajaran di sekolah. Sebelum pandemi Covid-19 beberapa pendapat yang mengeluhkan anak yang membawa buku ke sekolah yang amat berat.

Banyak pendapat yang mengatakan anak itu fokus kepada pelajaran tertentu sesuai bakat. Kalau anak bakat metematika maka fokus matematika saja. Jika anak bakatnya seni maka fokus seni saja.

Bagaimana kelak jika anak pandai matematika tanpa memiliki seni, kepekaan sosial, dan humanisme yang kuat? Bagaimana pula anak yang seninya bagus tanpa pengetahuan matematika dasar? Bagaimana sesungguhnya menerapkan ilmu pengetahuan tanpa dikotomi eksak, non eksak, seni dan budaya?

Dialog Pendidikan itu tidak pernah tuntas

Dalam dunia Pendidikan formal tahun 2004 dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Tahun 2006 dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kini dikenal dengan Kurikulum Tiga Belas atau Kurtilas.

Di Kurtilas secara mendasar dikenal dengan mata pelajaran tematik. Mata pelajar tematik itu dipaksakan karena tidak semua tema membutuhkan ilmu-ilmu lain.

Ketika saya Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 90-an, saya memilih jurusan Fisika (A-1). Ketika kelas satu SMA saya rajin belajar Fisika, Matematika, Kimia dan Biologi agar masuk jurusan Fisika. Alasannya adalah karena jurusan A1 itu keren.

Ketika kelas satu SMA jurusan A1 itu dipuja puji guru karena dikenal pintar. Hampir setiap pagi hari ketika baris berbaris di halaman sekolah guru meminta agar meniru jurusan Fisika. Anak-anak Fisika itu dikenal dengan kalem, tenang dan pintar. Pujian itulah yang memotivasi saya belajar keras agar terpilih masuk jurusan Fisika.

Alasan lain memilih jurusan Fisika adalah ketika seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) bisa memilih semua jurusan yaitu eksak dan non eksak. Jika memilih jurusan IPS maka seleksi UMPTN ketika itu hanyalah bisa mengikuti jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial saja. Jika SMA jurusan IPS tidak boleh ujian masuk Perguruan Tinggi (PT) jurusan Teknik, Kedokteran, Pertanian, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Farmasi, Arsitektur dan lain sebagainya.

Ketika saya melewati masa-masa sekolah, muncul pertanyaan apakah relevan ilmu itu dikategorikan eksak dan non eksak? Untuk apa sesungguhnya ilmu pengetahuan itu? Bukankah ilmu pengetahuan itu acapkali bertentangan?

Sebagai contoh, ilmu ekonomi dan ekologi selalu berbenturan. Karena benturan ilmu ekologi dengan ekonomi maka menghasilkan benturan yang menghasilkan konflik antara pecinta lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi.

Kawasan hutan jika dijaga dengan baik maka nilainya 100 dari ilmu ekologi. Tetapi nilai nol dari ilmu ekonomi. Sebaliknya, hutan jika dieksploitasi maka nilainya 100 dan nol bahkan minus atau membahayakan bagi ahli ekologi. Benturan ahli ekonomi dan ekologi berdialog dengan menghasilkan ekonomi lingkungan (environmental economics).

Ilustrasi.

Memahami luasnya samudra ilmu pengetahuan, bagaimana agar anak kita tidak terbeban atau bahkan stres untuk mempelajarinya?

Dari pengamatan saya, kita harus mulai dari kebiasaan anak berdialog. Dikotomi eksak dan non eksak, seni budaya, olah raga mana yang lebih keren harus kita tinggalkan. Mengapa? Karena realitanya, ahli matematika tanpa memahami ilmu lain seperti persoalan sosial maka ilmu matematika tidak dapat digunakan untuk mengatasi persoalan sosial.

Ilmu pengetahuan lahir untuk menjawab persoalan masyarakat dan memperkirakan ancaman bagi masyarakat dan disiasati dengan ilmu pengetahuan.

Seorang ahli matematika jika berpikir dan kuatir akan energi fosil, maka ahli matematika akan menggunakan ilmunya untuk memprediksi kapan habis. Kemudian, ahli matematika itu akan berpikir alternatif untuk menggantikan energi fosil dengan isu energi terbarukan yang diisukan oleh pakar-pakar di bidang energi seperti isu tentang mewacanakan biodiesel dari minyak kelapa sawit dan buah jarak.

Tentu saja ahli matematika menggunakan ilmunya untuk menghitung luas lahan yang dibutuhkan, penurunan kualitas tanah, dan kebutuhan akan energi. Apakah energi terbarukan itu solusi atau tidak untuk kebutuhan energi bagi masyarakat?

Pada hakikatnya ilmu pengetahuan itu hadir untuk kebutuhan manusia. Tetapi, dalam praktek ilmu pengetahuan bergeser menjadi mencari keuntungan finansial. Banyak orang memilih profesi berdasarkan jumlah uang. Padahal, pekerjaan atau profesi sejatinya untuk pengabdian melalui ilmu pengetahuan yang kita miliki. Sejatinya kita memilih profesi berdasarkan panggilan hidup dan pergumulan batin. Pergumulan batin untuk menjawab persoalan masyarakat itulah kebahagiaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ahli hukum bicara energi, ahli pertambangan bicara energi, dan ahli ekonomi bicara energi, pengetahuannya tidak jauh berbeda. Berbeda karena sudut pandang atau perspektif. Hal yang membedakan adalah Teknik pertambangan profesional dibidang teknisnya dan ahli hukum bicara kegiatan-kegiatan pengelolaan energi berdasarkan perspektif hukum, lalu Ahli ekonomi memberikan pendapat akan kesinambungan pengelolaan energi berdasarkan ilmu ekonomi.

Artinya, ahli pertambangan, ahli hukum dan ahli ekonomi harus berdialog masalah pengelolaan energi. Mereka juga harus berdialog dengan ahli sosiologi dan antropologi dalam rangka melakukan penambangan energi di suatu daerah.

Semua ilmu pengetahuan itu saling terkait, karena itu sangat mengherankan jika ada kesan bahwa ilmu kedokteran lebih keren dari ilmu sastra. Ilmu Teknik lebih keren dari pertanian. Keterbatasan ilmu pengetahuan kita membutuhkan dialog dengan berbagai ilmu untuk menjawab persoalan masyarakat.

Seorang pemain bola atau pemain bulu tangkis perlu belajar dengan ahli fisika dan matematika dalam rangka optimalisasi karirnya sebagai olahragawan. Betapa hebatnya, jika pemain bola belajar fisika dalam menendang bola. Dalam fisika kita mengenal gerak parabola. Demikian juga cara mengatasi lapangan yang berbeda, tentu membutuhkan ilmu fisika soal gesekan.

Ilustrasi.

Bagaimana cara agar anak kita senang berdialog dengan temannya agar wawasannya luas?

Dalam kondisi inilah kita latih anak kita untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kepekaan sosial ini membuat anak senang berpikir untuk menolong orang lain dan lama kelamaan akan berpikir besar untuk banyak orang. Kepekaan sosial ini menyadarkan si anak untuk mencari seluruh ilmu pengetahuan untuk menolong orang.

Berangkat dari titik “ingin menolong orang” akan membuat dia belajar banyak tentang samudera ilmu pengetahuan. Jika anak mau menolong yang diperlakukan tidak adil, maka dia akan belajar hukum. Jika anak mau menolong petani miskin, dia akan berdialog dengan ahli pertanian.

Kesadaran akan keterkaitan ilmu pengetahuan, maka satu sama lain saling ketergantungan. Ilmu pengetahuan apapun sama nilainya. Terpenting ilmu pengetahuan itu untuk menjawab kebutuhan masyarakat masa kini dan menyiasati resiko yang akan muncul hari esok.

Ketika anak senang dengan ilmu pengetahuan, maka anak itu akan menyenangkan. Hanya, orang tua harus mengontrol anak agar persepsi bahwa ilmu A lebih keren dari ilmu B adalah kekeliruan.

Mari kita ajarkan anak sejak dini bahwa ilmu pengetahuan itu luas dan tujuannya untuk peradaban manusia dan kelestarian alam.(*)

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: AnakGugur ManurungGurmanMenerapkan Makna Eksak Non Eksak Seni Budaya dan Olahraga kepada AnakOpiniOpini GurmanStaf Ahli Komisi VI DPR RI
ShareTweetSend

Related Posts

Ini Kata Mabes Polri Soal Polisi di Jambi Buka Sel Agar Tahanan Bisa Peluk Anaknya

Ini Kata Mabes Polri Soal Polisi di Jambi Buka Sel Agar Tahanan Bisa Peluk Anaknya

Maret 27, 2023
Perang Israel – Hamas dan Kekeliruan yang Beredar di Masyarakat

Perang Israel – Hamas dan Kekeliruan yang Beredar di Masyarakat

Juni 10, 2021
Proteksi Potensi Aliran Dana Korupsi ke Gereja

Proteksi Potensi Aliran Dana Korupsi ke Gereja

Januari 27, 2021

Tatkala Aktivis Lingkungan yang Tulus dan Menarik Menjadi Terpidana

Januari 8, 2021

Implementasi Prinsip Legalitas Standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Terhadap Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan Timur

Desember 28, 2020
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?