• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Sang Penjaga Peradaban Pergi di Antara Angin Kampus dan Taman Kota

Sang Penjaga Peradaban Pergi di Antara Angin Kampus dan Taman Kota

April 26, 2026
Jelang Kongres PIKI, Michael Wattimena – Penrad Siagian  Deklarasi Siap Bawa Perubahan

Jelang Kongres PIKI, Michael Wattimena – Penrad Siagian Deklarasi Siap Bawa Perubahan

April 26, 2026
Ketum Terpilih PKC Maluku Hasil Konfercab VIII Pimpin Aksi Damai

Ketum Terpilih PKC Maluku Hasil Konfercab VIII Pimpin Aksi Damai

April 26, 2026
ADVERTISEMENT
Menko Zulkifli Dorong Percepatan Pembangunan Sumbagsel

Menko Zulkifli Dorong Percepatan Pembangunan Sumbagsel

April 26, 2026
PT Pertamina Didesak Audit Menyeluruh Barcode BBM Subsidi di Manokwari Papua Barat

PT Pertamina Didesak Audit Menyeluruh Barcode BBM Subsidi di Manokwari Papua Barat

April 26, 2026
Otsus Merupakan Hasil Konsensus Pemerintah Indonesia dan Orang Papua 

Otsus Merupakan Hasil Konsensus Pemerintah Indonesia dan Orang Papua 

April 26, 2026
Pengesahan UU PPRT, Tonggak Sejarah dan Hadiah Negara kepada Pekerja Menyambut Peringatan Hari Buruh Satu Mei

Pengesahan UU PPRT, Tonggak Sejarah dan Hadiah Negara kepada Pekerja Menyambut Peringatan Hari Buruh Satu Mei

April 26, 2026
Wali Kota Bekasi Buka Kejurkot U-15 Voli Pasir, Dorong Lahirnya Atlet Muda Berprestasi

Wali Kota Bekasi Buka Kejurkot U-15 Voli Pasir, Dorong Lahirnya Atlet Muda Berprestasi

April 26, 2026
Kelompok pro Papua Merdeka Minta, Belanda Hentikan Penjualan Senjata ke Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kelompok pro Papua Merdeka Minta, Belanda Hentikan Penjualan Senjata ke Negara Kesatuan Republik Indonesia

April 26, 2026
Menghayati Spirit Gerakan Mambesak

Menghayati Spirit Gerakan Mambesak

April 26, 2026
Presiden Prabowo Terima Menteri Investasi Dorong Percepatan Hilirisasi di 13 Lokasi

Presiden Prabowo Terima Menteri Investasi Dorong Percepatan Hilirisasi di 13 Lokasi

April 25, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Senin, April 27, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Ragam Opini

Sang Penjaga Peradaban Pergi di Antara Angin Kampus dan Taman Kota

April 26, 2026
in Nasional, News, Ragam Opini
0
0
SHARES
13
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sang Penjaga Peradaban Pergi di Antara Angin Kampus dan Taman Kota

Oleh 

  Selwa Kumar

Suatu hari itu penting menjaga tondi.Tatkala matahari bergerak-edar perlahan dari Zuhur menuju Ashar. Cahayanya tidak lagi tegak, melainkan condong, seperti ingin singgah lebih lama di sebuah kampus yang rindang—tempat angin bebas bermain dari delapan penjuru, tanpa berani korupsi.

Di sana berdiri sebuah gedung terbuka: Gedung Pancasila. Menghadap bulevard USU: Jalan Universitas.Tidak megah, tapi semangatnya hidup. Hari itu, Jumat di bulan Mei 1993, ruang itu dipenuhi suara—diskusi, tawa, dan sesekali, puisi.

Sayup-sayup terdengar seorang pria membaca puisi.

Suara itu tidak keras, tapi mengikat. Seperti akar yang tabah menahan tanah agar tidak longsor oleh penyakit lupa.

Diskusi membedahi Kota Medan sedang berlangsung. Nama-nama tenar yang mencintai elok kotanya hadir seperti mozaik intelektual: Dr. Syafri Syahrin dari UGM, moderator Drs. Syaifuddin Mayudin dari Sejarah USU, para wartawan, seniman, aktivis—semua duduk dalam satu lingkaran yang sama: percakapan.

Di antara badan dan jiwa merdeka mereka, aku duduk. Pas di samping Pengaduan Z. Lubis.

“Siapa pria yang baca puisi itu?” tanyaku.

“Jaya Arjuna,” jawabnya singkat.

Nama itu meluncur begitu saja. Tapi entah kenapa, seperti ada gema panjang di belakangnya.

Tak lama, pria itu—berbadan kekar, agak rendah, rambut panjang—mendekat. Dia menyalami satu per satu. Ketika tangannya menjabatku, ada sesuatu yang terasa: hangat, tapi juga seperti menyimpan bara.

Diskusi berakhir, tapi percakapan tidak.

Kami berkumpul di luar, bercakap hingga menjelang magrib. Lalu mereka ke mushola Fakultas Sastra USU. Aku tetap di bangku batu, di bawah pohon flamboyan itu—tempat tadi puisi dilahirkan.

Sore itu, aku tidak tahu bahwa aku sedang menyaksikan awal dari sebuah persahabatan panjang. Juga, sebuah jejak yang kelak akan terasa kehilangan ketika dia hilang.

Tahun-tahun berlalu seperti daun gugur di taman-taman kota Medan. Diskusi taman menjadi judul dan lokasi diskusi kami soal Medan dulu bertitel tanah Deli.

Taman Budaya Medan menjadi titik temu, titik diskusi, titik api. Kopi, diskusi, puisi, Deli—semuanya bercampur tanpa sekat yang tak perlu. Tapi, bang Jaya Arjuna selalu ada. Bersama Raswin Hasibuan, Ben Pasaribu, Atok Ai, Barani Nasution, Muksin Lubis—nama-nama yang tidak sekadar hadir, tapi menghidupi ruang publik Diskusi Taman.

Di sana, kota bukan sekadar sitis bangunan. Kota itu hidup, tumbuh, meleak, dibaca, disesapi, ditafsirkan, dikritik—dan dicintai.

Sejak tahun 2000, kami membuat “Diskusi Taman itu. Tidak di hotel bernama taman. Tidak di ruang ber-AC. Tapi di sebenar taman kota, yang awal mula kampus ada, filsuf Yunani menularkan Hermes-nya, pesan kebenaran-kebajikan a la sang Dewa.

Angin jadi moderator. Pohon jadi saksi. Topiknya: lingkungan, kota, sosial, budaya, dan kehidupan.

Bang Jaya tidak hanya hadir—dia sosok yang menggerakkan. Dia bukan hanya sastrawan. Dia adalah defenisi sang penjaga ruang hidup, penjaga percakapan, penjaga nurani kota.

KET. FOTO: Selwa Kumar//FOTO: Istimewa

Jaya Arjuna percaya: taman bukan sekadar ruang hijau. Tapi ruang berpikir.

Lalu pagi itu datang. Matahari muncul dari balik pohon beringin di Jalan Tanjung. Aku dan egoku runtuh, merendahkan hati di sebuah taman mungil di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Aku terbangun di bangku panjang kayu, di depannya sebuah rumah bercat putih di simpang Jalan Cendana.

Ada sesuatu yang ganjil. Seperti ada yang hilang, tapi entahlah. Aku belum tahu apa.

Aku meraih ponsel. Membuka WhatsApp. Grup Forum Anak Medan. Duh, di sana, kabar itu berdiri dingin:
Ir. Jaya Arjuna telah wafat.

Dunia seperti berhenti beberapa detik. Lalu jatuh. Aku duduk. Linglung. Kosong. Seperti taman tanpa suara.

Menjelang siang, pesan masuk dari bang Muhammad Joni: “Kita buat tulisan kenangan baik untuk bang Jaya.”

Itu bukan ajakan. Itu panggilan.

Kami menulis. Satu per satu. Dari kenangan yang tercicir, dari percakapan yang masih menggantung di udara.

Tulisan-tulisan itu cepat menyebar ke media online ibukota: KBAnews, Jakarta Satu, Zona Terbang, Pribumi. Nama-nama sahabat ikut mengalir: Taufik Umar Dhani, Yance, Ludhi A. Tayeb, Ghazali Situmorang, Abidinsyah Siregar, Idrus Abdullah, Norlapong, dan karib lainnya.

Lalu datang satu tangan yang mengikat semuanya: Sugeng Satya Dharma.

Seorang sastrawan yang bekerja dalam sunyi. Mengumpulkan, menyunting, merangkai. Tanpa gemuruh. Tanpa sorot lampu.

Dari kerja itu, lahirlah buku:

“Jaya Arjuna: Sang Penjaga Peradaban.”

Bukan sekadar buku. Tapi rumah bagi kenangan.

Di dalamnya ada puisi, cerpen, naskah drama, tulisan lepas—dan yang paling penting: cinta dari para sahabat.

Seratus hari setelah kepergian Bang Jaya, buku itu terbit.

Seperti doa yang akhirnya menemukan bentuk.

Bang Jaya mungkin telah pergi. Tapi ia tidak benar-benar hilang.

Dia masih ada di taman-taman yang pernah kita duduki.
Di kopi yang kita teguk tanpa gula. Di lorong puisi yang kita baca tanpa mikrofon.

Nun, di setiap orang yang masih percaya—
bahwa kota harus punya jiwa. Bahwa manusia harus tetap berpikir.
Bahwa puisi tidak boleh mati.

Sebab di balik tubuhnya yang sederhana, Bang Jaya adalah penjaga.

Bukan penjaga gedung.
Bukan penjaga jabatan.
Tapi penjaga peradaban.

 

Penulis adalah Pemerhati Sosial Budaya Kemasyarakatan, Peserta Diskusi Taman, Alimni Sastra Melayu USU, PP IKA USU Bidang Seni dan Budaya domisili di Medan.

Komentar Facebook

ShareTweetSend

Related Posts

Jelang Kongres PIKI, Michael Wattimena – Penrad Siagian  Deklarasi Siap Bawa Perubahan

Jelang Kongres PIKI, Michael Wattimena – Penrad Siagian Deklarasi Siap Bawa Perubahan

April 26, 2026
Ketum Terpilih PKC Maluku Hasil Konfercab VIII Pimpin Aksi Damai

Ketum Terpilih PKC Maluku Hasil Konfercab VIII Pimpin Aksi Damai

April 26, 2026
Menko Zulkifli Dorong Percepatan Pembangunan Sumbagsel

Menko Zulkifli Dorong Percepatan Pembangunan Sumbagsel

April 26, 2026

PT Pertamina Didesak Audit Menyeluruh Barcode BBM Subsidi di Manokwari Papua Barat

April 26, 2026

Otsus Merupakan Hasil Konsensus Pemerintah Indonesia dan Orang Papua 

April 26, 2026
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?