
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Respons keras dilayangkan oleh Amerika Serikat dan Inggris terkait dugaan adanya kasus kekerasan seksual hingga pemerkosaan yang diterima oleh perempuan Muslim Uighur di kamp detensi di Xinjiang, China.
“Kekejaman ini mengejutkan hati nurani dan harus dihadapi dengan konsekuensi serius,” kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), menegaskan kembali pandangan pemerintah, bahwa China sedang melakukan “genosida” terhadap etnis Muslim Uighur, dikutip dari AFP, Jumat (5/2).
AS bersama sekutunya akan mengutuk kekejaman terhadap Uighur. Pun terkait tindakan tegas yang akan diambil.
“Kami akan berbicara secara konsisten dan bersama-sama dengan sekutu dan mitra untuk mengutuk kekejaman ini, dan kami akan mempertimbangkan semua hal yang tepat untuk mempromosikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab dan mencegah pelanggaran di masa depan,” kata juru bicara itu.
Sampai saat ini, AS masih memberlakukan sanksi kepada pejabat dan perusahaan Xinjiang atas dugaan pelanggaran terhadap etnis Muslim Uighur.
Sementara itu, Menteri luar Negeri Inggris untuk urusan Asia, Nigel Adams, mengatakan laporan BBC mengungkapkan secara jelas kejahatan terhadap Uighur.
“Bukti skala dan tingkat keparahan pelanggaran ini sekarang sangat luas, itu melukiskan gambaran yang benar-benar mengerikan,” jelasnya kepada parlemen.
“Pemerintah berkomitmen untuk mengambil tindakan tegas sehubungan dengan Xinjiang,” tegasnya.
Dalam penyelidikan yang panjang berdasarkan kesaksian para saksi, dilansir dari BBC melaporkan dugaan pemerkosaan sistematis, pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap para perempuan Uighur oleh polisi dan penjaga di wilayah barat Xinjiang.
Seorang saksi mata menyebut para perempuan Uighur yang ditahan diperkosa secara berkelompok, dilecehkan dengan tongkat listrik, hingga disiksa dengan sengatan listrik.
“Jeritan bergema di seluruh gedung,” ujar salah satu dari saksi.
Laporan itu juga memicu kemarahan dan seruan bagi China untuk memberikan akses kepada pengawas HAM PBB untuk mengunjungi Xinjiang.
Kementerian Luar Negeri China menolak penyelidikan BBC dan menegaskan laporan dugaan kekerasan seksual terhadap Uighur salah.
Xinjiang adalah rumah bagi sebagian besar minoritas Muslim Uighur. Mereka mengalami tindakan keras keamanan besar-besaran dari pasukan China dalam beberapa tahun terakhir sebagai tanggapan atas kerusuhan separatis.
Kelompok HAM Internasional meyakini ada satu juta orang Uighur dan Muslim berbahasa Turki lainnya ditahan di kamp-kamp atau detensi di Xinjiang.













