
Sumenep, satukanindonesia.com – Turnamen Piala Dunia tidak sekadar menjadi panggung perebutan gelar juara. Ajang empat tahunan ini juga diharapkan mampu meninggalkan dampak besar bagi perkembangan sepak bola dunia, baik dari sisi industri, budaya, maupun kualitas permainan.
Harapan tersebut disampaikan Presiden Madura United FC, Achsanul Qosasi.
Tokoh asal Madura yang akrab disapa Prof. AQ itu berharap penyelenggaraan Piala Dunia kali ini dapat menghadirkan pengaruh yang signifikan bagi masa depan sepak bola.
“Piala Dunia kali ini semoga memberikan dampak besar bagi perkembangan sepak bola,” ujar Prof. AQ saat membagikan pandangannya mengenai perjalanan sejarah Piala Dunia, Minggu (21/6).
Dalam refleksinya, Achsanul Qosasi mengajak publik mengenang kesan mendalam yang ditinggalkan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Menurutnya, edisi tersebut memiliki warna tersendiri yang sulit dilupakan, baik dari sisi budaya maupun lahirnya para pemain kelas dunia.
Ia menyebut lagu resmi Piala Dunia 2010 sebagai salah satu anthem terbaik sepanjang sejarah. Irama dan nuansanya dinilai mampu membangun semangat dan menjadi identitas yang kuat bagi turnamen tersebut.
Selain itu, suara vuvuzela yang khas juga menjadi simbol yang melekat dengan Piala Dunia Afrika Selatan.
Meski kerap dianggap mengganggu, terompet tradisional itu justru menghadirkan atmosfer unik yang membedakan turnamen tersebut dari edisi lainnya.
Piala Dunia 2010 juga menjadi panggung bagi para bintang besar. Nama-nama seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Andrés Iniesta, serta Asamoah Gyan menjadi bagian dari generasi emas yang menghiasi turnamen tersebut.
Meski demikian, dalam aspek penyelenggaraan dan kepuasan para peserta, Prof. AQ menilai Piala Dunia 2006 di Jerman masih menjadi standar terbaik. Menurutnya, kualitas pelayanan bagi suporter maupun tim peserta, ditambah atmosfer kompetisi yang luar biasa, menjadikan turnamen tersebut sebagai salah satu yang paling berkesan.
Ia juga menyinggung momen dramatis di partai final ketika Zinedine Zidane melakukan insiden terkenal yang berujung kartu merah. Peristiwa itu menjadi bagian dari sejarah yang masih dikenang para pecinta sepak bola hingga kini.
Bagi Achsanul Qosasi, perpaduan antara kualitas penyelenggaraan seperti yang ditunjukkan Jerman pada 2006 dan kekayaan budaya yang mewarnai Afrika Selatan pada 2010 diharapkan dapat hadir dalam Piala Dunia saat ini.
Dengan demikian, turnamen terbesar di dunia tersebut tidak hanya menghadirkan juara, tetapi juga memberikan warisan berharga bagi kemajuan sepak bola global. (Rls/Yos)












