• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Jika Aku Memiliki Lebih dari Satu Nyawa

Jika Aku Memiliki Lebih dari Satu Nyawa

Juni 21, 2026
Ribka Haluk Dampingi Wapres RI Gibran Kunker di Papua Barat

Ribka Haluk Dampingi Wapres RI Gibran Kunker di Papua Barat

Juni 21, 2026
Pemkab Teluk Bintuni Bangun Dermaga Rp3,5 Miliar di Distrik Kamundan

Pemkab Teluk Bintuni Bangun Dermaga Rp3,5 Miliar di Distrik Kamundan

Juni 21, 2026
ADVERTISEMENT
Indonesia Abaikan Ratusan Ribu Pengungsi Internal di Tanah Papua

Indonesia Abaikan Ratusan Ribu Pengungsi Internal di Tanah Papua

Juni 21, 2026
Prediksi BMKG Cuaca Jakarta Didominasi Cerah Kecuali di 2 Wilayah Ini

Prediksi BMKG Cuaca Jakarta Didominasi Cerah Kecuali di 2 Wilayah Ini

Juni 21, 2026
Masyarakat Adat di Bintuni Adukan PT Petroenergy Utama Wiriagar

Masyarakat Adat di Bintuni Adukan PT Petroenergy Utama Wiriagar

Juni 21, 2026
122.931 Warga di Tanah Papua Masih Hidup di Pengungsian

122.931 Warga di Tanah Papua Masih Hidup di Pengungsian

Juni 21, 2026
Golkar Nilai Jokowi Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode Patahkan Isu Dua Matahari

Golkar Nilai Jokowi Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode Patahkan Isu Dua Matahari

Juni 21, 2026
Otorita IKN Bersama Bank Indonesia Dorong Kreativitas Pengrajin Wastra Lokal

Otorita IKN Bersama Bank Indonesia Dorong Kreativitas Pengrajin Wastra Lokal

Juni 21, 2026
DKI Jakarta Masuk Peringkat ke-53 Kota Terbaik di Dunia

DKI Jakarta Masuk Peringkat ke-53 Kota Terbaik di Dunia

Juni 21, 2026
Menpora Beberkan Komitmen Prabowo Majukan Olahraga Disabilitas Lewat Sertifikasi Pelatih

Menpora Beberkan Komitmen Prabowo Majukan Olahraga Disabilitas Lewat Sertifikasi Pelatih

Juni 20, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Minggu, Juni 21, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Ragam Opini

Jika Aku Memiliki Lebih dari Satu Nyawa

(Ragam Opini)

Juni 21, 2026
in Ragam Opini
0
0
SHARES
12
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT

Mengenang 56 Tahun Berpulangnya Bung Karno dan Cinta Tanah Air yang Tak Pernah Padam

Oleh. Immanuel Yosua T

Minggu pagi, 21 Juni 1970.

Di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, seorang tokoh yang puluhan tahun hidup di tengah sorak-sorai rakyat sedang menjalani detik-detik terakhir hidupnya.

Tidak ada podium. Tidak ada pidato yang membakar semangat. Tidak ada lautan manusia yang meneriakkan namanya.

Hanya ruang perawatan yang hening.

Pagi itu, Bung Karno berpulang.

Bangsa ini kehilangan Presiden pertama Republik Indonesia. Dunia kehilangan seorang orator besar. Namun Indonesia sesungguhnya kehilangan sesuatu yang lebih dalam. Negeri ini kehilangan seorang manusia yang sepanjang hidupnya mempersembahkan tenaga, pikiran, bahkan kebahagiaan pribadinya untuk sebuah cita-cita bernama Indonesia.

Ada satu kalimat Bung Karno yang hingga kini terus dikenang.

“Jika aku memiliki lebih dari satu nyawa, semua nyawa itu akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsaku.”

Kalimat itu memang tidak tercatat sebagai pidato resmi pada satu tanggal tertentu. Namun semangat itu berulang kali diungkapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan dan menjadi cerminan dari seluruh perjalanan hidupnya. Ia bukan sekadar kata-kata indah dari seorang orator. Ia adalah kesaksian hidup seorang pejuang yang telah akrab dengan penjara, pengasingan, tekanan politik, dan penderitaan.

Di balik kalimat itu berdiri seorang patriot.

Namun lebih dari itu, berdiri pula seorang religius nasionalis.

Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan Hubbul Wathan Minal Iman, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Bung Karno mungkin tidak mengutip kalimat itu secara eksplisit. Namun perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa nasionalisme baginya bukanlah sekadar ideologi politik. Mencintai Indonesia merupakan panggilan moral. Sebuah tanggung jawab yang lahir dari kesadaran bahwa bangsa ini adalah rumah bersama yang harus diperjuangkan.

Karena itu, titik berpulang bukanlah akhir dari pengabdian.

Titik berpulang adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang.

Bung Karno bukan sekadar pasukan berani mati yang takut hidup.

Ia justru berani hidup untuk sebuah perjuangan.

Ia berani menghadapi penjara Sukamiskin. Ia menjalani pengasingan di Ende dan Bengkulu. Ia menerima berbagai fitnah dan tekanan. Bahkan pada tahun-tahun terakhir hidupnya, ia harus menghadapi kesunyian yang mungkin tidak pernah dibayangkannya.

Tetapi semua itu tidak pernah mengurangi cintanya kepada Indonesia.

Sebab tidak semua orang mampu mati demi sebuah cita-cita.

Tetapi lebih sedikit lagi orang yang sanggup hidup puluhan tahun untuk memperjuangkannya.

Semangat itulah yang kembali ia gaungkan dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1964 yang dikenal sebagai Tahun Vivere Pericoloso atau Tavip. Bung Karno meminjam istilah Italia yang berarti hidup dalam tantangan.

Banyak orang salah memahami ungkapan itu seolah-olah mengajak bangsa ini hidup dalam bahaya.

Padahal Bung Karno sedang mengingatkan bahwa bangsa yang besar tidak boleh larut dalam kenyamanan.

Bangsa yang besar tidak boleh kehilangan keberanian.

Bangsa yang besar tidak boleh hidup tanpa cita-cita.

Vivere Pericoloso adalah keberanian untuk memikul risiko demi masa depan yang lebih baik.

Ia adalah keberanian untuk tetap berdiri ketika badai datang.

Ia adalah keberanian untuk tidak menyerah ketika keadaan tidak berpihak.

Dan Bung Karno membuktikannya melalui seluruh hidupnya.

Di balik semangat itu, Bung Karno memiliki sebuah kompas perjuangan yang hingga kini masih relevan. Kompas itu bernama Trisakti.

Berdaulat dalam politik.

Berdikari dalam ekonomi.

Berkepribadian dalam kebudayaan.

Trisakti bukan sekadar slogan yang enak didengar. Ia merupakan cita-cita tentang Indonesia yang mampu menentukan nasibnya sendiri, tidak bergantung kepada bangsa lain, dan tetap memiliki jati diri di tengah perubahan zaman.

Bahkan ketika kekuasaan perlahan menjauh darinya, Bung Karno tidak pernah meninggalkan keyakinan itu.

Ia boleh kehilangan jabatan.

Tetapi tidak kehilangan mimpi.

Ia boleh kehilangan kekuasaan.

Tetapi tidak kehilangan cintanya kepada Indonesia.

Hari ini, lima puluh enam tahun setelah kepergiannya, Indonesia telah berubah. Jalan raya semakin ramai. Gedung-gedung semakin tinggi. Teknologi berkembang demikian cepat. Tetapi berbagai persoalan bangsa pun tidak pernah benar-benar selesai.

Korupsi masih menjadi luka.

Ketimpangan sosial masih terasa.

Polarisasi dan saling mencurigai masih mudah ditemukan di ruang publik.

Media sosial lebih sering dipenuhi kemarahan daripada gagasan.

Sebagian orang sibuk menghujat pemerintah.

Sebagian lainnya memilih menikmati fasilitas negara tanpa merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut memperbaikinya.

Lalu bagaimana dengan kita?

Apakah cukup menjadi penonton?

Apakah cukup mengeluh?

Apakah cukup menyalahkan keadaan?

Atau justru kita sedang terjebak menjadi bangsa yang gemar menuntut, tetapi lupa memberi?

Barangkali Bung Karno telah meninggalkan tiga cermin bagi generasi hari ini.

Cermin pertama adalah kalimat yang sederhana tetapi menggetarkan.

“Jika aku memiliki lebih dari satu nyawa.”

Apakah kita sungguh mencintai Indonesia?

Cermin kedua adalah Vivere Pericoloso.

Apakah kita masih memiliki keberanian untuk hidup bagi sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri?

Dan cermin ketiga adalah Trisakti.

Sudahkah kita ikut membangun Indonesia melalui profesi dan pengabdian kita masing-masing?

Guru dengan kejujurannya.

Wartawan dengan nuraninya.

Dosen dengan keteladanannya.

Pemimpin dengan integritasnya.

Dan rakyat dengan kecintaannya kepada negeri ini.

Lima puluh enam tahun setelah kepergiannya, Bung Karno telah menjadi bagian dari sejarah.

Tetapi sejarah tidak pernah meminta kita sekadar mengenang.

Sejarah meminta kita belajar.

Belajar mencintai Indonesia dengan lebih sungguh-sungguh.

Belajar berani hidup untuk sebuah cita-cita.

Dan belajar mempersembahkan yang terbaik dari hidup yang hanya sekali ini bagi bangsa yang kita cintai.

Kita memang tidak memiliki lebih dari satu nyawa.

Tetapi satu kehidupan yang dianugerahkan Tuhan sesungguhnya sudah cukup untuk tidak berhenti mengabdi kepada Indonesia.

Dan mungkin, itulah warisan paling berharga yang ditinggalkan Bung Karno kepada bangsa ini.

Penulis adalah pemerhati sosial dan praktisi media

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

ShareTweetSend

Related Posts

Ribka Haluk Dampingi Wapres RI Gibran Kunker di Papua Barat

Ribka Haluk Dampingi Wapres RI Gibran Kunker di Papua Barat

Juni 21, 2026
Pemkab Teluk Bintuni Bangun Dermaga Rp3,5 Miliar di Distrik Kamundan

Pemkab Teluk Bintuni Bangun Dermaga Rp3,5 Miliar di Distrik Kamundan

Juni 21, 2026
Indonesia Abaikan Ratusan Ribu Pengungsi Internal di Tanah Papua

Indonesia Abaikan Ratusan Ribu Pengungsi Internal di Tanah Papua

Juni 21, 2026

Prediksi BMKG Cuaca Jakarta Didominasi Cerah Kecuali di 2 Wilayah Ini

Juni 21, 2026

Masyarakat Adat di Bintuni Adukan PT Petroenergy Utama Wiriagar

Juni 21, 2026
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?