
Jakarta, satukanindonesia.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan aturan baru berupa insentif untuk mempercepat pengembangan minyak dan gas bumi nonkonvensional (MNK) di Indonesia.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah tengah merevisi sejumlah regulasi guna mempercepat pengembangan migas nonkonvensional.
“Kami coba revisi beberapa peraturan yang memungkinkan untuk kami bisa percepat (pengembangan MNK),” ujar Laode saat ditemui di sela-sela IPA Convex di Tangerang, Banten, dilansir dari pantau. com, Rabu (20/5) malam.
Ia menjelaskan pemerintah telah membahas rencana pemberian insentif bagi pengembangan MNK dan menargetkan aturan tersebut rampung tahun ini dalam bentuk keputusan menteri.
Menurut Laode, pemerintah sebenarnya telah memiliki aturan terkait pengembangan MNK, namun masih diperlukan revisi untuk memperkuat dukungan terhadap Pertamina.
“Tapi ada beberapa hal yang perlu kami revisi untuk memperkuat dukungan kami ke Pertamina,” ucapnya.
Kementerian ESDM juga telah menggelar rapat bersama Pertamina sebagai badan usaha yang akan mengembangkan migas nonkonvensional di Indonesia.
“Kita baru mulai (mengembangkan MNK), dan Pertamina butuh dukungan di awal-awal. Ada insentif, kemudahan-kemudahan, nah itu kami dukung,” kata Laode.
Laode menyoroti keberhasilan Amerika Serikat dalam memproduksi minyak dalam jumlah besar dan jangka panjang melalui pengembangan migas nonkonvensional.
Ia mengatakan Amerika Serikat telah lebih dulu mengembangkan MNK dan Indonesia ingin mengikuti keberhasilan tersebut.
“Memang migas nonkonvensional ini andalan kita ke depan. Kita lihat produksi terbesar mereka (Amerika Serikat) kan karena migas nonkonvensional. Kami juga mau itu,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengungkapkan Indonesia memiliki potensi sumber daya mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO) untuk pengembangan migas nonkonvensional.
Oki menilai potensi tersebut menjadi peluang besar di tengah semakin terbatasnya sumber daya migas konvensional atau berakhirnya era easy energy.
Menurut dia, tantangan utama saat ini adalah menghadirkan regulasi dan kebijakan fiskal yang kompetitif guna mendukung pengembangan sumur migas nonkonvensional.
“Setelahnya, kami akan mengundang mitra-mitra, perusahaan, untuk menciptakan ekosistem seperti yang dimiliki oleh Permian Basin (di Amerika Serikat),” ujar Oki.
Ia menambahkan Pertamina juga menaruh perhatian pada pengembangan sumber daya manusia agar Indonesia semakin siap mengembangkan migas nonkonvensional di masa depan.(***)












