
Kediri, satukanindonesia.com – Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU.
Lebih dari itu, forum tertinggi NU setelah muktamar tersebut diharapkan mampu melahirkan rumusan strategis dalam menjawab persoalan umat, bangsa, dan negara di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua PBNU, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan Munas-Konbes NU merupakan panggung penting bagi para ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama untuk menghadirkan pandangan keagamaan yang responsif terhadap dinamika sosial, ekonomi, pendidikan, hingga perkembangan teknologi digital.
Ia menyebut tema Munas-Konbes tahun ini, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, memiliki makna yang sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Menjaga marwah tidak cukup hanya menjaga integritas organisasi, tetapi juga harus diwujudkan melalui khidmat yang nyata dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujar Khofifah.
Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 ditandai dengan penabuhan kentongan sebanyak sembilan kali oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar didampingi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, Gubernur Khofifah, serta dzuriyah Pondok Pesantren Al Falah Ploso. Simbol tersebut memiliki makna historis tersendiri bagi pesantren yang didirikan KH Ahmad Djazuli Utsman.
Dalam khotbah iftitahnya, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa NU sedang menghadapi tantangan peradaban yang tidak ringan. Karena itu, menurutnya, terdapat tiga agenda strategis yang harus diperkuat.
Pertama, membangkitkan kembali dhamir ijtima’i atau kesadaran sosial agar keberadaan NU semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kedua, membangun opini publik yang berlandaskan moral sehingga tercipta kontrol sosial yang sehat. Ketiga, memperkuat kepemimpinan berbasis jihad dan ijtihad sehingga mampu menjawab berbagai persoalan zaman.
Pesan Rais Aam tersebut, menurut Khofifah, sejalan dengan semangat memperkuat khidmat NU pada abad kedua. Sebab, persoalan yang dihadapi umat saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga menyangkut transformasi digital, ketahanan sosial, penguatan sumber daya manusia, ekonomi umat, hingga tantangan global yang memerlukan pandangan keagamaan yang adaptif.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menilai Munas-Konbes NU 2026 menjadi fase krusial menjelang berakhirnya masa khidmat kepengurusan PBNU hasil Muktamar Lampung. Forum tersebut diharapkan menghasilkan keputusan-keputusan yang tidak hanya memberikan manfaat bagi organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan harapan bagi masa depan jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Munas-Konbes NU 2026 juga menjadi ruang pembahasan puluhan isu strategis yang berasal dari usulan Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang NU dari seluruh Indonesia. Sejumlah agenda yang mencuat antara lain penguatan ekosistem digital, pengembangan sosial keagamaan, tata kelola organisasi, pendidikan, ekonomi umat, hingga isu-isu kebangsaan yang memerlukan pandangan keagamaan yang komprehensif.
Dengan basis pesantren yang kuat dan tradisi musyawarah yang telah teruji selama satu abad, Khofifah optimistis Munas-Konbes NU 2026 akan menghasilkan keputusan-keputusan penting yang mampu memperkuat kontribusi Nahdlatul Ulama dalam menjaga persatuan, membangun peradaban, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.
“Ahlan wa sahlan kepada seluruh peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, penuh hikmah, dan membawa keberkahan serta kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” kata Khofifah (Yos/Gun)













