
PANGKAL PINANG, SatukanIndonesia.Com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto S.Sos.m M.M., mengingatkan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) untuk terus melaksanakan strategi penanggulangan bencana, demi menghadapi potensi ancaman bencana mulai karhutla hingga kejadian lain yang dapat dipicu oleh faktor cuaca dan kondisi tata ruang lingkungan. Strategi itu dimulai dari masa pra-bencana, tanggap darurat dan pascabencana.
Dalam rapat koordinasi yang dilakukan antara BNPB dengan jajaran Pemerintah Provinsi Kepri di Tanjung Pinang, Kamis (3/11), Suharyanto memberikan arahan mulai dari peningkatan kapasitas maupun jumlah sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi di bidang penanggulangan bencana.
Suharyanto berharap SDM yang akan bertugas di lapangan agar disiapkan dari berbagai instansi yang ada di provinsi hingga lingkup kabupaten/kota, desa/kelurahan dan RT/RW. Di samping itu, Suharyanto juga menekankan agar pemerintah daerah setempat membekali seluruh personel dengan pelatihan dan pendidikan khusus kebencanaan.
“Siapkan orangnya, dilatih kemampuannya untuk lebih siap siaga menghadapi bencana,” jelas Suharyanto.
Dalam pelaksanaan penanggulangan bencana menurut Suharyanto, pemerintah daerah juga perlu menyiapkan rencana kontijensi berkelanjutan yang dapat diterapkan sesuai porsi di wilayahnya masing-masing. Rencana kontijensi tersebut harus mencakup seluruh teknis penyusunan skenario kejadian bencana, penetapan tujuan, kebijakan dan strategi penanganan darurat bencana, penetapan struktur komando hingga perencanaan bidang operasi.
“Harus punya rencana kontijensi dalam menghadapi bencana,” kata Suharyanto.
Lebih lanjut, Suharyanto juga menekankan pentingnya sistem peralatan alutsista dalam penanggulangan bencana. Seluruh perangkat, peralatan dan kebutuhan teknis lainnya harus dimiliki oleh pemerintah daerah. Sebab, peralatan menjadi bagian dari indikator kesiapan dan kekuatan setiap daerah dalam penanggulangan bencana.
“Siapkan peralatannya, jika masih kekurangan bisa mengajukan secara terbatas kepada BNPB,” kata Suharyanto.
Khusus untuk masa pra-bencana, hal lain yang perlu juga disiapkan adalah patroli rutin untuk melihat dan memonitor kondisi lapangan untuk melakukan upaya pencegahan dan mitigasi sebelum terjadi bencana. Khususnya untuk memitigasi bencana yang dapat dipicu oleh faktor cuaca, monitoring DAS dan selokan termasuk lereng perbukitan hendaknya dilakukan secara berkala. Sebab, kondisi dan tata kelola lingkungan yang tidak baik dapat meningkatkan kerentanan suatu wilayah dari ancaman bencana.
“Patroli! Kalau ada selokan mampet, lihat lereng-lereng apabila ada pohon tumbang,” pinta Suharyanto.













