
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Pedagang kaki lima (PKL) menjadi korban dampak dari kebijakan PPKM Darurat yang diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mayoritas para PKL ini tidak bisa berjualan. Sementara modal mulai habis untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) DIY Mukhlas Madani memaparkan kondisi sekitar 20 ribu PKL di seluruh kabupaten/kota di DIY.
“Yang pasti memang di Yogya adanya (kekuatan ekonomi) di mahasiswa, kedua di wisata. Dua hal ini selama pandemi selama PPKM Darurat ini kan mahasiswa tidak ada di Yogya. Kalau ada sangat kecil dan wisata sedikit. Dua hal ini tidak ada dan sangat memukul pedagang kali lima di Yogya,” kata Mukhlas saat Zoom bersama wartawan, Jumat (9/7).
Terlebih lagi kawasan Malioboro yang tutup dan lampu dimatikan pada malam hari. Para PKL tidak berjualan dan hanya menunggu PPKM Darurat berakhir.
“Bukan hanya omzet yang turun tapi tidak mendapat keuntungan sama sekali,” katanya.
Dari data APKLI DIY jumlah PKL di provinsi ini mencapai 20 ribu. Dari jumlah tersebut hampir 50 persen mereka tutup selama PPKM Darurat. Bahkan banyak yang tidak tahu apakah bisa buka kembali setelah PPKM Darurat karena modal telah habis.
“Ada yang tutup tidak tahu kapan buka karena modal sudah habis untuk biaya hidup,” katanya.
Lanjut Mukhlas, kondisi di kabupaten juga tidak jauh berbeda. Di Bantul dan Gunungkidul yang kekuatan utamanya di pariwisata, membuat PKL terdampak. Penjualan turun 70 sampai 80 persen.
Saat ini yang dibutuhkan para PKL adalah ruang dan waktu untuk berdagang. Beberapa juga membutuhkan stimulan agar bisa memulai usahanya kembali.
“Kalau pun tidak, bantuan untuk hidup sembako dan sebagainya. Sampai saat ini belum ada bantuan. Kami menggandeng mitra untuk membantu mereka. Kalau dari pemerintah belum ada,” ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Sosial DIY Endang Patmintarsih mengaku pihaknya masih menyisir anggaran untuk membantu masyarakat terdampak corona yang belum menerima bansos karena belum masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
“Baru nyisir anggaran. Belum bisa saya pastikan mungkin kita baru menyisir anggaran kita melakukan apa yang bisa untuk bantuan ke saudara kita terdampak,” kata Endang beberapa waktu lalu. (FA/SI).












