
MANOKWARI, satukanindonesia.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat melalui Wakil Gubernur, Mohammad Lakotani membuka Seminar Nasional Pekan Perekonomian Daerah Papua Barat (Papedanomics) 2026, Kamis (27/08/2026).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat bersama Universitas Papua (UNIPA), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Papua Barat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, serta Pemerintah Provinsi Papua Barat.
Papedanomics 2026 mengusung tema “Hilirisasi sebagai Akselerator Transformasi Perekonomian Papua serta Penopang Stabilitas Inflasi Daerah”.
Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan melalui Wagubnya, mengatakan, pemerintah siap mendorong daerah untuk tidak lagi sekadar mengandalkan penjualan bahan mentah, melainkan menggenjot hilirisasi komoditas unggulan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.
Diantaranya, kata Lakotani, langkah strategis yang perlu dilakukan adalah mendorong peningkatan nilai tambah melalui pengolahan komoditas unggulan daerah, yang tidak hanya berhenti pada pengiriman bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Dapat mendorong pemenuhan kebutuhan daerah secara mandiri serta nilai ekonomi dari proses produksi dan konsumsi dapat lebih banyak dinikmati oleh masyarakat dan perekonomian Papua Barat,”katanya.
Langkah tersebut penting, lanjut Wagub, agar Papua Barat tidak terus bergantung pada sektor ekstraktif mentah dan bisa memperluas sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi daerah.
Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Papua Barat mengungkapkan, perekonomian Papua Barat pada 2025 tumbuh sebesar 6,46 persen secara cumulative to cumulative (ctc), meningkat dari 4,94 persen pada tahun sebelumnya. Angka tersebut disebutnya lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen.
“Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa perekonomian Papua Barat berada pada jalur yang semakin baik dan akseleratif, yang tentunya perlu terus kita dorong dan pertahankan bersama, sejalan dengan inflasi yang tetap terjaga pada level 2,59 persen secara tahunan,”ujarnya.
Meski, kata Mohammad Lakotani, capaian tersebut perlu terus didorong dengan penguatan sektor-sektor potensial lain di Papua Barat guna memperluas sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kemandirian dari daerah lain.
Mewakili Pemprov Papua Barat, Lakotani mengapresiasi, penyelenggaraan Papedanomics 2026 yang dinilai menjadi wadah diskusi antarpemangku kepentingan dalam mendorong hilirisasi, khususnya melalui inovasi pengembangan sektor dan komoditas potensial di Papua Barat guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjaga stabilitas inflasi.
Diharapkan semangat kebersamaan antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat yang terjalin melalui Papedanomics dapat terus terjaga sehingga melahirkan terobosan yang mendorong pertumbuhan ekonomi maupun pengendalian inflasi daerah ke depan. [***/GRW]













