• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Pemerintah Gagal, Senator Papua Barat Dukung Revisi Menyeluruh UU Kehutanan

Pemerintah Gagal, Senator Papua Barat Dukung Revisi Menyeluruh UU Kehutanan

Agustus 31, 2026
Wali Kota Bekasi Apresiasi Penampilan Wayang Ajen, Turut Meriahkan Malam Pembuka PNBK Jilid III di Plaza Patriot

Wali Kota Bekasi Apresiasi Penampilan Wayang Ajen, Turut Meriahkan Malam Pembuka PNBK Jilid III di Plaza Patriot

September 1, 2026
Anggaran Bakom Rp1,9 Triliun, Wakil Ketua Komisi III DPR RI : Jangan Sampai Approval Rating Rendah

Anggaran Bakom Rp1,9 Triliun, Wakil Ketua Komisi III DPR RI : Jangan Sampai Approval Rating Rendah

September 1, 2026
ADVERTISEMENT
Eksplorasi SDA Papua Harus Sejalan dengan Manfaat Ekonomi dan Investasi SDM Lokal

Eksplorasi SDA Papua Harus Sejalan dengan Manfaat Ekonomi dan Investasi SDM Lokal

September 1, 2026
DPRD Kota Batam Laporkan Hasil Reses, Dorong Infrastruktur Pendidikan dan Soroti Soal Air Bersih Serta Lowongan Kerja untuk Warga Tempatan

DPRD Kota Batam Laporkan Hasil Reses, Dorong Infrastruktur Pendidikan dan Soroti Soal Air Bersih Serta Lowongan Kerja untuk Warga Tempatan

September 1, 2026
Gelar Paripurna, Fraksi-Fraksi DPRD Batam Sampaikan Pandangan Umum terhadap Ranperda Perubahan APBD 2026

Gelar Paripurna, Fraksi-Fraksi DPRD Batam Sampaikan Pandangan Umum terhadap Ranperda Perubahan APBD 2026

September 1, 2026
13 Tindak Pidana yang Masuk RUU Perampasan Aset Diungkap Komisi III DPR RI

13 Tindak Pidana yang Masuk RUU Perampasan Aset Diungkap Komisi III DPR RI

September 1, 2026
Perkuat Sinergi Tangani Karhutla, Presiden Prabowo Terima Panglima Jilah

Perkuat Sinergi Tangani Karhutla, Presiden Prabowo Terima Panglima Jilah

September 1, 2026
Presiden Prabowo Bahas Sejumlah Isu Strategis bersama Panglima TNI

Presiden Prabowo Bahas Sejumlah Isu Strategis bersama Panglima TNI

September 1, 2026
Papua Barat dan New Caledonia Akan Jadi Isu Utama di KTT PIF

Papua Barat dan New Caledonia Akan Jadi Isu Utama di KTT PIF

September 1, 2026
Konflik Separatis hingga Ekologi dan Sumber Daya Alam di Tanah Papua

Konflik Separatis hingga Ekologi dan Sumber Daya Alam di Tanah Papua

September 1, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Selasa, September 1, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

Pemerintah Gagal, Senator Papua Barat Dukung Revisi Menyeluruh UU Kehutanan

(Fokus Berita)

Agustus 31, 2026
in Fokus Berita
0
0
SHARES
111
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
Lemak Dowansiba, Anggota DPD RI Dapil Papua Barat

JAYAPURA, satukanindonesia.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Papua Barat, Lamek Dowansiba mendukung, Koalisi #ResetKehutanan terkait revisi menyeluruh terhadap Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

Menurutnya, hutan Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia, karena memiliki kawasan hutan hujan tropis yang sangat luas untuk menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.

Namun Pemerintah gagal melindungi Kawasan tersebut, sehingga terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ratusan ribu hektare.

Sebagai Senator muda asal Tanah Papua ini, ia mengemukakan, terlebih khusus untuk wilayah Papua diharapkan pemerintah harus lebih serius dalam melindungi kawasan hutan.

“Karena, Papua ini di kenal juga sebagai wilayah konservasi dan memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Jadi harus ada perhatian serius dalam penanganan atau pencegahan dari pemerintah, agar tidak terjadi Karhutla,”kata Lamek Dowansiba kepada media ini melalui telepon seluler, Senin (31/08/2026).

Ia mengatakan, upaya pencegahan Karhutla membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (Pemda), salah satunya mengimbau kepada masyarakat supaya tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pembakaran hutan dan lahan.

“Bukan hanya Karhutla saja, tapi pemerintah juga harus mencegah kerusakan alam lainnya. Misalnya penambang Emas secara liar atau illegal maupun pembukaan perkebunn kelapa sawit tanpa izin,”sebutnya.

Katanya, perwakilan rakyat di DPD RI dan DPR RI tidak boleh diam melihat persoalan kerusakan kawan hutan terlebih wakil rakyat yang berasal dari Tanah Papua, karena hampir 100 persen semua itu hutan Adat.

“Kita yang ada di parlemen juga tidak bisa terus mengikuti kemauan Negara. Karena kalau kemudian semuanya dilihat dari sisi politik dan investasi. Justru ini akan merugikan masyarakat. Jadi saya pikir kepentingan-kepentingan seperti ini kita abaikan dulu. Hari ini Papua sedang mengalami krisis iklim yang luar biasa, dan bukan saja di Papua tapi hampir seluruh Indonesia,”aku Lamek Dowansiba.

Menurut dia, ketika tidak ada pencegahan yang lebih spesifik melalui revisi UU Kehutanan, maka dipastikan kedepan Papua dan Indonesia secara keseluruhan akan mengalami Karhutla yang mungkin lebih parah.

“Dan jangan salah, jika satwa endemik di kawasan hutan setempat hilang atau punah. Maka suka tidak suka, mau tidak mau revisi UU Kehutanan harus dilakukan,”tegasnya.

Tetapi, menurut Lamek Dowansiba, revisi UU Kehutanan juga harus melibatkan masyarakat Adat dalam pembahasan.

“Jangan hanya dibahas oleh kelompok-kelompok tertentu. Itu juga bahaya. Harus melibatkan Masyarakat adat, sehingga ada pandangan atau pemikiran untuk memboboti undang-undang tersebut nanti,”tutur dia.

Dicecar mengenai Karhutla yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, Lamek Dowansiba mengenaskan, peristiwa Karhutla merupakan cermin buruk tata kelola kehutanan.

“Kalau kita jujur saja, sebenarnya itu kegagalan Pemerintah. Maka Presiden Prabowo sudah harus bertindak tegas, karena ada kelompok-kelompok tertentu yang merusak hutan demi kepentingan investasi,”sebutnya.

Pada kesempatan ini, ia meminta, Komisi IV DPR RI agar fokus melihat persoalan Karhutla yang saat ini terjadi.

“Komisi IV DPR RI harus bijak. Tidak boleh subjektif, kita harus objektif terhadap persoalan Bangsa hari ini. Terutama terkait dengan kelestarian lingkungan yang adalah hutan Adat. Dalam pembahasan rancangan undang-undang harus melibatkan masyarakat adat dan LSM,”tegasnya lagi.

Seperti diketahui, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia mencatat luas Karhutla mencapai 202.004 hektare hingga Juli 2026. Sementara analisis Forest Watch Indonesia (FWI) menggunakan citra satelit MODIS Terra/Aqua hingga Agustus 2026 menemukan 8.918 titik panas di seluruh Indonesia.

Sebanyak 5.119 titik atau sekitar 57 persen berada di Kalimantan, disusul Sumatra sebanyak 1.683 titik atau 18,9 persen.
Dari seluruh titik panas tersebut, 4.953 titik terdeteksi berada di areal perizinan konsesi ekstraktif. Sebanyak 4.508 titik berada di kawasan hutan negara, 1.128 titik di hutan alam, dan 1.222 titik di wilayah adat.

Sementara Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat 56 kasus korupsi sektor kehutanan yang ditindak aparat penegak hukum sepanjang 2010-2025. Kasus-kasus tersebut menimbulkan kerugian negara sekitar Rp4,8 triliun dengan nilai suap mencapai Rp10,2 miliar.

Modus yang ditemukan antara lain penyalahgunaan wewenang sebanyak 13 kasus, kegiatan atau proyek fiktif dan penggelapan masing-masing sembilan kasus, penyalahgunaan anggaran tujuh kasus, suap-menyuap enam kasus, penerbitan izin ilegal lima kasus, serta perdagangan pengaruh satu kasus.

ICW juga mencatat, 108 orang telah terjerat hukum dalam perkara korupsi sektor kehutanan tersebut. Pelakunya berasal dari unsur swasta, aparatur sipil negara, pejabat kehutanan, kepala daerah hingga aparatur desa dan pejabat pertanahan.

Peneliti ICW, Nisa Rizkiah Zonzoa mengatakan, karhutla berulang menunjukkan adanya persoalan tata kelola ketika kawasan yang seharusnya dilindungi justru dapat dieksploitasi melalui izin bermasalah, pengawasan lemah dan praktik korupsi.

Kepala Kampanye Kaoem Telapak, Denny Bhatara menilai, kebakaran berulang pada areal usaha yang sama harus dipandang sebagai indikator kegagalan kepatuhan dan penegakan hukum.

Menurutnya, korporasi yang berulang kali melakukan pelanggaran seharusnya menghadapi konsekuensi lebih berat dibandingkan pelaku yang baru pertama kali melakukan pelanggaran.

Koalisi #ResetKehutanan menilai, momentum karhutla tahun ini beriringan dengan proses revisi UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas DPR RI.

Namun, koalisi mengkritik proses revisi yang dinilai dilakukan secara parsial, tertutup, dan belum melibatkan masyarakat secara bermakna.

Koalisi meminta revisi UU Kehutanan menjadikan riwayat pelanggaran pemegang izin sebagai dasar dalam pengawasan dan evaluasi perizinan. Rekam jejak tersebut mencakup riwayat karhutla, pelanggaran, sanksi administratif, proses hukum hingga kewajiban pemulihan.

Penegakan hukum juga diminta tidak berhenti pada denda atau perintah pemulihan. Untuk pelanggaran berulang, pemerintah perlu memiliki kewenangan yang jelas untuk meningkatkan sanksi, termasuk penghentian kegiatan, pencabutan izin, kewajiban pemulihan, hingga proses pidana terhadap korporasi dan pengurus sesuai tingkat pelanggarannya.

Koalisi mengusulkan tiga agenda utama, yakni memperkuat penanganan karhutla dan perlindungan masyarakat terdampak, mengusut pelaku serta menindak korporasi dan memulihkan lingkungan, serta merevisi UU Kehutanan secara menyeluruh dan partisipatif.

Revisi tersebut diharapkan mencakup transparansi perizinan, pencegahan korupsi dan konflik kepentingan, pengawasan independen, perlindungan hutan alam dan gambut, mekanisme pencabutan izin, serta penegakan hukum terhadap pejabat dan korporasi.

Koalisi juga meminta, proses revisi dilakukan secara terbuka dengan melibatkan masyarakat sipil dan kelompok yang terdampak langsung oleh kerusakan hutan dan Karhutla. [*/GRW]

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: Anggota DPD RILamek DowansibaRevisi UU Kehutanan
ShareTweetSend

Related Posts

Gagal Melindungi Kawasan Hutan, Pemerintah dan DPR RI Didesak Revisi UU Kehutanan

Gagal Melindungi Kawasan Hutan, Pemerintah dan DPR RI Didesak Revisi UU Kehutanan

Agustus 28, 2026
Serukan Dialog Damai, Anggota DPD RI : Papua Jangan Dijadikan Arena Konflik

Serukan Dialog Damai, Anggota DPD RI : Papua Jangan Dijadikan Arena Konflik

Juli 26, 2026
Komisi IV Perlunya Penguatan Aspek Sosial dalam Revisi UU Kehutanan

Komisi IV Perlunya Penguatan Aspek Sosial dalam Revisi UU Kehutanan

Juni 14, 2026

Kekerasan di Tanah Papua Yang Terakumulasi Sejak Lama

Mei 29, 2026

Anggota DPD RI Desak Evaluasi Total Otsus Papua

Maret 5, 2026
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?