
SORONG, satukanindonesia.com — Ribuan Persekutuan Anggota Muda (PAM) Gereja Kristen Injili (GKI) di tanah Papua menggelar temu raya ke-V tahun 2026, di kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, pada tanggal 13 Juli – 15 Juli 2026.
Kegiatan pemuda GKI ini dibuka langsung oleh Ketua Umum Badan Pekerja Am Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th,.
Dalam pembukaan, ia mengajak, pemuda GKI mempersiapkan diri menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi (IPTEK) hingga kebijakan pembangunan Nasional.
“Kita bersyukur kepada Tuhan karena hari ini kita dapat berkumpul dalam ibadah sekaligus pembukaan temu raya kelima Persekutuan Anggota Muda GKI se-Tanah Papua. Pertemuan ini merupakan wadah bagi pemuda gereja untuk membangun persekutuan, memperkuat pelayanan dan mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman yang terus berubah,”kata Andrikus Mofu.

Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini tidak bisa dihindari. Pemuda Papua justru harus memiliki kesiapan agar mampu menghadapi berbagai dinamika yang terus berkembang.
“Kita hidup dalam dunia yang terus berubah. Perubahan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, perkembangan kehidupan masyarakat, maupun berbagai kebijakan pembangunan harus dihadapi dengan hikmat dan pengertian dari Tuhan. Saya berharap pemuda GKI tidak terjebak dalam berbagai persoalan, tetapi mampu melihat perubahan itu sebagai tantangan untuk mempersiapkan diri,”tutur Mofu.
Mofu mengatakan, Indonesia tengah mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, kata dia, pemuda Papua tidak boleh tertinggal dalam meningkatkan kualitas diri.
“Pemuda GKI harus siap menghadapi perubahan. Kita harus membangun kualitas diri, meningkatkan kemampuan, menjaga iman, dan menjadi generasi yang mampu memberi jawaban atas tantangan zaman,”kata Mofu.
Pada kesempatan ini, Bupati Sorong, Johny Kamuru berharap, kegiatan temu raya menjadi ruang lahirnya generasi muda yang mampu membawa perubahan bagi Papua.
“Saya berharap pemuda-pemuda ini menjadi pemuda yang membangun serta menjadi agen perubahan yang berdampak positif bagi masyarakat, gereja, dan pemerintah daerah di seluruh Tanah Papua,”ujar Johny.
Bupati juga mengingatkan, pentingnya menjaga persatuan seluruh wilayah di Tanah Papua.
“Ada satu slogan yang selalu kita sampaikan, yaitu satu untuk enam dan enam untuk satu. Enam provinsi di Tanah Papua harus tetap berjalan bersama,”kata Kamuru.
Sementara Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu menilai, Temu Raya berlangsung pada situasi ketika Papua sedang menghadapi berbagai tantangan.
“Pertemuan ini dilaksanakan pada momentum yang sangat tepat. Situasi global, situasi nasional, bahkan situasi yang kita hadapi hari ini menunjukkan bahwa kita tidak sedang baik-baik saja,”kata Elisa.
Untuk itu, Elisa Kambu mengajak, anak-anak muda mulai mempersiapkan diri dan meninggalkan cara-cara yang tidak menghasilkan perubahan.
“Kita sudah melakukan banyak hal. Kita sudah demo. Kita sudah bakar ban di jalan. Mengapa? Karena cara-cara anarkis bukan lagi dunianya kita. Sekarang kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Untuk membangun Tanah Papua kita harus percaya pada kemampuan kita sendiri,”ujarnya.
Gubernur juga mengingatkan, generasi muda agar menjauhi minuman keras dan narkoba serta tetap menjaga identitas sebagai pengikut Kristus.
“Anak-anak muda tidak bisa mabuk. Tidak bisa terjerumus narkoba. Mental harus dipersiapkan dengan baik. Generasi yang hadir hari ini harus menjadi generasi yang lebih baik dan lebih pintar,”pungkas Kambu. [GRW]











