
MERAUKE, satukanindonesia.com – Guna memperkuat peran akademisi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pendidikan tinggi, para dosen orang Papua dari empat kabupaten di Provinsi Papua Selatan membentuk Ikatan Dosen Asli Papua Selatan (IDAPS).
Pembentukan organisasi tersebut ditandai melalui Kongres I IDAPS diikuti sekitar 250 peserta dari 13 perguruan tinggi yang ada di Papua Selatan, di Auditorium Kantor Bupati Merauke, Senin (15/06/2026).
Lambertus Iriga, Ketua Panitia Kongres I IDAPS mengatakan, organisasi itu lahir dari keprihatinan atas masih minimnya jumlah dosen asli Papua Selatan yang mengajar di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
Menurutnya, hingga kini belum ada wadah resmi yang menghimpun dosen asli Papua Selatan dari Kabupaten Merauke, Mappi, Asmat, dan Boven Digoel dalam satu organisasi profesi.
“Kami ingin membangun rumah bersama bagi para dosen asli Papua Selatan agar dapat saling mendukung, memperkuat kapasitas akademik, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah,”kata Iriga.
Dijelaskannya, salah satu tujuan kongres adalah membentuk organisasi profesi yang mampu memperkuat jejaring akademik antar dosen asli Papua Selatan sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi berbasis kebutuhan dan kearifan lokal masyarakat Papua Selatan.
Iriga menyebut jumlah dosen asli Papua Selatan masih jauh dari ideal. Berdasarkan data yang dihimpun panitia, dari sekitar 485 dosen di Universitas Musamus Merauke, hanya 16 orang yang merupakan dosen asli Papua Selatan. Sementara di sejumlah perguruan tinggi swasta, jumlah dosen asli Papua yang terdata sekitar 13 orang.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya bersama untuk mendorong lahirnya lebih banyak akademisi dan peneliti asli Papua di masa mendatang.
Asisten I Sekretaris Daerah kabupaten Merauke, Januarius Katmo mengatakan, pemerintah daerah (Pemda) mendukung upaya penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi.
Ia berharap, keberadaan IDAPS dapat menjadi mitra pemerintah dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Papua Selatan.
Katmo juga berharap, semakin banyak perguruan tinggi yang hadir dan berkembang di wilayah Papua Selatan sehingga akses pendidikan tinggi bagi masyarakat, khususnya orang Papua, semakin terbuka.
Sementara Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menilai, pembentukan IDAPS penting untuk memperkuat keterlibatan orang Papua dalam dunia akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Menurut Apolo, dosen tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik, tetapi juga ilmuwan yang memiliki tanggung jawab melakukan penelitian dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
Ia mendorong generasi muda Papua Selatan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam dunia akademik, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Anak-anak asli Papua Selatan jangan hanya terlibat dalam pelayanan pemerintahan atau politik, tetapi juga harus aktif mengambil bagian sebagai ilmuwan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,”ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap organisasi yang baru dibentuk tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Selatan berkomitmen memberikan bantuan awal sebesar Rp100 juta setelah kepengurusan definitif IDAPS terbentuk melalui kongres. [GRW]













